Masukkan Code ini K1-43E2AC-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

kumpulblogger

Sabtu, 24 Oktober 2009

Yahudi dan akhir Zaman menurut Al Quran dan Al kitab

SAMPAI hari ini, korban tewas pembantaian warga Muslim di Jalur Gaza hampir mencapai 1000 orang. Sedang korban luka hampir 4000 orang. Meski semua orang menangis dan mengecam, Zionis-Israel, dengan dukungan Amerika tak bertindak apa-apa. Janganlah berharap Amerika memberi sanksi. Bahkan sekedar mengecam saja, tak akan dilakukan. Bandingkanlah, andai kata yang melakukan ini adalah kaum Muslim. Mungkin, semua pesawat tempur dan pasukan Amerika sudah langsung menyerbu. Lihat kasus invasi Iraq dan Afghanistan.

Pengabaian dunia terhadap pembantaian massal (genosida) yang secara terang-terangan ini adalah sebuah pemandangan paling memuakkan dan memalukan. Bahkan, Shlomo Ben Ami, mantan Menlu Israel dalam artikel di Jakarta Post (entah apa maksud koran ini yang justru memberi fasilitas suara penjajah ketika itu) justru seolah melegalkan aksi-aksi pembantaian dan pembunuhan massal yang dilakuan Israel tersebut.

Pertanyaannya, mengapa semua ini terjadi? Mengapa Amerika dan dunia Barat yang selama ini paling sering menjadikan HAM dan demokrasi tiba-tiba menelan ludah mereka sendiri ketika Israel melawan nilai-nilai HAM dan demokrasi?

Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa di zaman terbuka --dimana masyarakat—senantiasa berharap menghargai pandangan dan nilai-nilai kemanusiaan, justru ada kaum bernama Yahudi-Israel paling sering melanggarnya?

Sebelum menjawab itu, ada baiknya kita memahami dulu karakter bangsa Yahudi (Israel). Mengapa bangsa yang kecil ini tiba-tiba begitu beringas dan sering tidak mematuhi kesepakatan dan nilai-nilai bersama. Secara umum, sejarahnya amat panjang. Hampir semua catatan sejarah –terutama— Al-Kitab dan Al-Quran menjelaskan perjalannya dengan rinci dan detil.

Kita ketahui dari firman Allah swt:

"Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan meyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” [QS. al-Isra’: 4]

Kerusakan pertama telah terjadi dan Yahudi pun dikutuk hingga tak memiliki tanah air sampai akhirnya mencaplok bumi suci Palestina sebagai bagian dari skenario langit untuk membasmi bangsa babi dan monyet itu secara keseluruhan akibat kesombongan mereka. Hal itu telah diisyaratkan dalam firman-Nya:

“Dan Kami berfirman sesudah itu kepada bani Israil: Tinggallah di muka bumi, maka apabila datang janji terakhir niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur”. [QS. al–Isra’: 104]

Kebiadaban Israel yang Cuma berjumlah 7 jutaan jiwa itu memang menjadi pertanda akan segera berakhirnya zaman ini. Bayangkan, jumlah umat Islam se dunia 1,5 milyaran, namun tak sanggup menghentikan kebrutalan Israel di Palestina. Bahkan kita melihat dengan mata kepala sendiri lewat televisi bagaimana Israel dengan pongahnya memborbardir Gaza, seolah kita membiarkan Israel membantai muslim Palestina. Tak berkutik sedikit pun, kecuali demo dan bantuan kemanusiaan. Padahal yang dibutuhkan adalah bahasa besi sebagaimana bahasa itu digunakan Israel menjajah Palestina. Bukan bahasa diplomasi lagi. Bahasa itu sudah usang. Suka atau tidak, peperangan total melawan Israel akan terjadi sebagai episode akhir zaman.

"Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Mereka akan diperangi kaum Muslimin, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Maka berkatalah batu dan pohon tersebut: Wahai orang Islam, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon itu adalah pohon Yahudi”. (HR.Bukhori- Muslim)

Fakta Kebiadaban Yahudi

Mari kita buktikan kebiadaban Yahudi sepanjang sejarah kemanusiaan yang diketahui dan terdokumentasi secara akurat, seperti dalam Al-Quran, hadits, manuskrip, maupun catatan sejarah dunia. Kejahatan yahudi dimulai sejak 12 keturunan Nabi Ya’kub dari sejumlah istri mencelakai Yusuf. Ke-12 anak Ya’kub as adalah Ru’bin, Syam’un, Yusakir, Zabulun, Dan, Nafqali, Jamid, ‘Askir, Yusuf, Benyamin, Yahuda, dan Lawi. Kemudian ke-12 keturunan tersebut berkembang menjadi 12 suku sampai hari ini. Makar jahat mereka yang pertama terjadi pada zaman Nabi Ya’qub as. Mereka berkeinginan menyingkirkan saudaranya sendiri, Yusuf as yang berakhlaq mulia supaya mereka lebih dicintai bapaknya. (QS.Yusuf: 7-18)

Kejahatan paling mengerikan adalah kegemaran mereka membunuh para Nabi dan Rasul. Mereka telah membunuh Nabi Yahya as secara kejam yaitu memenggal lehernya dan kepalanya diletakkan di nampan emas. Nabi Zakaria as juga dibunuh secara keji, yaitu dengan digergaji tubuhnya. Kedua pembunuhan ini terjadi pada masa pemerintahan raja Herodes. Mereka juga gemar membunuh orang-orang sholeh lainnya.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka dengan siksa yang pedih“. [QS. Ali Imran: 21]

Nabi Isa as. pun tidak luput dari rencana busuk mereka untuk membunuhnya, akan tetapi Allah SWT menyelamatkannya.

“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih Isa ibnu Maryam Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh dan salib itu ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan Isa) benar-benar dalam keraguan tentang (yang dibunuh) itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu Isa”. [QS. An-Nisa’: 157]

Kejahatan raja Zu Nuwas adalah seorang raja Yahudi Najran di Yaman yang sangat fanatik, tidak ingin ada agama lain di daerah kekuasaannya. Alkisah ada sekelompok pengikut Nabi Isa as yang setia (Nasrani), ketahuan oleh mata-mata kerajaan. Lalu mereka dipaksa murtad dan masuk Yahudi, siapa tidak mau akan dibakar hidup-hidup. Raja Zu Nuwas memerintahkan pasukannya untuk menggali parit dan menyiapkan kayu dan bahan bakar, yang akan digunakan untuk membakar umat Nasrani pengikut Nabi Isa as yang setia dan tidak mau murtad. Kejadian ini dikisahkan di dalam Al-Qur’an:

“Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi dinyalakan dengan kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah SWT Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. [QS. al-Buruj: 4 – 8].

Di Romawi pada masa kaisar Markus Urulius, seorang rabbi Yahudi berhasil menghasutnya untuk memusuhi agama Nasrani dan pemeluknya. Akhirnya dibuatlah keputusan untuk membunuh semua prajurit yang beragama Nasrani. Hasutan rabbi Yahudi tersebut dilanjutkan dengan menakut-nakuti kaisar, bahwa orang-orang Nasrani mengidap penyakit menular yang membahayakan rakyat. Oleh karena itu kaisar mengeluarkan perintah untuk membunuh semua penduduk Roma yang beragama Nasrani.

Puncak kejahatan Yahudi pada episode pertama terjadi pada masa Rasulullah saw di Madinah. Sebagaimana diketahui bahwa Nabi saw sebagai penguasa Madinah melakukan perjanjian damai kepada tiga suku Yahudi, yakni Bani Nadhir, Bani Qainuqa, dan Bani Quraizhah. Akhirnya ketiganya diusir dari Madinah karena melakukan pengkhianatan sebagaimana sudah menjadi kebiasaan mereka mengkhianati semua perjanjian dengan manusia sampai hari ini. Kejahatan mereka direkam dalam sejarah Islam.

Yahudi Bani Qainuqa' adalah Yahudi pertama yang mengingkari janjinya dengan Rasulullah, pemicunya adalah diganggunya wanita muslimah yang datang ke pasar mereka. Ia duduk di depan salah seorang pengrajin perhiasaan, mereka merayunya agar membuka cadar yang dipakainya namun ia menolak. Lalu si pengrajin menarik ujung baju si wanita dan mengikatkannya ke punggung wanita tadi, ketika berdiri terbukalah auratnya, lalu mereka menertawakannya. Sang wanita pun berteriak minta tolong. Seorang lelaki muslim mendengar lalu menerjang si pengrajin dan membunuhnya. Melihat kejadian itu orang-orang Yahudi mengerumuninya, dan beramai-ramai membunuh lelaki muslim tersebut. Mendengar berita kematian lelaki itu, maka keluarganya yang muslim menuntut pertanggungjawaban orang-orang Yahudi. Maka Rasulullah datang bersama para sahabat mengepung mereka selama 15 malam. Atas perintah beliau mereka diberi hukuman untuk meninggalkan Madinah.

Yahudi Bani Nadhir melakukan pengkhianatan yang kedua. Suatu saat Rasulullah pergi ke perkampungan Yahudi bani Nadhir untuk meminta bantuan mereka atas diyat (denda) dua orang muslim yang terbunuh dari Bani Amir, yang melakukan pembunuhan adalah Amr bin Umayyah Ad-Dhimari. Permintaan itu diajukan karena sudah adanya ikatan perjanjian persahabatan antara Rasulullah dengan mereka. Ketika beliau datang mengutarakan maksud kedatangannya, mereka berkata: “Baik wahai Abu Qasim! kami akan membantumu dengan apa yang engkau inginkan.” Pada saat Rasulullah duduk bersandar di dinding rumah mereka, kemudian mereka saling berbisik, kata mereka: “Kalian tidak pernah mendapati lelaki itu dalam keadaan seperti sekarang ini, ini kesempatan buat kita. Karena itu hendaklah salah seorang dari kita naik ke atas rumah dan menjatuhkan batu karang ke arahnya”, dan untuk tugas ini diserahkan kepada Amr bin Jahsy bin Ka’ab. Lantas ia naik ke atas rumah guna melaksanakan
rencana pembunuhan ini, tetapi Allah melindungi Rasul-Nya dari makar orang-orang Yahudi tersebut dengan mengirimkan berita lewat Malaikat Jibril tentang rencana jahat itu. Kemudian Rasulullah bergegas pulang ke Madinah, dan memberitahukan kepada para sahabatnya tentang usaha makar tersebut. Beliau memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap-siap pergi memerangi mereka. Ketika orang Yahudi Bani Nadhir mengetahui kedatangan pasukan Rasulullah, mereka cepat pergi berlindung di balik benteng. Pasukan Islam mengepung perkampungan mereka selama 6 malam, beliau memerintahkan untuk menebang pohon kurma mereka dan membakarnya. Kemudian Allah memasukkan rasa gentar dan takut di hati mereka, sehingga mereka memohon izin kepada Rasulullah untuk keluar dari Madinah dan mengampuni nyawa mereka. Mereka juga meminta izin untuk membawa harta seberat yang mampu dipikul unta-unta mereka kecuali persenjataan, dan Rasulullah pun mengizinkannya.

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kami tiada menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari siksaan Allah, maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang mereka tidak sangka. Dan Allah menancapkan ketakutan di dalam hati mereka, dan memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah kejadian itu untuk menjadi pelajaran wahai orang yang mempunyai pandangan”. [QS. al-Hasyr: 2]

Yahudi Bani Quraizhah melakukan pengkhianatan yang ketiga, Yahudi Bani Nadhir yang telah terusir karena kesalahan mereka sendiri terus mendendam. Bersama Yahudi Quraizhah memilih beberapa tokohnya yaitu Salam bin Abi Haqiq, Hayyi bin Akhthab dan Kinanah bin Abi Haqiq pergi bersama menghasut orang-orang Quraisy, Ghathafan dan beberapa suku musyrik besar lainnya. Mereka berkonspirasi untuk membentuk pasukan Koalisi (al-Ahzab), antara pasukan musyrik dan pasukan Yahudi. Akhirnya terbentuklah pasukan Koalisi (al-Ahzab); Suku Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan ibnu Harb, suku Gathafan di bawah pimpinan Uyainah ibnu Hushn, suku bani Murrah di bawah pimpinan Harits ibnu Auf dan suku-suku yang lain, sementara pasukan Yahudi bani Quraizhah akan menusuk dari belakang. Peperangan Al-Ahzab itu betul-betul mambuat khawatir dan sesak dada kaum muslimin yang terkepung, apalagi tingkah golongan munafiqin yang membuat goyah pasukan Islam. Berkat kesabaran kaum
muslimin, maka Allah SWT mengirim pasukan Malaikat dengan mendatangkan serangan berupa angin taufan dan guntur yang memporak-porandakan pasukan koalisi (Al-Ahzab). Mereka kocar-kacir, dan pulang ke tempat masing-masing dengan membawa kekalahan. Tinggallah Yahudi Bani Quraizhah, lalu Rasulullah SAW mengumumkan kepada pasukan Islam: Bagi mereka yang mau mendengar dan taat agar jangan shalat ashar kecuali di wilayah perkampungan Bani Quraizhah. Kaum muslimin langsung bergerak menuju perkampungan Yahudi Bani Quraizah, dan mengepung mereka selama 25 malam. Orang-orang Yahudi tersebut benar-benar dicekam rasa ketakutan, lalu memohon kepada Rasulullah agar memberikan izin kepada mereka untuk keluar, sebagaimana yang beliau lakukan kepada Yahudi Bani Nadhir. Beliau menolak permohonan mereka, kecuali mereka keluar dan taat pada keputusan beliau. Kemudian Rasululah menyerahkan keputusan atas mereka kepada Sa’ad ibnu Mu’adz pemimpin suku Aus. Keputusan
telah ditetapkan yaitu: laki-laki dewasanya dieksekusi, harta dirampas, anak-anak dan wanita menjadi tawanan. Hukuman terhadap pengkhianatan Bani Quraizhah lebih berat dari pada Bani Qainuqa' dan Bani Nadzir, karena dampak dari pengkhianatan mereka hampir saja merontokkan moral kaum muslimin dan membahayakan nyawa mereka semua.

“Hai orang-orang yang beriman ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. Yaitu ketika datang (musuh) dari atas dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka disitulah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang sangat”. (QS. al-Ahzab: 9-11)

Ajal Israel

Sejak Israel terlunta-lunta di seluruh penjuru dunia tanpa memiliki tanah air, maka janji Allah kedua akan segera terrealisir, karena di manapun mereka berada selalu membuat keonaran, sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya:
”Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya, dan mereka di muka bumi selalu membuat kerusakan, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. al-Maidah:12)

Akhirnya mereka pun memicu perang dunia I dan II, bahkan yang terakhir nanti (PD III) melalui berbagai rekayasa adu domba. Mereka pun menunggangi Inggris untuk memenangkan peperangan. Akhirnya mereka meminta balas jasa atas bantuan mereka pada PD I melalui Perdana Menteri Inggris Balfaur dengan mencetuskan Deklarasi Balfaur pada 2 November 1917 untuk menyediakan tanah bagi Yahudi di Palestina. Kemudian setelah Yahudi berhasil meruntuhkan kekhilafahan Turkis Utsmani melalui anteknya, Mustafa Kemal Pasha, pada 13 Maret 1924, maka pada 14 Mei 1948 Yahudi berhasil menduduki tanah Palestina dan diproklamirkan berdirinya Negara Israel oleh David Ben Gurion. Jumlah warga Yahudi di Yerusalem pada waktu itu 649.932 jiwa, namun per 24 September 2008 jumlah mereka mencapai 7.337.000 jiwa.

Dalam berbagai referensi, tercatat ada beberapa tujuan berdirinya Negara Israel di bumi Palestina adalah:

1. Menciptakan faktor disintegrasi di wilayah sekitarnya, baik geologis, politis maupun sosial.

2. Menyebarluaskan kerusakan dan kekacauan dengan menggunakan berbagai alasan, sekalipun tidak masuk akal dan bahkan merupakan rekayasa mereka sendiri.

3. Tidak memberi peluang sedikit pun bagi berdirinya pemerintahan yang ditegakkan atas dasar syareat Islam dan terwujudnya persatuan Arab, baik sebagian maupun keseluruhan.

4. Menciptakan pusat-pusat imperialisme di dunia Arab, dan pada saat yang sama merealisasikan kepentingan- kepentingan Zionisme Internasional yang hakiki, sebagai pijakan untuk menyebarkan kekacauan di seluruh dunia.

5. Mengupayakan agar raja yang akan datang bagi Zionis dan bangsa Yahudi adalah benar-benar al-Masih (sebutan ini mungkin sebagai tipuan untuk Nasrani agar bisa diajak koalisi untuk menghancurkan umat Islam).

6. Membasmi pemikiran kekhalifaan Islam dan terus menggoyahkan keyakinan-keyakinan kaum muslim tentang bakal munculnya al-Mahdi as. yang akan mengembalikan kejayaan masa kenabian dan Khulafaur Rasyidin, yang disertai berbagai variasi program guna menghubungkan hal yang mendukung revitalisasi pemikiran itu.

7. Bila berhasil membasmi pemikiran tersebut, maka mereka segera akan menang terhadap umat Islam. Umat Islam akan tetap dalam kejumudan lamanya, sehingga mereka tidak mempunyai persiapan sama sekali dalam menyambut kedatangan al-Mahdi as.

8. Di samping itu mereka berusaha menimbulkan kesesatan-kesesatan guna menyebarluaskan kekacauan, sehingga para pemimpin dan penguasa muslim menjadi kehilangan harapan tentang pemikiran akan datangnya al-Mahdi as. Hasil yang akan diambil adalah: kalau para pemimpinnya saja sudah seperti itu, bagaimana lagi dengan orang awamnya.

Namun mereka tidak sadar, bahwa berkumpulnya mereka di Palestina dalam keadaan bercampur aduk (lafiifa) setelah sebelumnya terdiaspora di seluruh penjuru dunia, adalah akan segera berlaku janji Allah swt yang terakhir untuk membinasakan mereka tanpa tersisa sedikit pun. Bahkan Raja mereka, Dajjal si “Mata Satu” pun akan dibunuh oleh Nabi Isa as.

>>Lambang Dajjal: Si Mata Satu

Berakhirnya riwayat bangsa Yahudi atau Bani Israel juga banyak dinubuatkan di dalam al-Kitab. Diantaranya;

Pertama, Israel seperti Pohon Anggur.
Hosea 10: 1, “Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah. Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala".

Kedua, Inggris induk dari berdirinya Negara Israel.
Yehezkil 19: 10-14, “Ibumu seperti pohon anggur dalam kebun anggur, yang tertanam dekat air, berbuah dan bercabang karena air yang berlimpah-limpah. Padanya tumbuh suatu cabang yang kuat yang menjadi tongkat kerajaan, ia menjulang tinggi di antara cabang-cabangnya yang rapat dan menjadi kentara karena tingginya dan karena rantingnya yang banyak. Tetapi ia tercabut di dalam kemarahan dan dilemparkan ke bumi; angin timur membuatnya layu kering, buahnya disentakkan, cabang yang kuat menjadi layu kering, dan api menghabiskannya dan sekarang ia tertanam di padang gurun, di tanah yang kering dan haus akan air. Maka keluarlah api dari cabangnya yang memakan habis ranting dan buahnya sehingga tiada lagi padanya cabang yang kuat dan tiada tongkat kerajaan. Ini adalah ratapan dan sudah menjadi ratapan”.

Ketiga, Kehancuran para pendukung Yahudi.
Yesaya 63: 1-6, “Siapa dia yang datang dari Edom, yang datang dari Bozra dengan baju yang merah, dia yang bersemarak dengan pakaiannya, yang melangkah dengan kekuatannya yang besar? Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan: Mengapakah pakaianmu semerah itu dan bajumu seperti baju pengirik buah-buah anggur? Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku: Aku telah mengirik bangsa-bangsa dalam murka-Ku, dan Aku telah menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku; semburan darah mereka memercik kepada baju-Ku, dan seluruh pakaian-Ku telah cemar, sebab hari pembalasan telah Kurencanakan, dan tahun penuntutan bela telah datang. Aku melayangkan pandangan-Ku: tidak ada yang menolong. Aku tertegun, tidak ada yang membantu, lalu tangan-Ku memberi Aku pertolongan, dan kehangatan amarah-Ku, itulah yang membantu Aku. Aku menginjak-injak
bangsa-bangsa dalam murka-Ku. Menghancurkan mereka dalam kehangatan amarah-Ku, dan membuat semburan darah mereka mengalir ke tanah”

>>Mata uang Amerika: Ada gambar "Si Dajjal" Mata Satu

Keempat, Amerika akan hancur.
Yesaya 4: 3-7, “Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam? Maka sekarang Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu. Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak. Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh (tanaman) putri malu dan rumput. Aku akan memerintahkan awan-awan supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya. Sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah bangsa Israel dan orang Yahudi, ialah tanaman-tanaman kegemarannya. Dinantinya keadilan, tetapi hanya ada kezaliman, dinantinya kebenaran tetapi hanya ada keonaran”.

Ikhtitam

Kita memang sangat prihatin dengan kondisi Gaza seperti sekarang ini. Namun keadaan mereka nampaknya sudah ditakdirkan seperti itu. Bahkan keberadaan para pemuda yang berani berperang melawa Israel pun telah dinubuatkan oleh Nabi saw sampai akhir zaman.

”Akan ada sekelompok orang di antara umatku yang senantiasa membela kebenaran, akan mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang menyelisihinya tidak akan membahayakannya melainkan hanya menimpakan cobaan hingga datangnya ketentuan Allah, dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu. Mereka (para shahabat) bertanya; Wahai Rasulullah, di manakah mereka? Rasulullah menjawab; Di Baitul maqdis, dan di sekitar Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad)

Meski demikian, kita tak bisa diam, menunggu –apalagi—berpangku tangan, menunggu datangnya Imam Mahdi. Dengan berdoa, tenaga, pikiran, kita harus berjuang untuk membela umat Islam di Palestina dan Gaza.

Luas wilayah Palestina hasil perjanjian Sysks-Picot adalah 27.027 km2. Yang diduduki Israel th 1948= 20.770 km2 (77%). Sisa tanah Palestina (23%) juga diduduki Israel th 1967 yakni Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem (6257 km2). Kini wilayah Palestina tinggal 3.128,5 km2 (11,5%) yang terdiri dari dua wilayah, yakni Gaza (lk.400km2) dibuni sekitar 1,5 juta jiwa dan sisanya di Tepi Barat yang terpisah dengan Gaza, sehingga kedua wilayah tersebut bagaikan penjara raksasa. Sekitar 4,5 juta warga Palestina menjadi pengungsi di sejumlah Negara Arab lainnya.

Secara perhitungan fisik, nampaknya sulit bagi Hamas dan para pejuang lainnya memenangkan pertempuran melawan Israel, namun mereka tidak akan dikalahkan. Mereka memiliki daya tahan tempur yang tercatat dalam sejarah Islam. Mereka akan segera dibantu Imam Mahdi untuk menghancurkan Israel dalam waktu dekat ini, insya Allah.

Menutup tulisan ini, sebaiknya kita berdoa di hadapan Allah.

“Ya Allah, tolonglah saudara kami muslim Palestina.

Hancurkanlah Israel dan sekutunya.

Segerakan Imam Mahdi turun membantu perjuangan membebaskan al-Aqsho dari cengkeraman Yahudi laknatullah.

Ya Allah, aku malu, karena aku hanya bisa menulis dan berdemo.

Wahai akhi fillah, beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Jika milik kita yang suci dihina, dan tempat kita dihancurkan, dan kau tidak menjadi marah?

Jika sifat ksatria kita dibunuh, dan kehormatan kita diinjak-injak, dan dunia kita berakhir,

dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Jika sumberdaya kita dirampas, dan institusi kita diruntuhkan, dan masjid-masjid kita dihancurkan, dan masjid al-Aqsa dan al-Quds kita tetap dirampas, dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Musuhku, atau musuhmu, menghina kehormatan, darahku dijadikan mainan oleh dia, dan kau jadi penonton permainan. Jika untuk Allah, untuk suatu yang suci, untuk Islam kau tidak marah, Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Aku melihat kengerian, Aku melihat darah mengucur. Wanita-wanita tua mengiringi anak-anak menjemput maut mereka. Aku telah melihat segala macam bentuk penindasan.

Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Dan kau duduk seperti boneka bisu, perutmu memenuhi kantor. Kau habiskan malam banggakan angka-angka, dengan uang, curahkan dirimu kepada berkas-berkasnya.

Aku melihat kematian di atas kepala-kepala kami. Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi terus terang saja padaku, jangan malu-malu: kamu ada di Ummat yang mana?

Jika kau juga derita, apa yang kami derita, tidak menjadikan kamu ingin membalas, maka tidak usah repot. Karena kamu bukanlah kami, maupun bagian dari kami, bahkan kamu bukan bagian dari dunia manusia.

Jadi hiduplah sebagai kelinci, dan matilah sebagai kelinci.

* Penulis adalah Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Zionis belum berhenti membantai, kok kita berhenti membantu? Sisihkan sebagian harta Anda untuk membantu rakyat Gaza di "Hidayatullah. com Peduli Palestina". No Rek BCA: 822 0279422 CP Redaksi www.hidayatullah. com 081-357342242



Free Al Aqsho, Free Palestine, Allohu Akbar!!!

NOBEL BAGI OBAMA, IRONI BAGI DUNIA ISLAM Komite Nobel Norwegia memilih Presiden AS Barack Obama sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini (2

NOBEL BAGI OBAMA, IRONI BAGI DUNIA ISLAM

Komite Nobel Norwegia memilih Presiden AS Barack Obama sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini (2009). Alasannya, Obama dipandang telah melakukan upaya luar biasa untuk memperkuat diplomasi internasional, kerjasama di antara umat manusia serta visi dunia yang damai (Kompas,10/10).

Dalam sejarah AS, Obama menjadi presiden ketiga penerima Nobel Perdamaian setelah Theodore Roosevelt (1906) dan Woodrow Wilson (1919). Hal ini mengundang tanda tanya besar, khususnya bagi Dunia Islam. Sehebat itukah jejak dan rapor Obama dalam mewujudkan perdamaian dunia? Bagaimana dengan kenyataan Dunia Islam yang masih terkoyak hingga saat ini, yang justru merupakan akibat penjajahan AS dan sekutunya? Ataukah ini adalah bagian dari makar global: pencitraan terhadap orang nomer wahid di AS dalam rangka mendukung gagasan “soft power” dalam menjaga penjajahannya di Dunia Islam?

Tentu, kaum Muslim tidak boleh terkecoh. Sebab, Amerika Serikat (AS) bukan hanya seorang Obama. AS adalah sebuah negara dengan ideologi yang jelas. AS telah menempatkan posisi tunggalnya di dunia internasional dan memaksa semua negara, khususnya Dunia Islam, tunduk pada seluruh kepentingan ideologi kapitalisnya.

Menyoal “Rapor” Obama

Ada beberapa hal yang menjadi bahan penilaian panitia Nobel, yang menjadikan Obama dianggap layak mendapatkan hadiah Nobel tersebut. Ada lima isu utama yang menjadi muatan dari seluruh langkah diplomasi Obama, yaitu: Dunia Islam, Timur Tengah, senjata nuklir, multilateralisme dan Penjara Guantanamo. Semua isu tersebut terkait langsung ataupun tidak langsung dengan Dunia Islam.

Terhadap Dunia Islam, 22 Januari 2009 Obama menunjuk mantan senator George Mitchell sebagai utusan khusus Timur Tengah. Penunjukkan ini menjadi pintu masuk bagi Obama untuk menyampaikan seruan kompromi dan keseimbangan dalam memandang konflik Timur Tengah. Pada 6 April 2009 Obama kemudian menyatakan, “AS tidak akan pernah berperang melawan Islam.” Hal ini ditegaskan ulang oleh Obama pada kunjunganya di Universitas al-Azhar Kairo, 4 Juni 2009, sebagai langkah untuk memperbaiki citra AS di mata kaum Muslim sedunia. Ia bahkan mengutip al-Quran, Bibel dan Taurat terkait dengan pentingnya perdamaian di antara semua manusia.

Namun, semua ini tidak menjadikan sebagian umat Islam yang melek politik memberikan aplaus (sambutan dan harapan). Pasalnya, Obama baru sekadar membuat janji-janji dan tidak memberikan sumbangan berarti bagi perdamaian dunia. Obama tidak melakukan apapun untuk memastikan keadilan bagi Arab dan Dunia Islam.

Bahkan penghargaan ini adalah “lelucon” memalukan. Pasalnya, selama ini AS melakukan penjajahan di Irak dan Afghanistan yang menjadikan dua negeri kaum Muslim ini porak-poranda dan rakyatnya dinaungi duka dan derita. Sebenarnya drama pemberian Hadiah Nobel Perdamaian yang penuh kejanggalan juga pernah diberikan kepada PM Israil Yitzhak Rabin 1994, pemimpin negara penjajah tanah Palestina, juga kepada Mmenlu Israel Shimon Peres.

Fakta Menyedihkan di Dunia Islam

Sembilan bulan sudah Obama menjabat sebagai presiden AS. Namun, selama itu, belum ada satu pun negara yang terlibat peperangan yang didamaikan oleh Obama. Sebaliknya, Obama malah masih mewarisi kebijakan Presiden AS sebelumnya, George W Bush, terkait dengan penjajahan AS di Afganistan dan Irak. Bahkan Obama, sebagai panglima tertinggi Angkatan Bersenjata AS, menambah jumlah pasukannya di Afganistan. Tidak menutup kemungkinan, Obama malah akan membuka lahan peperangan baru sebagai salah satu jalan keluar dari krisisis moneter dalam negeri AS jika hal ini dipandang bisa menjadi stimulus (pembangkit) dan penyelamat ekonominya yang hancur.

Terkait dengan Dunia Islam, sejak Tragedi 9/11 (2001), atas nama “Perang Melawan Terorisme” (WOT), AS telah menempatkan Dunia Islam sebagai ancaman. Saat ini pun, AS di bawah Obama tetap bertekad akan mengabaikan perbatasan negara dalam memburu siapa yang mereka anggap sebagai teroris. Afrika Timur, Asia Tenggara, Eropa, Teluk Persia, Afgan dan Pakistan dipandang sebagai tempat subur terorisme dan yang disebut oleh AS sebagai “segala ancaman terhadap Washingthon”. (Ar-Rahmah.com, 8/10).

Sebagai dampak dari “Perang Melawan Terorisme” di Dunia Islam, para penguasa di negeri-negeri Islam telah melanggar apa yang oleh mereka sendiri di sebut sebagai HAM, tentu dengan dukungan AS sebagai pelanggar HAM nomer satu di dunia. Contoh: Di Pakistan korban penghilangan paksa atau penculikan mencapai 8000-10.000 orang. Semua itu dilakukan oleh negara hanya karena negara mencurigai mereka terlibat kegiatan atau jaringan terorisme, seperti yang dilaporkan Defence for Human Right Pakistan (Eramuslim.com, 8/10). Di India kaum Muslim dijadikan “kelinci percobaan” terorisme. Mereka mengalami diskriminasi dan pelanggaran HAM pada tingkat yang sangat kritis (Suaramedianews, 5/10). Di Indonesia kaum Muslim bisa menyaksikan berita saban hari, bagaimana perburuan aparat terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai teroris. Hingga bulan Oktober 2009 aparat telah menangkap lebih dari 335 orang. Penangkapan tersebut diduga sarat dengan pelanggaran HAM. Sebagian yang ditangkap dihukum mati sehingga pengungkapan master mind (dalang utama) dari kasus-kasus terorisme itu tetap kabur, dan drama “Perang Melawan Terorisme di tingkat lokal masih akan terus berlangsung.

Terkait dengan isu Timur Tengah, AS masih menjadi pemain kunci sekaligus penjaga keberadaan penjajah Israel di Palestina. Standar ganda AS dimainkan sedemikian rupa melalui DK PBB, untuk memastikan keamanan Israel dengan segala cara. Memang, pada tanggal 18 Mei 2009 Obama telah mendesak Israel untuk mengakui Palestina serta menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat. Langkah berikutnya, 26 Juli 2009 Obama bertekad mewujudkan kesepakatan damai antara Arab-Israel yang benar-benar komprehensif. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa, karena tidak akan mengubah nasib Palestina dan kaum Muslim yang menjadi pemilik sah negeri Palestina. Justru di belakang meja, AS memasok senjata dan mendanai militer Israel yang notabene dipakai untuk menghancurkan kaum Muslim di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Lalu dalam isu “Dunia Bebas Nuklir”, AS sangat tidak adil ketika menempatkan Iran sebagai ancaman. Pasalnya, pada saat yang sama AS diam seribu bahasa terhadap ancaman nyata zionis Israel dengan fasilitas nuklirnya yang dibangun di Dimona sejak tahun 1950. Bahkan diperkirakan Israel telah memiliki ratusan hulu ledak nuklir. Hal ini tidak pernah terungkap ke publik. Dengan manisnya, melalui Menlu AS Hillary Clinton, AS menyebut perundingan nuklir Iran di Jenewa sebagai langkah positif, karena Iran berjanji akan memeriksa semua tempat nuklirnya dan akan mengirim uranium yang diperkaya pada level rendah keluar negeri untuk proses selanjutnya (Antara.com, 6/10).

AS menghancurleburkan Irak juga dengan dalih senjata pemusnah massal. Penderitaan menjadi menu sehari-hari bagi rakyat Irak hingga detik ini karena AS sang penjajah dan sekutunya masih bercokol di Irak. Padahal hingga kini Irak tidak bisa dibuktikan memiliki senjata yang dituduhkan AS.

Tanggal 22 Januari 2009, perintah Obama untuk menutup Penjara Guantanamo dan melarang penyiksaan tawanan yang tidak manusiawi seolah menjadi sihir baru: “kebaikan AS” di ranah HAM. Padahal ini adalah tipuan untuk menutupi kejahatan dan kebiadaban AS yang disembunyikan selama ini dalam Perang Melawan Terorisme. Bukan rahasia lagi, AS telah memasukkan ribuan orang ke dalam penjara yang sangat tidak layak ini, yang sebagian besarnya adalah kaum Muslim dan dari negeri-negeri Islam.

Obama juga tetap melanjutkan kebijakan pemerintahan sebelumnya: memperlakukan warga negaranya sendiri, utamanya yang Muslim, secara diskriminatif, hingga saat ini. FBI, misalnya, dengan panduan dan investigasi domestik yang baru warisan George W Bush, melakukan pengawasan di masjid-masjid dengan menempatkan informan (Republika,3/10). Inilah potret ironi penegakkan HAM oleh AS di negerinya sendiri.

Wahai kaum Muslim:

Kisah Presiden AS Obama menerima Nobel Perdamaian sejatinya bukan sesuatu yang mengejutkan. Dari berbagai fakta yang ada, penjajahan di Irak dan Afgan yang didukung oleh dunia internasional masih berlangsung hingga saat ini. Penyerangan oleh Israel di tanah Palestina juga masih berlangsung hingga detik ini. Artinya, “udang di balik batu” dari kisah pemberian Hadiah Nobel ini tidak lebih dari sekadar politik pencitraan dan pengelabuan publik. Semua ini dimanfaatkan oleh AS melalui Obamanya untuk mendekati sekaligus menundukkan Dunia Islam pada semua kepentingan AS.

Politik pencitraan dibutuhkan AS demi strategi “soft power” yang dicanangkan. Tujuannya adalah untuk melanggengkan penjajahan dan penguasaan Dunia Islam. Jika hadiah ini dimaknai sebagai ‘dorongan’ dan penghargaan dari upaya perdamaian yang dimotori AS, faktanya, di lapangan lebih kuat penolakannya.

Yang perlu di ingat, sesungguhnya apa yang terjadi di Dunia Islam juga direstui bahkan sering difasilitasi oleh para penguasa negeri-negeri Islam. Berbagai penghianatan para penguasa negeri Islam menjadi jaminan bagi seluruh penjajahan Barat dan AS dengan berbagai bentuk dan gaya barunya itu, dari mulai penjajahan ekonomi melalui lembaga IMF-nya, WOT (War on Terrorism/Perang Melawan Terorisme), hingga isu Pemanasan Global (yang sesungguhnya Dunia Islam adalah korban dari negara-negara industri). Semua ini menempatkan negeri-negeri Islam masuk dalam perangkap skenario AS dan sekutunya.

Saatnya umat Berada dalam Naungan Khilafah Islamiyah

Sesungguhnya, kedamaian dan kemaslahatan dunia, khususnya negeri-negeri Islam, tidak akan pernah terwujud, selama sosok seperti Obama dan AS dengan ideologi Kapitalismenya masih mendominasi perpolitikan dunia. Ingatlah, tipudaya orang-orang kafir tidak pernah berhenti. Makar-makar mereka untuk memadamkan cahaya Islam juga tidak pernah istirahat sejenak pun. Allah SWT berfirman:

]وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا[

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran) seandainya mereka mampu (QS al-Baqarah [2]: 217).

Allah SWT juga berfirman:

]لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ [

Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadaratan atas kalian dan menyukai apa yang menyusahkan kalian (QS Ali ‘Imran [3]: 118).

Sesungguhnya, hanya Khilafah Islamiyah-lah yang mampu mewujudkan keadilah, kedamaian dan kemaslahatan dunia. Karena itu, kami tidak henti-hentinya mengingatkan, sudah saatnya kaum Muslim untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya institusi yang secara syar’i wajib ada. Selain itu, secara politik Khilafah Islamiyah juga akan menjadi pelayan, pengayom dan pelindung kaum Muslim; bahkan akan menjadi penegak keadilan dan rahmat bagi seluruh umat manusia di dunia. Nabi saw. bersabda:

«وَإِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Imam (Khalifah) adalah perisai, tempat orang-orang berperang dan berlindung kepadanya (HR al-Bukhari).

Komentar al-Islam:

OC Kaligis: Perlu Audit Sistem Hukum Nasional (Kompas, 12/10/2009).

Yang diperlukan adalah formalisasi syariah Islam untuk mengganti sistem hukum yang ada.

MEWASPADAI DATANGNYA MUSIBAH LAIN

MEWASPADAI DATANGNYA MUSIBAH LAIN

[Al-Islam 475] Sudah lebih dari sepekan lalu ‘Gempa Sumatra’ terjadi. Korban tewas akibat gempa berkekuatan 7.6 skala ritcher itu terus bertambah. Berdasarkan data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumatera Barat (4/10), korban tewas berjumlah 603 orang. Kemungkinan korban tewas bisa mencapai 1.000 orang. Korban luka-luka juga terus mengalami peningkatan; yang luka berat sebanyak 412 orang dan luka ringan sebanyak 2.093 orang. Adapun korban yang mengungsi sebanyak 736 orang (Republika Online, 4/10/2009).

Namun, Pemerintah seperti tidak mau belajar. Seperti sudah menjadi kebiasaan, penanganan korban gempa oleh Pemerintah selalu terlambat. Buktinya, meski ribuan orang selamat, sebagiannya—terutama para pengungsi—tetap menderita. Pasalnya, meski telah enam hari pasca gempa, distribusi bantuan gempa terkesan lamban, padahal akses jalan ke sejumlah kabupaten dan kecamatan telah lancar. Akibatnya, sebagian besar korban gempa kini mulai mengaku kelaparan. Menurut warga, jangan bantuan sembako, tenda plastik darurat untuk berteduh pun tidak mereka dapatkan. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin nasib yang lebih buruk akan menimpa mereka, terutama anak dan balita. “Jangankan susu bubuk untuk bayi, beras pun belum pernah kami terima walau hanya satu kilogram. Kalau terus begini, bayi kami bisa kelaparan dan meninggal dunia,” keluh Siswandi warga Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman (5/10). “Biarlah rumah kami hancur diterjang gempa, yang penting anak-anak kami selamat…,” keluh Ibu Aisah yang mempunyai balita usia dua tahun (Detiknews, 5/10/2009).

Pemerintah Harus Bertindak Cepat

Seorang Muslim tentu memiliki kewajiban untuk menolong dan membantu saudara-saudaranya yang sedang ditimpa kesulitan, termasuk akibat gempa. Jamaah, organisasi massa dan partai Islam juga memiliki tanggung jawab yang sama, bahkan lebih besar. Namun demikian, tanggung jawab terbesar sesungguhnya ada di pundak Pemerintah sebagai pengurus, pelayan dan pelindung rakyat. Pemerintah semestinya memiliki departemen atau direktorat khusus penanggulangan bencana yang senantiasa stand by dalam menangani bencana dan korbannya.

Dalam Khilafah Islam, pendanaan untuk penanggulangan bencana diambilkan dari pos pendapatan fai’, kharaj dan harta pemilikian umum (lihat: Abdul Qadim Zallum, Sistem Keuangan di Negara Khilafah, hlm. 18). Jika kas Baitul Mal sedang kosong maka Khalifah sebagai kepala negara menghimbau rakyat kaum Muslim untuk mengulurkan bantuan uang maupun barang. Jika uluran bantuan rakyat tidak mencukupi, negara bisa menarik pajak khusus untuk penanggulangan bencana kepada para wajib pajak. Dengan demikian, negara akan segera dapat mengatasi masalah tersebut dengan cepat tanpa harus kekurangan dana.

Sabar Menghadapi Musibah dan Keutamaannya

Musibah/bencana seperti gempa memang pasti menimbulkan penderitaan. Namun demikian, bagi seorang Muslim, di balik musibah sesungguhnya ada keutamaan, tentu jika musibah itu disikapi dengan kesabaran. Keutamaan yang dimaksud antara lain:

1. Terhapusnya dosa dan kesalahan.

Nabi saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang Mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain Nabi saw. bersabda:

«مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»

Cobaan senantiasa akan menimpa seorang Mukmin dan Mukminah—baik menimpa dirinya, anaknya maupun hartanya—hingga ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa (HR at-Tirmidzi).

2. Memperoleh pahala dan keridhaan Allah.

Anas ra. meriwayatkan sebuah hadis secara marfû’, “Sesungguhnya besarnya pahala bergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Siapa saja yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah…”

3. Mendorong untuk ber-taqarrub dan banyak beribadah kepada Allah SWT.

Betapa banyak Muslim yang setelah ditimpa musibah terdorong untuk ber-taqarrub kepada Allah dan berdoa/beribadah kepada-Nya, yang semua itu tak pernah ia lakukan sebelum tertimpa musibah (QS Fushilat [41]: 51).

4. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.

Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ يُرِدْ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ»

Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya (HR al-Bukhari).

Selain itu, orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah akan mendapatkan shalawat dan rahmat dari Allah SWT (QS Ali Imran [33: 155-157; diberi pahala tanpa batas (QS); akan selalu bersama Allah (QS al-Baqarah [2]: 153), dan Allah mencintainya (QS Ali Imran [3]; 146).

Lebih dari Sekadar Sabar

Lebih dari sekadar keharusan untuk bersabar, dalam menghadapi musibah ini selayaknya setiap Muslim hendaknya:

1. Iman dan ridha terhadap ketentuan (takdir) Allah.

Allah SWT berfirman:

]مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ[

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS al-Hadid [57]: 22).

2. Memperbanyak berdoa dan berzikir kepada Allah SWT.

Rasulullah saw. mengajarkan doa bagi orang yang tertimpa musibah:

«اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا»

Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah yang menimpaku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya (HR Ahmad).

Selain berdoa, berzikir akan dapat menenteramkan hati (QS ar-Ra’du [13] : 28).

3. Tetap berikhtiar.

Mengimani takdir bukan berarti tidak berikhtiar. Saat terjadi wabah penyakit di Syam, Umar bin al-Khaththab segera berupaya keluar dari negeri tersebut. Ketika ditanya, ”Apakah kamu hendak lari dari takdir Allah?” Umar menjawab, ”Ya, aku lari dari takdir Allah untuk menuju takdir-Nya yang lain.”

Rasulullah saw. pun memberikan petunjuk bahwa segala bahaya (madarat) wajib untuk dihilangkan. Misalnya logistik, tempat tinggal, masjid dan sekolah yang hancur harus diupayakan kembali keberadaannya. Dalam hal ini, tanggung jawab Pemerintah sangatlah besar.

4. Bertobat.

Adakalanya musibah yang menimpa adalah akibat dari dosa yang diperbuat manusia (QS asy-Syura [42]: 30). Karena itu, sudah seharusnya seseorang yang terkena musibah segera bertobat kepada Allah SWT dengan tobat yang sebenar-benarnya. Nabi saw. bersabda:

«كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ»

Setiap anak Adam adalah pendosa. Sebaik-baik pendosa adalah orang yang suka bertobat (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad dan ad-Darimi).

5. Tetap Istiqamah dalam Islam.

Dalam setiap musibah, selalu ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkannya untuk tujuan jahat. Misalnya kristenisasi. Caranya adalah dengan memberikan bantuan logistik, medis, uang, rumah dan sebagainya. Semua itu tidaklah diberikan dengan tulus, melainkan ada maksud keji di baliknya. Ujung-ujungnya, orang-orang kafir itu ingin sekali memurtadkan orang Islam. Di sinilah seorang Muslim dituntut untuk bersikap istiqamah (QS Hud [11] : 112).

Mewaspadai Datangnya Musibah Lain

Nabi saw., sebagaimana penuturan Ibn Umar ra., pernah mewanti-wanti kita terkait dengan kemungkinan datangnya sejumlah musibah/bencana (lain) yang menghampiri kita. Beliau bersabda:

«خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ إِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ»

Ada lima perkara (yang harus kalian waspadai)—aku berlindung kepada Allah, jangan sampai hal itu menimpa kalian: 1. Tidaklah kekejian (perzinaan) muncul pada suatu kaum dan mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan muncul berbagai wabah dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada orang-orang sebelum mereka. 2. Tidaklah suatu kaum berbuat curang dalam hal timbangan dan takaran (jual-beli), melainkan mereka akan diazab dengan paceklik, kesusahan hidup dan kezaliman penguasa. 3. Tidaklah suatu kaum enggan membayar zakat, melainkan mereka akan dicegah dari turunnya hujan dari langit; jika bukan karena binatang ternak, niscaya hujan itu tidak akan diturunkan. 4. Tidaklah para pemimpin mereka melanggar penjanjian Allah dan Rasul-Nya, kecuali Alah akan menjadikan musuh menguasai mereka, lalu merampas sebagian yang ada dari apa yang ada di tangan mereka. 5. Tidaklah mereka meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan perselisihan di antara mereka (HR Ibnu Majah).

Peringatan Baginda Nabi saw. ini semestinya menjadikan kita khawatir dan takut. Karena itu, kelima perkara yang diisyaratkan dalam hadis ini wajib harus dihindari. Perzinaan harus segera diberantas sampai ke akar-akarnya (bukan malah dilokalisasi dan dipelihara); ekonomi curang harus segera ditinggalkan (termasuk segala transaksi yang didasarkan pada ekonomi kapitalis seperti perbankan ribawi, bursa saham dan valas, utang luar negeri, privatisasi BUMN, dll); zakat harus segera ditunaikan; perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dilanggar; dan hukum-hukum Allah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah harus segera diterapkan oleh negara. Jika tidak, berarti kita sedang menantang datangnya musibah yang lebih dahsyat, sebagaimana diisyaratkan Baginda Nabi saw. di atas. Jika demikian, betapa sombong dan bodohnya kita. Wal ‘iyâdzu billâh! []

Islam, Khilafah, dan Hizbut Tahrir Dalam Pandangan Barat (1)

Islam, Khilafah, dan Hizbut Tahrir Dalam Pandangan Barat (1)

PENGANTAR

Delapan puluh delapan tahun sudah, sejak keruntuhan mahkotanya, kehancuran Khilafahnya dan penjajahan Barat kafir atas negeri-negrinya umat Islam melewati masa-masa sulitnya…Delapan puluh depalan tahun sudah Barat kafir menjauhkan Islam dari kepemerintahan setelah terlebih dahulu menyempitkan wilayahnya dan mencabut unsur-unsur kekuatan di dalamnya; akidah yang menjadi landasan berfirkir dan aktifitasnya (al-‘aqîdah al-siyâsiah), sistem kehidupan yang komprehensif, Khilafah dan jihad. Barat kafir telah benar-benar mengubah dan mengganti agama ini setelah terlebih dulu mencetak corak ‘aqliyah (pola pikir) kaum Muslim dengan sebuah corak baru yang berdiri diatas dasar kaedah-kaedah pemikiran (al-Qawâid al-fikriyah) yang sama sekali terputus hubungan (al-munqathi’at al-shilah) dengan Allah . Lebih parah lagi, hal ini ternyata dibantu oleh para ‘ulamâ’ sû (ulama buruk yang mabuk dunia) yang berfatwa sesuai dengan kaedah-kaedah pemikiran Barat kafir. Sehingga, hasilnya adalah fatwa-fatwa yang sesat dan menyasatkan (dhâllah mudhillah) umat Islam. Delapan puluh delapan tahun sudah Barat kafir memaksakan undang-undang yang menjijikkan buatan mereka atas kaum Muslim dan menyerahkan kaum Muslim kepada para penguasa antek yang penuh dengan keburukan; penguasa-penguasa antek yang mereka jadikan sebagai ekor dan mereka gerakkan untuk membantai umat Islam dan merampas seluruh kekayaannya. Sehingga, akibat kebejatan penguasa-penguasa antek itu, umat ini tertimpa bencana yang tiada tara besarnya; pembantaian, pemenjaraan, penyiksaan, pengasingan, pengisolasian, penghinaan, pemiskinan, pembodohan, pengrusakan dan penyesatan…Delapan puluh delapan tahun sudah perjalanan penyiksaan umat Islam di tengah jalan yang penuh dengan kepedihan, air mata dan konspirasi atas mereka, dan hal ini masih terus berlangsung hingga kini.

Akan tetapi, setelah lewat delapan puluh delapan tahun, umat ini mulai menyadari bahwa mereka telah berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri dengan sebab menjauh dari pemahaman dan penerapan Islam yang benar, yang karenanya, umat ini mengarungi masa-masa kehidupan yang amat sempit (ma’îayat[an) dhank[an]) sebagai mana dituturkan al-Quran al-Karim sebagai akibat berpaling dari dzikir Allah, syari’at Allah dan hukum Allah . Umat Islam kini telah menyadari bahwa tiada jalan keluar dari semua itu kecuali dengan Khilafah Rasyidah. Karena itu, tekadnya semakin kuat untuk mewujudkan cita-citanya ini, dan mereka benar-benar optimis akan keterwujudannya meskipun berbagai rintangan mereka hadapi. Semetara itu, kaum Barat kini hampir saja gila akibat takut kembalinya Khilafah yang akan menghancurkan-leburkan hadharah (peradaban) mereka.

Inilah yang kita saksikan pada hari ini di berbabagi negeri kaum Muslim; Afganistan, Irak, Palestina, Somalia, Kasymir, Turikistan dan Chechnya. Inilah satu tujuan yang telah menjadi cita-cita seluruh kaum Muslim, yakni mengubah keberadaan mereka dengan cara benar-benar kembali kepada Allah  melalui jalan Khilafah Rasyidah. Sementara itu, satu-satunya pikiran yang telah menghantui Barat kafir adalah mencegah kembalinya Khilafah Rasyidah ini. Inilah hakekat pertarungan antara kaum Muslim melawan kaum Barat kafir. Sementara itu, semua slogan-slogan yang selama ini mereka gembar-gemborkan; perang melawan teroris (war on terorism), melawan ekstrimis dan lain sebagainya, tak ubahnya hanya untuk menaburkan debu ke dalam mata (dzarr al-ramâd fî al-‘uyûn).

Umat Islam kini melihat pada sebuah perubahan yang fundamental lagi menyeluruh, mereka benar-benar dipenuhi harapan, harapan akan bebas dari segala bencana yang selama ini telah dan sedang melandanya. Harapan umat ini sesuai dengan janji Rasulullah  bahwa kelak di akhir masa akan tegak sebuah negara Khilafah Rasyidah. Dan harapan ini juga sesuai dengan yang diungkapkan oleh pakar-pakar Barat kafir yang menghawatirkan kembalinya abad ke enam dan ke tujuh pada masa Nabi , dihidupkannya kembali Khilafah, yang sering mereka sebut dengan ‘kerajaan’ Islam yang membentang luas. Dan harapan ini tentu saja sesuai dengan yang didakwahkan Hizbut Tahrir yakni penegakan Khilafah Rasyidah kedua yang mengikuti manhaj kenabian dan sesuai dengan apa yang selama ini diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir dengan penuh kekonsistenan.

Ya Allah, dakwah ini adalah dakwah-Mu dan pertolongan adalah pertolongan-Mu. Kami semua selalu taat kepada perintah-Mu. Ya Allah, muliakanlah kami dengan Khilafah Rasyidah yang akan memuliakan Islam dan kaum Muslim, yang akan menghinakan kekufuran dan kaum kafir, dan jadikanlah Khilafah itu sebagai pintu gerbang berbondong-bondongnya manusia masuk ke dalam agama-Mu, dan wujudkanlah di atas pangkuannya seluruh kabar gembira yang telah Engkau kabarkan. Amin. (sumber : majalah alwaie arab edisi khusus)

ISLAM DI MATA BARAT

Inilah sikap yang telah diputuskan dan telah ditetapkan sejak dahulu dalam pemikiran Barat dan akal para pemimpinnya. Sebuah sikap yang telah biasa dijalankan oleh orang-orang Barat dan para pengiktunya dengan penuh keyakinan dan kepuasan, dengan penuh keinginan, kesadaran, dan kesengajaan. Ini bukan perkara baru. Permusuhan terhadap kaum Muslim ini akan tetap selalu terpendam dan terus tumbuh mengakar di dalam relung jiwa kaum kafir semenjak Allah menuturkan karakter mereka di dalam Al-Quran;

“Dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar. Padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.(TQS. Ibrahim: 46)

Musuh-musuh itu telah dengan terang-terangan dalam permusuhan ini selam berabad-abad lamanya. Karenanya ketika tentara mereka mengenakan pakaian perangnya dan datang untuk menjajah negeri-negeri Islam, mereka berteriak dengan sekuat suaranya, “Ibuku, selesaikan-lah sembahyangmu…, jangan engkau menangis…, tetapi tersenyum dan berharaplah…., aku berangkat ke Tripoli… dengan penuh kegembiraan dan kesenangan… akan aku curahkan darahku untuk memusnahkan umat terlaknat…akan aku perangi agama Islam….aku akan berperang dengan sekuat tenaga demi menghapus al-Quran…”.

Barat telah membangun hubungan dengan kita di atas satu dasar; bahwa, perang Salib masih terus berlangsung. Dengan demikian, permusuhan Barat terhadap dunia Arab dan Islam sesungguhnya adalah permsuhan agama dan hadharah (peradaban) yang selama ini telah mengakar di dalam jiwa kaum Barat dan para pendukungnya. Peperangan mereka atas kita itu akan terus berlangsung agar raksasa Islam (yang mereka hatairkan itu) tidak muncul kembali.

Dalam bukunya, al-Islâm ‘alâ Muftaraq al-Thuruq, mengatakan, “Kebencian ini sungguh selalu memenuhi jiwa bangsa Barat tiap kali disebut kata Muslim. Hal ini telah merasuk ke dalam peribahasa-pribahasa mereka, sehingga hal ini telah tertancap kuat kedalam hati setiap orang Eropa, laki-laki maupun wanita. Dan yang lebih aneh lagi, semua ini masih terus hidup di dalam hati mereka meskipun telah berlangsung masa-masa pergantian (tabaddul) tsaqâfah (kultur dan peradaban). Setelah itu, perasaan keagamaan baru mulai memadam…Akan tetapi permusuhan terhadap Islam masih terus berlangsung…Selanjutnya, sikap meremehkan yang telah mentradisi itu mulai merasuk dalam bentuk faksionalis yang tidak rasional kedalam kajian-kajian ilmiah mereka. Sehingga, meremehkan Islam adalah merupakan bagian fundamental dalam pemikiran Eropa”. Ini-lah yang muncul dari lisan mereka. Padahal, apa yang tersimpan di dalam dada mereka jauh lebih besar (wamâ tukhfî shudûruhum akbar).

, ketua organisasi missionaris dalam sebuah konfrensi kaum missionaris di al-Qusd yang diselenggarakan pada tahun 1935 M, mengatakan “Tugas kaum missionaris yang ditekankan kepada kalian oleh negara-negara Kristiani untuk dijalankan di negara-negara Muhammad (Islam. peny) sesungguhnya bukan memasukkan kaum Muslim ke dalam agama Kristen. Sebab, itu artinya memberikan petunjuk dan penghormatan kepada mereka. Akan tetapi, tugas kalian adalah mengeluarkan kaum Muslim dari Islam-nya, sehingga ia tidak memiliki hubungan lagi dengan Allah. Dengan demikian, mereka tidak akan ada lagi hubungan dengan akhlak yang menjadi tonggak berdirinya umat dalam kehidupannya. Karena itu, dengan aktifitas ini, kalian akan menjadi cikal-bakal terbukanya penjajahan di kerajaan-kerajaan Islam. Sebab, kalian telah mempersiapkan semua pikiran mereka untuk ikut serta berjalan di jalan yang kalian tempuh; yakni agar tidak kenal lagi dengan hubungannya dengan Allah dan tidak memiliki keinginan lagi untuk mengenalnya. Dengan demikian, kalian telah mengeluarkan kaum Muslim dari Islam, akan tetapi kalian tidak memasukkannya ke dalam agama Kristen (Masîhiyah). Dan pada saat itulah, lahir generasi Islam yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh kaum penjajah; tidak pernah memperhatikan hal-hal yang besar, gemar bersenang-senang, bermalas-malasan dan selalu ingin menuruti syahwatnya dengan berbagai cara, sehingga syahwat itulah yang menjadi tujuan dalam kehidupannya. Jadi, jika mereka belajar, tak lain adalah kerena syahwat, jika mereka mengumpulkan harta juga karena syahwat dan jika menempati posisi yang tinggi lagi-lagi dalam jalan syahwat, mereka menjadi orang-orang yang loyal untuk mengorbankan segalanya demi tercapainya syahwat. Wahai para missionaris, tugas kalian akan benar-benar sampurna jika kalian mampu melaksanakan semua ini”.

Dalam sebuah artikelnnya yang dipublikasikan dalam surat kabar al-‘Âlam al-Islâmy al-Tabsyîriyah, mengatakan, “Tidak pernah dijumpai sama sekali ada suatu bangsa Kristiani yang telah masuk ke dalam Islam kemudian kembali menjadi Nasrani. Jadi, Islam adalah satu-satunya bahaya yang menghadang keberlangsungan Zionisme dan Israel”.

Seorang missionaris, , mengatakan, “Kita harus menggunakan al-Quran. Sebab, al-Quran adalah sebuah sejata yang paling ampuh yang ada di dalam Islam untuk melawan Islam itu sendiri, sehingga kita benar-benar mampu menghancurkan Islam. Kita harus menjelaskan kepada kaum Muslim bahwa sesungguhnya kebenaran yang ada di dalam al-Quran bukan perkara baru, sementara, perkara baru yang ada di dalam al-Quran sesungguhnya bukan perkara yang benar”.

Seorang missionaris lain, mengatakan, “Kapan jika al-Quran dan kota Makkah telah tertutupi dari negeri-negeri Arab, ketika itulah kita akan dapat melihat bangsa Arab masuk ke dalam hadhârah (peradaban) Barat dan menjauah dari Muhammad dan kitabnya”.

mengatakan, “Islam-lah sesungguhnya satu-satunya tembok pertahanan yang menghadang penjajahan Eropa”.

dalam bukunya, al-Âlam al-‘Araby al-Mu’âshir, mengatakan, “Ketakutan kita terhadap bangsa Arab serta perhatian besar kita kepada umat Arab sesungguhnya tidak lahir akibat adanya sumber minyak yang melimpah di sana. Tetapi, karena Islam”.

mengatakan, “Peperangan Salib sesungguhnya tidak untuk menyelamatkan al-Quds, akan tetapi untuk menghancurkan Islam”.

menegaskan, “Orang-orang Kristiani harus kerja sama dengan Yahudi untuk menghancurkan Islam yang membebaskan bumi suci (al-Ardh al-Muqaddasah). (Nasyrah al-Ta’âyusy al-Masybûh: Hal. 4)

, raja Prancis yang tawan di Dâr Ibn Luqmân di al-Manshurah, dalam sebuah dokumen yang tersimpan di Dâr al-Watsâ’iq al-Qaumiyah (Kantor Dokumen Nasional) Paris mengatakan, “Sesungguhnya tidak mungkin dapat mengalahkan kaum Muslim melalui peperangan. Akan tetapi, kita dapat mengalahkan mereka dengan melalui cara politik sebagai berikut:

-->Menyebarkan perpecahan diantara pemimpin kaum Muslim. Jika telah terjadi, dengan semaksimal mungkin harus dilakukan sebuah tindakan-tindakan yang akan menjadikan perpecahan itu semakin melebar. Sehingga hal ini menjadi faktor yang akan melemahkan kaum Muslim.

-->Mencegah berdirinya pemerintahan yang baik di negeri-negeri Islam dan Arab

-->Menghancurkan sistem kepemerintahan di negeri-negeri Islam dengan suap, kerusakan dan wanita. Sehingga pudarlah kaedah kehidupan mereka dari tujuan yang tingginya.

-->Menghalangi lahirnya sebuah tentara yang percaya akan kewajibannya terhadap tanah air dan yang rela berkorban demi ideologinya.

-->Berusaha menghalangi berdirinya persatuan Arab di wilayah Arab.

-->Berusaha mendirikan negara Barat di wilayah Arab yang membentang diantara Gaza selatan, Antioch Utara kemudian mengarah ke Timur dan membentang sampai ke Barat.

(tokoh missionaris di Inggris) mengatakan, “Islam telah kehilangan dominasinya atas kehidupan sosial kaum Muslim. Sementara, wilayah kekuasaannya semakin menyempit sedikit demi sedikit hingga tinggal ritual-ritual yang amat sempit. Semua ini semakin beranjak sampurna tanpa adanya sebuah kesadaran sedikitpun. Perkembangan itu kini telah benar-benar jauh dan tidak mungkin akan kembali lagi. Akan tetapi, kesuksesan perkembangan ini sangat tergantung dengan para tokoh dan pemimpin kaum Muslim, terlebih para pemudanya. Semua itu tak lain adalah buah hasil kegiatan pendidikan dan tsaqafah libral”.

Orang-orang Inggris menyebut serangan militer mereka atas al-Quds pada saat perang dunia pertama sebagai perang Salib. , dalam bukunya, Hayât al-Masîh al-Sya’biyah, mengatakan, “Selama itu perang Salib selalu membawa kegagalan. Akan tetapi peristiwa besar telah terjadi setelah itu, yakni pada saat Inggris mengirimkan pasukan Salibnya yang kedelapan. Pada kali ini telah benar-benar berhasil. Serangan Allenby atas al-Quds pada saat perang dunia pertama adalah serangan pasukan Salib yang kedelapan sekaligus yang terakhir. Oleh sebab itu, surat kabar Inggris menyebarkan foto Allenby dan di bawahnya tertulis sebuah ungkapan Allenby pada saat menaklukkan al-Quds yang amat terkenal, “Pada hari ini-lah, perang Salib telah usai”.

Berbagai surat kabar memberitakan bahwa ini bukan sikap Allenby saja, akan tetapi justru seluruh sikap politik Inggris. Surat kabar-surat kabar itu menulis, “, menteri luar negeri Inggris, di parlemen Inggris mengucapkan selamat kepada Jendral Allenby karena memperoleh kemenangan dalam akhir sebuah pertempuran dari perang Salib yang disebut oleh Lloyd George sebagai perang Salib yang kedelapan”.

Orang-orang Prancis juga tidak asing lagi dengan perang Salib. Sebab, hakekat agama kufur adalah satu. Contohnya adalah . Setelah mengalahkan pasukan Maysaloon di luar kota Damaskus, ia langsung pergi menuju pusara Shalahuddin al-Ayyubi di masjid jâmi’ al-Umawy dan menjejaknya dengan kakinya saraya mengatakan kepadanya, “Lihatlah, kami telah kembali wahai Shalahuddin!”.

Gerakan Salib di Prancis ini dikuatkan oleh ungkapan , menteri luar negeri Prancis, ketika dikunjungi oleh sejumlah anggota parlemen Prancis dan memintanya untuk membuat spesifikasi pertempuran yang terjadi di Marrakech. Monsieur mengatakan kepada mereka, “Itu adalah sebuah pertempuran antara Bulan Sabit dan Salib”.

Orang-orang Yahudi yang terlaknat di setiap masa itu, pada saat pasukan Israel memasuki al-Quds pada tahun 1967 M, pasukan perang itu langsung berkerumun di sekitar Tembok Ratapan (al-hâith al-mabkâ) dan meneriakan bersama , “Ini-lah hari pembalasan hari pertempuran Khaibar…Duhai dendam Khaibar”. Israel telah mengeksploitasi Gerakan Salib Barat sehingga Barat mendukungnya dengan melakukan demonstrasi di Paris sebelum perang tahun 1967 M dengan membawa banyak spanduk. Jean-Paul Sartre ikut berada di bawah spanduk-spanduk itu. Pada spanduk-spanduk dan berbagai kotak sumbangan untuk Israel itu tertuliskan “Bunuh Kaum Muslim!”.

Tentu saja semangat Pasukan Salib Barat menjadi berkobar-kobar. Masyarakat Prancis rela menyumbangkan sebanyak satu milyar Frank selama empat hari saja untuk mendukung dan memperkuat Zionisme yang terus menerus mengirim surat kepada Pasukan Salib Eropa di wilayah itu, yakni untuk memerangi Islam dan memberangus kaum Muslim.

Dalam satu perkembangan, tak sekalipun tiupan kedengkian Pasukan Salib itu pernah mengalami perbedaan dalam rentang waktu yang amat panjang, kepala bagian perencanaan pada kementerian luar negeri Amerika dan pembantu menteri luar negeri Amerika sekaligus penasehat presiden Johnson untuk urusan Timur Tengah sampai pada tahun 1967 M, mengatakan, “Kita harus mengetahui bahwa perbedaan yang ada diantara kita dan bangsa-bangsa Arab bukanlah perbedaan antara negara atau bangsa. Akan tetapi, merupakan perbedaan antara hadhârah (peradaban) Islam dan hadhârah (peradaban) Kristiani (Masîhiyah). Sebab, pertempuran antara Islam dan Kristen sesungguhnya terus berdarah-darah sejak abad pertengahan. Dan pertempuran itu, masih terus berlangsung hingga kini dengan bentuknya yang berbeda-beda. Sejak satu setengah abad yang lalu, Islam telah tunduk di bawah kekuasaan Barat. Sementara, warisan Islam telah tunduk pada warisan Kristiani”. Eugene Rostow melanjutkan, “Situasi sejarah yang ada semakin menguatkan bahwa Amerika adalah merupakan bagian penyempurna dunia Barat; baik dalam filsafat, akidah maupun dalam sistemnya. Hal inilah yang menjadikan Amerika berdiri memusuhi dunia Timur Islam beserta filasfat dan akidah yang terujud di dalam Islam. Amerika tidak mungkin kecuali harus berdiri pada barisan yang memusuhi Islam dan bersama-sama dengan dunia Barat dan negara Zionis. Sebab, jika Amerika melakukan sebaliknya, itu artinya Amerika telah mengingkari bahasa, filsafat, tsaqafah dan lembaga-lembanganya”. Rostow menjelaskan dan menegaskan bahwa tujuan penjajahan di Timur Tengah tak lain adalah menghancurkan hadhârah (peradaban) Islam. Sementara itu, berdirinya negara Israel adalah merupakan satu bagian dari rancangan-rancangan yang ada. Hal itu tidak lain adalah untuk meneruskan pertempuran Salib.

Willy Claes, Sekjen NATO pada awal tahun sembilan puluhan abad yang lalu, mengatakan, “Telah tiba saatnya bagi kita untuk melepaskan segala macam perbedaan dan permusuhan di masa lalu. Dan saat kita menghadapi musuh hakiki kita semua, itulah Islam!”.

Jean Calvin, pemimpin tertinggi pasukan persatuan NATO pada tahun 1994 M, mengatakan, “Kita telah beruntung pada saat perang dingin. Dan kita kini kembali lagi setelah tujuh puluh tahun dari pertempuran yang kecil menuju sebuah arena pertempuran yang telah berkobar sejak seribu tiga ratus tahun yang lalu. Itulah sebuah petempuran langsung yang amat besar melawan Islam”.

Pemimpin redaksi surat kabar Times dalam sebuah bukunya, Safar Âsiyâ, memberikan nasehat kepada pemerintah Amerika agar membuat kedikatatoran militer di negeri-negeri Islam untuk menghalangi kembalinya Islam yang akan memimpin kaum Muslim, sehingga mereka akan mampu mengalahkan Barat, hadhârah (peradaban) dan penjajahannya”.

Sementara Kissinger, mantan menteri luar negeri Amerika yang sebelumnya dan sekaligus sebagai salah satu teoritisi politik strategi keturunan Yahudi, mengatakan, “Sesungguhnya musuh baru yang harus dihadapi oleh Barat adalah dunia Arab Islam, sebagai sebuah dunia yang menjadi musuh baru bagi Barat”.

Nixon, mantan presiden Amerika , sekaligus sebgai salah satu ahli strategi Amerika, dalam bukunya, al-Furshah al-Sânihah, mengatakan, “Islam bukanlah agama semata. Akan tetapi, ia merupakan dasar bagi sebuah hadhârah (peradaban) yang besar”. Dia juga mengatakan, “Islam dan Barat adalah dua hal yang bertentangan. Dalam padangan Islam dunia terbagi menjadi dua; Dâr al-Islâm dan Dâr al-Harb, dimana yang pertama harus mengalahkan yang kedua”. Terkait kaum Fundamentalis, Nixon mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang bertekad bulat untuk mengembalikan hadhârah (peradaban) Islam dengan cara membangkitkan masa lalu. Mereka juga menyerukan penerapan syari’at Islam dan menyerukan bahwa Islam adalah agama dan negara. Akan tetapi, meskipun mereka melihat masa lalu, mereka sesungguhnya menjadikannya sebagai petunjuk menuju masa depan”.

Dalam bukunya, Shidâm al-Hadharât: ‘I’âdat Shun’ al-Nizhâm al-‘âlamy, Samuel Huntington, mengatakan, “Hubungan antara Islam dan Kristiani biasanya ibarat badai. Keduanya adalah perkara yang berbeda satu sama lain. Pertempuran abad ke dua puluh antara Demokrasi Libral dan Marxism-Leninism sesungguhnya hanya fenomena dangkal yang akan sirna ketika dibandingkan dengan hubungan pertempuran yang terus berlangsung dan mendalam antara Islam dan Kristiani (Masihiyah)”. Samuel juga mengatakan, “Islam adalah satu-satunya haadharah (peradaban) yang membuat keberlangsungan Barat berada dalam keraguan. Hal itu paling tidak telah dua kali dilakukan”. Akan kaitannya dengan faktor-faktor yang menyebabkan pertempuran antara Islam dan Barat di masa mendatang Samuel menyebutkan lima faktor:

-->Pertumbuhan penduduk dunia Islam menggantikan jumlah yang amat besar dari para pemuda pengangguran dan tamak yang direkrut menjadi tentara untuk urusan-urusan Islam.

-->Kebangkitan Islam telah memberikan kepercayaan (positifisme) baru bagi kaum Muslim pada sifat dasar dan kemampuan hadhârah (peradaban) mereka serta nilai-nilai khas mereka dibandingkan dengan hadharah dan nilai-nilai bagi Barat.

-->Usaha Barat penjajah yang terus menerus menyebarkan nilai-nilai dan organisai-organisaniya, serta campur-tangan mereka di dalam pergolakan-pergolakan yang terjadi di dunia Islam telah menyebabkan kekesalan hati yang amat dalam pada diri kaum Muslim.

-->Runtuhnya Sosialisme telah melenyapkan musuh bersama bagi Barat dan Islam. Sehingga, tinggal keduanya (Islam dan Barat) yang menjadi musuh yang akan membahayakan satu sama lain.

-->Gesekan (friksi) dan percampuran yang terus bertambah antara kaum Muslim dan Barat akan membangkitkan sensifitas-identitas khusunya pada masing-masing pihak. Bagaimana tidak, satu sama lain saling berbeda.

Inilah lima faktor-faktor terpenting bagi terjadinya pertempuran antara Barat dan Islam dan terus akan berjalan kedepan menuju sebuah pertempuran baru.

Pada 16/12/2008 M, tiba di Afganistan dalam kunjungan terakhirnya kepada sekutunya, Karzay, setelah mengunjungi Iraq yang menyebabkan dirinya mendapat lemparan sepatu yang menghinakan itu. Di antara yang ia katakan –pada waktu itu, “Saya ingin berterima kasih kepada presiden Karzay dan ingin menyampaikan kepada rakyat Afganistan bahwa Amerika Serikat (AS) mendukung mereka dan terus akan mendukung mereka dalam perjuangan yang amat panjang dalam memerangi terorisme dengan pertimbangan bahwa pertempuran keyakinan memang memakan waktu yang amat panjang”.

Inilah setetes dari lautan penjelasan yang akan mengungkap apa yang tersembunyi

PERADABAN BARAT DIAMBANG KERUNTUHAN

Akan tetapi, ditengah kerumunan permusuhan Barat yang amat bengis terhadap Islam, akidah dan syari’ahnya, pada tahun 2008 M telah terjadi sebuah gaung keruntuhan bagi ekonomi Kapitalis yang akan diteruskan dengan kehancuran ideologi Kapitalisme. Barat telah mengumumkan kebangkrutannya dalam aspek ini. Diantara topik yang amat paradoks, dimana pada saat Islam disebut-sebut sebagai agama konservatif, lalim, ketinggalan zaman, tidak berperadaban…dan harus diubah, justru dari sana, dari ‘rumah’ mereka sindiri, menggaung sebuah seruan yang menyatakan bahwa Islam-lah yang akan menyelamatkan dunia.

Seruan itu menyatakan bahwa, “Kita sangat-sangat butuh untuk membaca al-Quran, sebagai ganti dari Injil, demi memahami apa sebenarnya yang terjadi pada bank-bank kita”. Dengan nada yang bertanya-tanya, seruan itu mengatakan, “Apakah Wall Street mampu untuk memeluk prinsip-prinsip syari’ah Islam?”, dan sekaligus memberikan isyarat akan pentingnya sistem pendanaan Islam dan perannya dalam menyelamatkan ekonomi Barat. Dan sampai Paus sekalipun, yang baru beberapa bulan menghina Islam, tiba-tiba ia muncul dalam sebuah surat kabar yang berada di bawah komando politiknya, Romanian Observatory, dengan menyatakan keharusan mengambil pelajaran dari cara Islam dalam pendanaan melalui hutang yang benar-benar jauh dari riba (bunga) dan judi. Ya, benar. Barat yang telah dengan terus terang mengumumkan peperangan gilanya terhadap Islam, kini mereka telah mengumumkan, baik para pengamat, politisi maupun para pemikirnya, bahwa masa depan pertempuran ini akan berada di tangan Islam. Sementara, Barat akan benar-benar runtuh hadharahnya.

Dalam bukunya, , mengatakan, “Pada kenyataannya, yang mengancam dunia ini ialah bahwa negara kita mungkin saja kaya dengan berbagai komoditi, akan tetapi miskin spritual. Pendidikan dan pengajaran yang buruk, kriminalitas yang kian terus bertambah, kekerasan yang kian terus meningkat, perpecahan atas dasar rasisme yang kini terus berkembang, kemiskinan yang terus menjalar, dampak narkotika, budaya yang hancur di dalam sarana-sarana hiburan, merosotnya pelaksanaan hak-hak dan tanggung jawab sipil dan meluasnya kekosongan spritual, itu semua telah mengakibatkan cerai-berai dan keterasingan orang-orang Amerika dari negeri-negeri mereka, agama mereka dan bahkan antar mereka sendiri”.

, mantan penasehat keamanan nasional Amerika, mengatakan, “Masyarakat yang telah tenggelam dalam syahwat (msyarakat Amerika), sesungguhnya tidak akan mampu membuat undang-undang moral bagi dunia. Sementara, hadharah manapun yang tidak mampu mempersembahkan kepemimpinan moral, maka dipastikan akan sirna dan hancur”.

Adapun , setelah mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi dan kependudukan sebagai faktor-faktor yang akan menjadikan hadhârah Amerika (Barat) beranjak dari atas pentas negera dunia menuju pentas kehancuran, maka Huntington mengingatkan bahwa disana terdapat hal yang lebih dari pada faktor-faktor tersebut; itulah problem kehancuran moral, bunuh diri, dan perpecahan politik di dunia Barat. Dalam kaitannya dengan nampaknya kehancuran moral, Huntington menyebutkan sebagai berikut:

· Bertambahnya perilaku yang melanggar nilai-nilai sosial; seperti, kriminalitas, penggunaan narkotika dan berbagai tindak kekerasan secara umumnya.

· Hancurnya urusan rumah tangga. Hal ini mencakup meningkatnya ratio perceraian, anak tidak resmi, banyaknya remaja putri yang hamil, dan bertambahnya jumlah single parent family (keluarga berorangtua tunggal)

· Lemahnya etika kerja secara umum dan meningkatnya kecenderungan ketenggelaman sosial.

· Menurunnya komitmen pendidikan dan kegiatan pemikiran. Hal nampak pada rendahnya tingakat pencapaian bidang akademik negara Amerika Serikat (AS)

Lebih lanjut Huntington menuturkan bahwa “Kecenderungan-kecenderungan negatif ini-lah yang secara alami akan mengantarkan pada kepastian keunggulan moral (al-tafawwuq al-akhlâqy) bagi kaum Muslim. Sehingga, tentu saja mereka (kaum Muslim) akan membuang sikap indimâj/integrasi (menyatu dengan Barat) dan diganti dengan melanjutkan komitmen terhadap nilai-nilai, tradisi dan tsaqafah serta budaya original masyarakat mereka disertai dengan memasarkannya. Ketika proses isti’âb/kulturisasi (penyerapan) dan indimâj/integrasi (menyatu dengan Barat) mengalami kegagalan, maka, dalam kondisi semacam ini Amerika Serikat akan menjadi sebuah negara yang terpecah-pecah atau terbelah-belah dengan segala derivasinya berupa berbagai kemungkinan pergolakan dan perpecahan internal.

Surat kabar al-Wathan, Kuwait, dalam edisinya yang terbit pada 18/10/2006 M mempublikasikan sebuah berita yang dikutip dari “Financial Times, London, tulisan , ketua Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika, yang mengemukakan bahwa keputusan perang Iraq adalah penyebab pertama selesainya masa (kekuasaan) Amerika di wilayah itu. Dalam tulisan itu juga tertera, “Hari ini, setelah sekitar delapan puluh tahun dari runtuhnya kerajaan Utsmaniah dan lima puluh tahun dari akhir masa penjajahan serta kurang dari dua puluh tahun dari selesainya perang Dingin, dapat kita katakan bahwa masa (kekuasaan) Amerika di wilayah-wilayah tersebut telah berakhir. Hanya saja, mimpi-mimpi yang selalu menggelayuti hayalan sebagian orang seputar berdirinya Timur Tengah yang damai, cerah dan demokratis seperti Eropa tidak pernah akan menjadi kenyataan. Hal itu karena, kemungkinan yang amat kuat adalah lahirnya Timur Tengah Baru yang akan membangkitkan banyak kerugian bagi dirinya sendiri dan bagi Dunia. Amerika Serikat, pada masa kejayaannya, yang dimulai setelah runtuhnya Uni Soviet, telah menikmati kekuasaan dan kebebasan bertindak yang belum pernah terwujud sebelumnya. Akan tetapi, masa ini tidak bisa berlangsung kecuali hanya kurang dari dua dekade karena ada beberapa sebab.

Pertama adalah keputusan kantor presiden untuk melakukan penyerangan terhadap Iraq dan cara pengarahan aktifitas ini serta dampak yang diakibatkan oleh pendudukan. Usailah sudah negara Iraq yang sebelumnya dihegomoni oleh kelompok Sunni yang memiliki kekuatan untuk menciptakan keseimbangan dengan Iran. Sementara itu, banyak faktor-faktor lain yang bermunculan diatas pentas berbagai peristiwa. Diantaranya; selesainya aktifitas perdamaian di Timur Tengah, gagalnya sistem Arab konvensional dalam menghadang pengaruh Islam radikal, dan kemudian globalisasi yang telah menjadikan jalan yang mudah bagi kelompok radikal untuk mendapatkan pendanaan, persenjataan, pemikiran dan pasukan. Washinton akan terus menghadapi tantangan yang semakin bertambah dari para pemain lain dimana yang paling nampak adalah Uni Eropa, Cina dan Rusia. Akan tetapi, masalah yang paling banyak harus mendapatkan perhatian dari pada semua itu adalah tantangan yang akan lahir dari Negara-negara di wilayah Timur Tengah dan organisasi-organisasi radikal yang bersarang di sana”.

, salah seorang yang pernah dicalonkan dalam pemilihan presiden Amerika, dalam sebuah makalah yang berjudul “Apakah Perang Peradaban Akan Meletus” yang ia tulis seputar perang yang dipimpin oleh Amerika melawan apa yang disebut dengan terorisme, mengatakan, “Islam tidak mungkin dapat dihancurkan dan hanya akan selesai dengan kerugian. Hal ini didasarkan pada fakta kepastian hasil akhir peperangan agama apapun dengan kemenangan kekuatan Islam. Akan tetapi, tidak mungkin kita dapat menghancurkan Islam sebagaimana kita menghancurkan Nazisme, Fasisime dan speritual militer Jepang, Bolshevik dan Sosialisme (Sufiyâtiyah). Islam telah benar-benar mampu eksis selama kurang lebih empat ratus tahun, sebagaimana Islam adalah sebuah akidah yang menghegomoni lima puluh tujuh (57) negara. Dia benar-benar tidak dapat dihancurkan. Dari sisi materi Barat memang unggul. Akan tetapi, bagaimanapun juga keunggulan materi tidak mempu menghalangi hancurnya kekaisaran Sosialisme (Sufiyâtiyah). Dan jika faktor akidah adalah sebagai pemutus, maka Islam sesungguhnya adalah agama yang terus bertempur dan bergerak, sementara Kristen adalah agama yang jumud. Islam adalah agama yang terus mengalami perkembangan, sementara Kristen adalah agama yang kurus kering. Para pasukan Muslim adalah orang-orang yang selalu siap kalah dan mati, sementara Barat selalu menghindari beban kerugian. Patrick Bokna mengakhiri ungkapannya dengan, “Kalian jangan meremehkan Islam. Sebab Islam adalah agama yang paling cepat menyebar di Eropa…Dan agar anda dapat mengalahkan sebuah akidah, maka anda-pun harus memiliki akidah. Lantas apakah akidah kita? Kecenderungan individualisme?”

Tuliasan singkat politikus ini juga pernah dimuat pada 23/06/2006 M di “Muassasah Munâhadhat al-Harb” dengan judul Fikrah Âna Awânuhâ (Cita-cita Yang Telah Tiba Saatnya). Dalam tulisannya ini, Patrick Bokna menceritakan bahwa ide berhukum dengan Islam (Negara Islam) semakin menguat tali-talinya (akar-akarnya) ditengah-tengah kaum Muslim. Ia menuturkan bahwa ketika kita (Barat) menyaksikan tentara bersajata Amerika memerangi kelompok Sunni yang memberontak terhadap pemerintah, kelompok mujahidin Syi’ah, kelompok Jihadi Iraq dan kelompok Taliban yang membangkang terhadap undang-undang, dan mereka selalu mendekatkan diri kepada Allah, kita langsung teringat ungkapan Victor Hugo “Kekuatan tentara manapun tidak akan menandingi bangkitnya kekuatan Cita-cita Yang Telah Tiba Saatnya”. Pemikiran yang telah menyatu dengan pasukan perlawanan ini sesungguhnya adalah sebuah pemikiran yang sangat menentukan. Sebab, mereka meyakini bahwa di sana ada satu Tuhan, yaitu Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, Islam (atau tunduk kepada al-Quran) adalah satu-satunya jalan menuju surga dan bahwa masyarakat rabbâni wajib berhukum dengan syari’at Islam atau undang-undang Islam. Setelah mencoba berbagai jalan (aturan) yang akhirnya mengantarkan mereka pada kegagalan, kini mereka telah kembali ke pangkuan Islam. Ribuan juta kaum Muslim telah mulai kembali kepada akar mereka denga (cara menerapkan) Islam yang lebih bersih. Kekuatan keimanan di dalam Islam sungguh luar biasa. Buktinya Islam masih tetap eksis meskipun telah berlangsung dua abad kekalahan dan kehinaan yang menimpa kerajaan Ustmani dan dihancurkannya Khilafah pada masa Mustafa Kemal Ataturk, sebagaimana Islam juga telah mengalami penderitaan akibat pemeritah Barat selama beberapa generasi. Islam benar-benar telah membuktikan bahwa ia jauh lebih kuat dari pada faham nasionalisme Yaseer Arafat atau Sadam Husen. Yang harus difahami oleh Amerika ialah bahwa masalah ini bukan masalah yang biasa bagi kita. Dari Marokko hingga Pakistan; Amerika setelah ini tidak akan melihat kami lagi sebagai mayoritas meskipun kita adalah manusia yang baik-baik. Jika Negara Islam adalah sebuah pemikiran yang semakin menguat tali-talinya (akar-akarnya) di tengah-tengah kaum Muslim, maka bagaimana kekuatan pasukan yang terkuat di muka bumi ini dapat menghentikannya? Tidakkah kita membutuhkan politik (taktik) baru?!”.

Surat kabar al-Mujtama’ al-Kuwaitiyah edisi 119 tanggal 05/03/1996 M mengutip bahwa , anggota dewan urusan luar negeri kongres Amerika, menuturkan kepada direktur surat kabar, “Saya meyakini abad mendatang adalah abad Islam, abad tsaqafah Islam, dan abad ini akan menjadi sebuah kesempatan untuk semakin menciptakan kedamaian dan kesejahtraan di setiap penjuru dunia”.

Islam, Khilafah, dan Hizbut Tahrir Dalam Pandangan Barat (1)

Islam, Khilafah, dan Hizbut Tahrir Dalam Pandangan Barat (1)

PENGANTAR

Delapan puluh delapan tahun sudah, sejak keruntuhan mahkotanya, kehancuran Khilafahnya dan penjajahan Barat kafir atas negeri-negrinya umat Islam melewati masa-masa sulitnya…Delapan puluh depalan tahun sudah Barat kafir menjauhkan Islam dari kepemerintahan setelah terlebih dahulu menyempitkan wilayahnya dan mencabut unsur-unsur kekuatan di dalamnya; akidah yang menjadi landasan berfirkir dan aktifitasnya (al-‘aqîdah al-siyâsiah), sistem kehidupan yang komprehensif, Khilafah dan jihad. Barat kafir telah benar-benar mengubah dan mengganti agama ini setelah terlebih dulu mencetak corak ‘aqliyah (pola pikir) kaum Muslim dengan sebuah corak baru yang berdiri diatas dasar kaedah-kaedah pemikiran (al-Qawâid al-fikriyah) yang sama sekali terputus hubungan (al-munqathi’at al-shilah) dengan Allah . Lebih parah lagi, hal ini ternyata dibantu oleh para ‘ulamâ’ sû (ulama buruk yang mabuk dunia) yang berfatwa sesuai dengan kaedah-kaedah pemikiran Barat kafir. Sehingga, hasilnya adalah fatwa-fatwa yang sesat dan menyasatkan (dhâllah mudhillah) umat Islam. Delapan puluh delapan tahun sudah Barat kafir memaksakan undang-undang yang menjijikkan buatan mereka atas kaum Muslim dan menyerahkan kaum Muslim kepada para penguasa antek yang penuh dengan keburukan; penguasa-penguasa antek yang mereka jadikan sebagai ekor dan mereka gerakkan untuk membantai umat Islam dan merampas seluruh kekayaannya. Sehingga, akibat kebejatan penguasa-penguasa antek itu, umat ini tertimpa bencana yang tiada tara besarnya; pembantaian, pemenjaraan, penyiksaan, pengasingan, pengisolasian, penghinaan, pemiskinan, pembodohan, pengrusakan dan penyesatan…Delapan puluh delapan tahun sudah perjalanan penyiksaan umat Islam di tengah jalan yang penuh dengan kepedihan, air mata dan konspirasi atas mereka, dan hal ini masih terus berlangsung hingga kini.

Akan tetapi, setelah lewat delapan puluh delapan tahun, umat ini mulai menyadari bahwa mereka telah berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri dengan sebab menjauh dari pemahaman dan penerapan Islam yang benar, yang karenanya, umat ini mengarungi masa-masa kehidupan yang amat sempit (ma’îayat[an) dhank[an]) sebagai mana dituturkan al-Quran al-Karim sebagai akibat berpaling dari dzikir Allah, syari’at Allah dan hukum Allah . Umat Islam kini telah menyadari bahwa tiada jalan keluar dari semua itu kecuali dengan Khilafah Rasyidah. Karena itu, tekadnya semakin kuat untuk mewujudkan cita-citanya ini, dan mereka benar-benar optimis akan keterwujudannya meskipun berbagai rintangan mereka hadapi. Semetara itu, kaum Barat kini hampir saja gila akibat takut kembalinya Khilafah yang akan menghancurkan-leburkan hadharah (peradaban) mereka.

Inilah yang kita saksikan pada hari ini di berbabagi negeri kaum Muslim; Afganistan, Irak, Palestina, Somalia, Kasymir, Turikistan dan Chechnya. Inilah satu tujuan yang telah menjadi cita-cita seluruh kaum Muslim, yakni mengubah keberadaan mereka dengan cara benar-benar kembali kepada Allah  melalui jalan Khilafah Rasyidah. Sementara itu, satu-satunya pikiran yang telah menghantui Barat kafir adalah mencegah kembalinya Khilafah Rasyidah ini. Inilah hakekat pertarungan antara kaum Muslim melawan kaum Barat kafir. Sementara itu, semua slogan-slogan yang selama ini mereka gembar-gemborkan; perang melawan teroris (war on terorism), melawan ekstrimis dan lain sebagainya, tak ubahnya hanya untuk menaburkan debu ke dalam mata (dzarr al-ramâd fî al-‘uyûn).

Umat Islam kini melihat pada sebuah perubahan yang fundamental lagi menyeluruh, mereka benar-benar dipenuhi harapan, harapan akan bebas dari segala bencana yang selama ini telah dan sedang melandanya. Harapan umat ini sesuai dengan janji Rasulullah  bahwa kelak di akhir masa akan tegak sebuah negara Khilafah Rasyidah. Dan harapan ini juga sesuai dengan yang diungkapkan oleh pakar-pakar Barat kafir yang menghawatirkan kembalinya abad ke enam dan ke tujuh pada masa Nabi , dihidupkannya kembali Khilafah, yang sering mereka sebut dengan ‘kerajaan’ Islam yang membentang luas. Dan harapan ini tentu saja sesuai dengan yang didakwahkan Hizbut Tahrir yakni penegakan Khilafah Rasyidah kedua yang mengikuti manhaj kenabian dan sesuai dengan apa yang selama ini diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir dengan penuh kekonsistenan.

Ya Allah, dakwah ini adalah dakwah-Mu dan pertolongan adalah pertolongan-Mu. Kami semua selalu taat kepada perintah-Mu. Ya Allah, muliakanlah kami dengan Khilafah Rasyidah yang akan memuliakan Islam dan kaum Muslim, yang akan menghinakan kekufuran dan kaum kafir, dan jadikanlah Khilafah itu sebagai pintu gerbang berbondong-bondongnya manusia masuk ke dalam agama-Mu, dan wujudkanlah di atas pangkuannya seluruh kabar gembira yang telah Engkau kabarkan. Amin. (sumber : majalah alwaie arab edisi khusus)

Sabtu, 03 Oktober 2009

RAIH TAKWA, SONGSONG TEGAKNYA SYARIAH DAN KHILAFAH

RAIH TAKWA, SONGSONG TEGAKNYA SYARIAH DAN KHILAFAH

[Al-Islam 473] Di tengah suasana Idul Fitri saat ini, kaum Muslim di seluruh dunia sedang merasakan kebahagiaan. Kebaha­giaan ini merupakan salah satu dari kebahagiaan yang telah dijanjikan Rasulullah saw. bagi orang-orang yang berpuasa:

«لِلصَّائِمِ فَرْحَتاَنِ يَفْرَحُهُماَ إِذاَ أَفْطَرَ فَرَحَ، وَإِذاَ لَقِي رَبَّهُ فَرَحَ بِصَوْمِهِ»

Orang yang berpuasa diberi dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka (termasuk saat Idul Fitri) dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabb-nya karena puasanya (HR al-Bukhari, Muslim dan al-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Kita juga bahagia karena memiliki harapan dengan amal yang kita kerjakan. Dengan selesainya ibadah puasa, kita berpeluang diampuni, diberi pahala yang besar, dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan, sebagaimana janji Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kita juga bahagia menyaksikan kaum Muslim mengagungkan asma’ Allah, berbondong-bondong untuk shalat berjamaah dan bersimpuh bersama mendengarkan khutbah. Realitas ini seolah menunjukkan kepada kita bahwa inilah jatidiri umat Islam yang sebenarnya.

Namun demikian, tentu kita tidak boleh melupakan nasib saudara-saudara kita yang sangat menyedihkan di berbagai negara. Di Irak dan Afganistan, saudara-saudara kita masih berada di bawah cengkeraman negara penjajah, Amerika dan sekutunya. Ironisnya, para penguasa di kedua negeri tersebut malah menjadi antek yang mengabdi untuk negara penjajah itu.

Di Palestina, negeri kaum Muslim dirampas dan selama puluhan tahun diduduki kaum Yahudi Israel hingga kini. Sebagian penduduknya terusir, hidup menderita dan terlunta-lunta. Tidak ada satu pun negeri di sekitar mereka yang mau mengakui mereka sebagai warganya. Mereka tidak bisa ke mana-mana karena tidak memiliki identitas kewarganegaraan. Keadaan mereka selalu terancam oleh kebiadaban bangsa terlaknat itu. Mereka harus menghadapi negara zionis sendirian dengan senjata seadanya. Ironisnya, para penguasa di negeri-negeri Muslim lainnya hanya berdiam diri. Bahkan di antara mereka ada yang bersekutu dengan musuh Allah itu dalam membantai saudara-saudara mereka.

Keadaan memilukan juga dialami saudara-saudara kita di China. Di negara Komunis itu, umat Islam dari suku Uighur di Xinjiang—yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Turkistan Timur—menjadi korban kebrutalan suku Han, yang didukung penuh oleh rezim Komunis, China.

Di Turki, para pejuang syariah dan Khilafah harus menghadapi kekejaman penguasa sekular. Hingga kini, ratusan aktivis Hizbut Tahrir Turki ditahan dan dipenjara tanpa alasan.

Nasib yang dialami saudara-saudara kita di Pattani Thailand, Moro Philipina Selatan, Kashmir, Rohingya di Miyanmar, Pakistan, Banglades dan lain-lain kian memperpanjang daftar penderitaan umat Islam.

Yang juga tidak boleh dilupakan adalah isu terorisme yang kembali dimunculkan di negeri ini. Pihak-pihak yang membenci Islam berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengaitkan aksi terorisme dengan perjuangan dakwah menegakkan syariah. Bahkan ada yang ingin membungkam dakwah dengan memprovokasi penguasa agar menerapkan kembali undang-undang represif seperti pada rezim otoriter sebelumnya.

Karena itu, wajar jika kita mengatakan, bahwa saat ini kita merayakan Hari Kemenangan justru dalam kekalahan.

Namun demikian, kita tidak boleh berkecil hati dan berputus asa. Kita harus yakin bahwa kaum Muslim akan kembali tampil menjadi pemimpin dunia. Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa (QS al-Nur [24]: 55).

Dalam ayat ini, ada tiga perkara yang Allan SWT janjikan kepada kaum Muslim. Pertama: mereka akan kembali diberi Kekhilafahan sebagaimana pendahulu mereka. Ini artinya, mereka akan kembali berkuasa dan memimpin dunia dengan Khilafah (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm).

Kedua: posisi Islam akan diteguhkan bagi kaum Muslim. Dengan tegaknya Khilafah, semua hukum Islam bisa diterapkan. Khilafah juga menjadi penjaga agama dari setiap bentuk pelanggaran, pengingkaran dan penistaan. Lebih dari itu, Khilafah akan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia hingga mengalahkan semua agama dan ideologi.

Ketiga: perubahan nasib umat Islam, yang sebelumnya diliputi dengan ketakutan berubah menjadi aman sentosa. Ketika kaum Muslim hidup tanpa Khilafah, musuh-musuh Islam dengan mudah merampas harta mereka, menghinakan kehormatan mereka dan menumpahkan darah mereka. Tegaknya Khilafah akan mengubah keadaan yang menyedihkan ini. Sebab, Khilafahlah institusi pelindung kaum Muslim. Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Sesungguhnya Imam (kepala negara/Khalifah) adalah perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, ketika seorang Muslimah jilbabnya ditarik oleh salah seorang Romawi, ia segera meminta tolongan kepada Khalifah. Khalifah serta-merta bangkit dan memimpin sendiri pasukannya untuk merespon pelecehan tersebut. Sesampainya di Amuria, beliau meminta agar orang Romawi pelaku kezaliman itu diserahkan untuk di-qishash. Saat penguasa Romawi menolaknya, beliau pun segera menyerang kota, menghancurkan benteng pertahanannya dan menerobos pintu-pintunya hingga kota itu pun jatuh ke tangannya.

Saat ini kita sedang berada dalam masa mulk[an] jabriyyah (penguasa diktator), yaitu fase akhir sebagaimana dinyatakan dalam bisyârah Nabawiyyah. Dalam hadis penuturan Hudzaifah ra. disebutkan, setelah hidup di bawah penguasa mulk[an] jabriyyah, umat Islam akan kembali hidup dalam naungan Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah:

«…ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

…Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian (HR Ahmad dalam Musnad-nya; semua perawinya tsiqah).

Bertolak dari hadis ini, tegaknya Khilafah alâ minhâj an-Nubuwwah yang kedua, insya Allah tidak akan lama lagi.

Kembalinya Khilafah merupakan nashrul-Lâh (pertolongan Allah) kepada kaum Muslim. Pertolongan itu mutlak milik Allah SWT dan Allah Yang Mahaadil telah menetapkan syarat bagi hamba-Nya yang ingin mendapat pertolongan-Nya. Allah SWT berfirman:

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ[

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (QS Muhammad [47]: 7).

Ungkapan ‘menolong Allah’, sebagaimana dijelaskan Abu Hayyan al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, bermakna menolong agama-Nya. Demikian pula menurut mufassir lainnya seperti Ibnu al-Jauzi, az-Zamakhsyari, al-Baidhawi dan Syihabuddin al-Alusi.

Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa ‘amaliyyah praktis ‘menolong Allah’ adalah dengan melaksanakan agama-Nya, berdakwah kepada-Nya dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya, yang dilakukan dengan niat ikhlas karena-Nya.

Dari semua penjelasan itu dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan ‘menolong Allah’ itu adalah bertakwa kepada-Nya, yakni menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Takwa inilah yang menjadi syarat bagi datangnya pertolongan Allah kepada hamba-Nya. Inilah juga yang diisyaratkan Umar bin al-Khaththab ra. saat berkata:

«فَإِنْ لَمْ نُغَِلَّبْهُمْ بِطَاعَتِنَا غَلَّبُوْنَا بِقُوَّتِهِمْ»

Jika kita tidak mengalahkan musuh kita dengan ketaatan kita (kepada Allah), niscaya musuh akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.


Jelaslah, agar pertolongan Allah segera datang, dan Khilafah segera tegak kembali, kita harus meningkatkan ketakwaan kita. Kita harus bertakwa dengan sebenar-benarnya, sebagaimana yang Allah SWT perintahkan (QS Ali ‘Imran [3]: 102). Takwa yang sebenar-benarnya ini hanya ada ketika kita telah mengerahkan seluruh kemampuan yang kita miliki untuk merealisasikannya (QS ath-Taghabun [64]: 16); bukan hanya dengan mengerahkan setengah, sepertiga atau seperempat kemampuan kita.

Kita juga harus bertakwa dalam semua perkara yang disyariahkan; tidak hanya dalam perkara ibadah ritual, makanan dan akhlak saja; namun dalam perkara politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, pergaulan, sanksi-sanksi hukum dan seluruh bidang kehidupan lainnya (Lihat: QS al-Hasyr [59] 7).

Selain ketakwaan, kita juga harus melakukan berbagai persiapan dan cara yang benar sesuai dengan keperluannya (Lihat: QS al-Anfal [8]: 60). Dengan terpenuhinya dua syarat itu, insya Allah kita akan meraih kemenangan.

Demikian juga dalam perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah. Syariah Islam mengharuskan adanya kelompok atau organisasi dakwah Islam (QS Ali ‘Imran [3]: 104), yakni yang asasnya akidah Islam; tujuannya melangsungkan kembali kehidupan Islam dalam institusi Khilafah; pemikiran dan hukum yang diadopsi seluruhnya bersumber dari Islam. Dalam mencapai tujuan, gerakan tersebut juga harus mengikuti tharîqah (metode) dakwah Rasulullah saw., tidak boleh menyimpang sedikit pun darinya. Anggota-anggotanya harus Muslim, taat syariah dan ikhlas berjuang karena Allah; yang semuanya diikat dengan fikrah (pemikiran) dan tharîqah (metode perjuangan) yang sama. Selain itu, mereka juga harus mempunyai politik yang sempurna.

Jika semua syarat ini sudah dipenuhi, insya Allah pertolongan-Nya segera tiba. Karena itu, jangan sekali-kali berputus asa, apalagi berbelok arah dan mengambil langkah pragmatis. Na’ûdzu bil-Lâh.

Akhirnya, hanya kepada Allahlah kita mengharapkan pertolongan karena Dia berfirman:

]إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ[

Jika Allah menolong kalian, pasti tidak ada yang dapat mengalahkan kalian. Jika Allah membiarkan kalian (tidak memberi pertolongan), lalu siapakah yang dapat menolong kalian sesudah itu? Karena itu, hendaklah hanya kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal (QS Ali ‘Imran [3]: 160).

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kekuatan iman dan semangat untuk menjalankan hukum-hukum-Nya serta memasukkan kita ke dalam golongan pejuang-pejuang Islam, yang berupaya mewujudkan Khilafah, yang mengikuti manhaj Nabi saw.

[Disarikan dari Naskah Khutbah Idul Fitri 1430 H yang dikeluarkan HTI

Berharap pada DPR baru ?

BERHARAP PADA DPR BARU?

[Al-Islam 474.] KAMIS, 1 Oktober 2009, negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini kembali disuguhi oleh salah satu peristiwa cukup besar sekaligus mewah: Pelantikan Anggota DPR Terpilih Periode 2009-2014. Pelantikan yang dikawal tidak kurang oleh 3000-an pasukan keamanan ini dikatakan peristiwa besar karena para anggota DPR baru tersebut selama lima tahun ke depan akan turut ‘menentukan nasib’ jutaan rakyat negeri ini. Pasalnya, sebagaimana sebelumnya, melalui tangan para anggota DPR-lah sejumlah produk UU yang mengatur seluruh kehidupan rakyat bakal lahir. Pelantikan ini juga sekaligus mewah karena menelan biaya sekitar Rp 11 miliar hanya untuk acara sekitar dua jam saja. Jumlah sebesar itu baru anggaran dari KPU. Padahal, sebagaimana lima tahun sebelumnya, acara pelantikan tersebut lebih bersifat seremonial belaka. Adapun dari DPR sendiri, Setjen DPR telah menganggarkan Rp 26 miliar atau sekitar Rp 46,5 juta peranggota untuk biaya pindah tugas (tiket keluarga anggota Dewan dan biaya pengepakan) bagi anggota baru terpilih dari luar Jakarta. Hal itu didasarkan pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 7/KMK.02/2003 (Kompas.com, 9/9/2009).

Berharap pada DPR Baru?

Sekitar 70% anggota DPR Periode 2009-2014 memang benar-benar baru. Namun, sesuai dengan hasil Pemilu 2009 lalu, keanggotaan DPR baru itu tetap didominasi oleh partai-partai lama yang notabene sekular. Berdasarkan validasi terakhir KPU, perolehan kursi tiap parpol di DPR adalah: Partai Demokrat 150, Partai Golkar 107, PDIP 95, PKS 57, PAN 43, PPP 37, PKB 27, Gerindra 26, Hanura 18 (Mediacenter.kpu.go.id, 14/5/2009).

Dengan keanggotaan yang mayoritas berasal dari parpol-parpol sekular, kaum Muslim yang mayoritas di negeri ini tentu tidak banyak berharap bahwa DPR baru ini akan berpihak kepada mereka. Pasalnya, meski banyak anggota baru, visi dan misi mereka tetaplah sama dengan partainya, yakni sekular. Karena itu, jangan berharap, misalnya, DPR baru akan banyak menerbitkan UU yang sesuai dengan syariah, meloloskan peraturan yang melarang aliran-aliran sesat seperti Ahmadiyah, dll. Yang terjadi, mereka akan banyak memproduksi UU sekular yang notabene bertentangan dengan syariah.

Selain itu, secara umum rakyat pun pantas untuk pesimis. Pasalnya, kualitas anggota DPR yang baru diperkirakan menurun. Ini karena pada Pemilu Legislatif lalu, dengan mekanisme suara terbanyak, banyak anggota DPR terpilih lebih karena faktor popularitas semata. Wajar jika kalangan artis/selebritis, misalnya, bisa dengan mudah mengalahkan caleg dari kalangan politisi kawakan yang tentu saja kalah populer.

Untuk menilai kualitas para anggota DPR baru, kinerja para anggota DPR lama bisa dijadikan acuan. Sebagai perbandingan, Pusat Kajian Anti (Pukat) Korupsi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menilai kinerja Legislatif periode 2004-2009 masih buruk. Hal ini terlihat antara lain dari efektivitas pembuatan undang-undang serta komitmen untuk pemberantasan korupsi. “Kami menilai rapor DPR dengan nilai D, yang artinya masih buruk,” kata peneliti dari Pukat Korupsi Hifdzil Alim di Yogyakarta, Selasa (30/6).

Menurut dia, beberapa UU yang dihasilkan DPR juga memiliki substansi buruk, misalnya UU Pertambangan Mineral dan Batubara (UU No.4 Tahun 2009) karena memberlakukan kontrak karya hingga berakhir dan UU Badan Hukum Pendidikan (UU No.9 Tahun 2009) karena memasukkan konsep perusahaan ke dalam konsep penyelenggaraan pendidikan.

Di sisi lain, Direktur Pukat Korupsi Zainal Arifin Mochtar menyatakan bahwa lembaga legislatif telah mati rasa. “Banyak UU yang ditolak oleh masyarakat, tetapi tetap diteruskan oleh DPR. Ini aneh, karena seharusnya dewan adalah wakil dari rakyat,” katanya (Matanews, 30/6/2009).

Dengan kualitas DPR yang buruk tersebut, wajar jika sejumlah survei menunjukkan tingginya kekecewaan masyarakat terhadap lembaga ini. Tingginya kekecewaan ini sangat beralasan. Pasalnya, banyak produk UU yang dihasilkan DPR tidak memihak rakyat yang berada di tengah himpitan dan beban hidup yang semakin sulit dan berkepanjangan. Perundang-undangan tersebut di antaranya UU Migas, UU Penanaman Modal, UU SDA, UU BHP, UU Minerba, dll. yang akan menimbulkan kehancuran perekonomian nasional dan lingkungan serta meningkatkan kemiskinan, pengangguran, kebodohan, kelaparan rakyat di negeri yang kaya ini.

DPR: Wakil Siapa?

Melihat ‘track-record’ DPR yang jelas-jelas buruk dalam melegislasi/mengesahkan sejumlah UU, sebagaimana dicontohkan di atas, kita tentu semakin khawatir bahwa sejumlah RUU yang masuk dalam Prolegnas 2009-2014 pun akan tetap mengenyampingkan kepentingan rakyat dan lebih memihak kepentingan mereka yang punya uang. Pasalnya, tidak dipungkiri, ‘aroma uang’ hampir selalu mewarnai setiap pembahasan RUU di DPR. Beberapa produk UU seperti UU Migas, UU SDA dan UU Penanaman Modal, misalnya, diduga kuat didanai oleh sejumlah lembaga asing seperti World Bank. Simak, misalnya, pernyataan USAID (United States Agency for International Development) “USAID has been the primary bilateral donor working on energy sector reform.”

Khusus mengenai penyusunan UU Migas, USAID secara terbuka menyatakan, “The ADB and USAID worked together on drafting a new oil and gas law in 2000” (http:www.usaid.gov/pubs/cbj2002/ane/id/497-009.html).

Berdasarkan UU Migas No 22 tahun 2001 ini, pemain asing boleh masuk sebebasnya dari hulu sampai hilir. Saat ini, menurut DR. Hendri Saparini, lebih dari 90% dari 120 kontrak production sharing kita dikuasai korporasi asing. Dari sekitar satu juta barel perhari Pertamina hanya memproduksi sekitar 109 ribu barel, sedikit di atas Medco 75 ribu barel. Sebaliknya, produksi terbesar adalah Chevron sekitar 450 ribu barel perhari. Berdasarkan UU Migas yang radikal itu pula, pada 2004 sebanyak 105 perusahaan swasta mendapat izin untuk merambah sektor hilir migas; termasuk membuka SPBU (Trust, edisi 11/2004).

Campur tangan asing dalam pembuatan UU tak hanya di sektor migas (minyak dan gas), tetapi juga di sektor lainnya. RUU Kelistrikan, misalnya, dibuatkan Bank Dunia. RUU BUMN dibuatkan oleh Price Waterhouse Coopers. RUU SDA, RUU Maritim, RUU BHP dan regulasi mengenai hajat hidup rakyat juga tak lepas dari intervensi asing. Bahkan khusus terkait dengan yang terakhir, yakni RUU BHP, menurut Darwis SN, pemerhati kebijakan publik, yang juga alumnus University of Adelaide Australia, draft-nya sebenarnya telah dirancang sejak pertemuan “World Declaration on Higher Education for the Twenty-First Century: Vision and Action” di Paris tahun 1998 yang disponsori UNESCO. Ini merupakan salah satu konsekuensi dari General Agreement on Trade in Services (GATS) WTO yang meliberalisasi perdagangan 12 sektor jasa, antara lain layanan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, jasa akuntansi, pendidikan tinggi dan pendidikan selama hayat. Bersama Amerika dan Inggris, Australia memang paling getol mendesakkan liberalisasi sektor jasa pendidikan melalui WTO. Pasalnya, sejak tahun 1980-an, mereka mendapatkan keuntungan paling besar dari liberalisasi jasa pendidikan (Ender dan Fulton, Eds, 2002). Pada tahun 2000 saja, ekspor jasa pendidikan Amerika mencapai USD 14 miliar atau Rp 126 triliun.

Di bidang penanaman modal, pihak asing juga dibiarkan mengambil-alih perusahaan-perusaahan negara yang menguasai hajat hidup orang banyak, seperti BUMN. Dengan UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal, pemain asing dan pemain lokal dibiarkan bebas berkompetisi di Indonesia. Pasal 7 ayat 1 dan 2 malah menghalangi “nasionalisasi” dengan berbagai aturan yang menyulitkan dan merugikan negara sendiri. Yang terjadi justru internasionalisasi BUMN. Tahun 2008, Komite Privatisasi memutuskan untuk memprivatisasi (melego) 34 BUMN dan melanjutkan privatisasi 3 BUMN yang tertunda tahun sebelumnya (Bisnis Indonesia, 5/2/2008).

Di sektor perbankan, ada UU Perbangkan. Melalui pasal 22 ayat 1b UU Perbankan ini, warga negara dan badan hukum asing bebas untuk bermitra dengan warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia mendirikan Bank Umum. Pihak asing pun bisa memiliki hingga 99% saham bank di Indonesia. Saat ini 6 dari 10 perbankan terbesar di Indonesia kepemilikan mayoritasnya dikuasai asing.

Dengan semua kenyataan di atas, tentu tidak salah jika Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengungkapkan, tidak ada produk hukum yang lahir dari (baca: demi) kepentingan masyarakat murni (Jabarnews.com, 11/6/2009).

Jika banyak UU tidak ditujukan demi kepentingan rakyat, lalu DPR itu wakil siapa? Karena itu, DPR sebagai wakil rakyat itu hanyalah klaim.

Kembalikan Kedaulatan Syariah!

Harus disadari, masalah pokok yang menimpa umat Islam saat ini di dunia, termasuk Indonesia, sesungguhnya berpangkal pada tidak hadirnya kedaulatan Asy-Syâri’—Allah SWT—di tengah-tengah kehidupan mereka. Yang bercokol selama puluhan tahun justru ‘kedaulatan rakyat’ yang semu. Pasalnya, di DPR selalu yang duduk adalah segelintir orang yang sering justru tidak memihak rakyat, tetapi lebih sering memihak pengusaha, para pemilik modal dan bahkan kekuatan asing. Rakyat malah sering hanya dijadikan ‘sapi perahan’ oleh para wakilnya di DPR. UU Migas, UU SDA, UU Penanaman Modal, UU Minerba, UU BHP dll yang dihasilkan oleh DPR pada faktanya lebih ditujukan untuk memenuhi kehendak para pemilik modal dan kekuatan asing. Rakyat sendiri tidak tahu-menahu duduk persoalannya.

Semua itu tidak lain sebagai akibat tidak tegaknya kedaulatan syariah akibat disingkirkannya al-Quran sebagai pedoman hidup. Mahabenar Allah Yang berfirman:

]وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى[

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20]: 124).

Menegakkan kedaulatan syariah adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi kaum Muslim. Satu-satunya lembaga yang mampu mewujudkan kedaulatan syariah itu hanyalah Daulah Islam seperti zaman Nabi saw., atau yang kemudian dikenal setelah Nabi wafat sebagai Khilafah, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah (yang tegak berdiri di atas manhaj Nabi saw.). Inilah yang telah dibuktikan oleh sejarah Kekhilafahan Islam selama berabad-abad.

Inilah jalan baru yang dibutuhkan oleh dunia, termasuk Indonesia saat ini. Jalan inilah yang akan mengubah wajah dunia (termasuk negeri ini) yang didominasi oleh kezaliman menjadi wajah dunia yang adil dan makmur. Kini jalan baru itu telah diemban oleh jutaan umat Islam dan berkembang di lebih dari 40 negara.

Hizbut Tahrir bersama umat Islam di seluruh dunia kini siap menyongsong kabar gembira, yakni dengan kembalinya Khilafah ’ala minhaj an-Nubuwwah. Allah SWT berfirman:

]مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا[

Siapa saja yang menghendaki kemuliaan, maka kemuliaan itu semuanya hanyalah milik Allah (QS Fathir [35]: 10).

Pengikut

Arsip Blog