Sekulerisme Mengokohkan Penjajahan
Pro kontra judicial review UU 1 PNPS tahun 1965 tentang pencegahan penodaan/penistaan agama sesungguhnya mencerminkan pertarungan ideologi antara Islam dan Sekulerisme-Liberal. Argumentasi dengan cara pandang sekulerisme tampak dari pernyataan perwakilan Konferensi Wali Gereja (KWI) Beny Susetyo (10/02) yang mengatakan negara tidak dapat membatasi hak umat beragama. Menurutnya, kebebasan beragama merupakan hak mutlak setiap individu. Indonesia bukanlah suatu negara agama sehingga negara tidak dapat melakukan intervensi.
Sekulerisme sendiri yang menjadi dasar dari sistem Kapitalisme pada intinya menolak agama dijadikan dasar negara. Agama hanya berfungsi mengatur urusan-urusan individual, moralitas, dan ritual. Agama dilarang mencampuri urusan politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan lainnya. Karena agama urusan pribadi, negara tidak boleh mencampuri keyakinan seseorang. Negara tidak boleh menghakimi keyakinan rakyatnya.
Pandangan sekuler di atas jelas ditolak oleh Islam, sekaligus berbahaya. Bila pandangan ini diterima maka akan terjadi pengerdilan Islam dengan membatasinya pada urusan individual, ritual dan moralitas. Sebaliknya, dalam aspek yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dll Islam tidak dipakai sama sekali. Aspek yang dikenal sebagai aspek muamalah (yang mengatur kehidupan manusia dengan sesamanya) ini kemudian diatur oleh aturan di luar Islam, yakni kapitalisme-liberal.
Padahal kapitalisme-liberal inilah pangkal bencana yang menimpa manusia. Dalam aspek ekonomi, kapitalisme-liberal yang rakus telah menimbulkan penjajahan negara-negara maju atas Dunia Ketiga. Indonesia adalah negara yang mengalami sejarah panjang kolonialisme yang mengerikan itu. Kedatangan penjajah di bumi Nusantara telah membawa penderitaan yang tak terperi.
Sekarang negara-negara kapitalisme liberal menjajah dan merampok kekayaan alam kita atas nama investasi asing, pasar bebas, privatisasi, utang luar negeri, dan rezim mata uang dolar. Akibat diprivatisasi, pendidikan dan kesehatan menjadi mahal dan semakin tidak bisa dijangkau. Orang miskin seakan tidak boleh sakit dan tidak boleh pintar. Pengurangan subsidi yang menjadi ciri dari kebijakan liberal ini pun telah menyebabkan BBM menjadi mahal karena mengikuti harga internasional. Dampaknya luar biasa; biaya hidup menjadi tinggi, harga-harga melambung tinggi, para pekerja terancam PHK, kemiskinan pun meningkat. Kebijakan kapitalisme-liberal ini pun secara sistematis menjadi sarana merampok kekayaan alam kita.
Kriminalitas, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian meningkat tidak bisa dilepaskan dari kesulitan ekonomi. Liberalisme menjadi pintu gaya hidup yang penuh dengan kemaksiatan seperti kebebasan seksual, pornografi, lesbianisme, homoseksual, pelacuran. Semua ini terjadi karena kapitalisme-liberal meminggirkan peran Islam dalam aspek ekonomi dan sosial. Inilah bahaya dari pandangan sekulerisme.
Dalam pandangan Islam, agama bukan saja boleh mengintervensi negara, bahkan Islam wajib menjadi dasar negara. Negara harus menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai sumber hukum. Syariah Islam harus mengatur segala aspek kehidupan; bukan hanya masalah individual, moral, atau ritual; tetapi juga ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Negara dalam pandangan Islam wajib campur tangan. Tentu saja bukan dalam pengertian memaksa warga non-Muslim untuk memeluk agama Islam atau melarang non-Muslim tidak boleh beribadah. Campur tangan negara wajib dan diperlukan semata-mata dalam menjaga akidah umat Islam dan eksistensi agama Islam itu sendiri.
Sebagai kepala negara Daulah Islam, Rasulullah SAW pun dengan tegas menjatuhkan sanksi hukuman mati bagi orang yang murtad. Abu Bakar ra, saat menjadi khalifah memerangi Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku nabi. Mengapa negara hirau dalam masalah akidah ini? Sebab, akidah adalah dasar dan pondasi setiap Muslim dan negara. Kalau pondasi ini lemah, negara juga pada akhirnya akan lemah.
Karena itu, pandangan sekuler jelas berbahaya. Dengan alasan kebebasan beragama, misalnya, seorang Muslim bisa dengan seenaknya murtad dari Islam. Dengan alasan kebebasan berkeyakinan, orang dibiarkan membuat keyakinan yang aneh-aneh: mengaku nabi, mengaku Jibril, shalat dua bahasa, ibadah haji tidak perlu ke Makkah, dll. Sikap negara yang mendiamkan masalah ini jelas membuat akidah menjadi persoalan remeh.
Selanjutnya, berdasarkan akidah Islam ini negara mengatur masyarakat dengan menerapkan syariah Islam. Syariah Islam akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok tiap individu masyarakat. Syariah Islam juga mengatur bahwa pendidikan dan kesehatan harus gratis untuk warga negara, Muslim maupun non-Muslim. Syariah Islam juga akan menjamin keamanan warganya, Muslim ataupun non-Muslim.
Syariah Islam juga akan menjadikan kekayaan alam yang merupakan milik umum (seperti minyak, emas, batu bara, timah, dll) menjadi milik rakyat yang tidak boleh diserahkan kepada individu atau perusahaan asing. Negara akan mengelolanya dengan baik dan hasilnya diserahkan untuk kepentingan masyarakat.
Walhasil, umat Islam harus bersungguh-sungguh memperjuangkan negara yang berdasarkan Islam. Hanya dengan itulah akidah umat terjaga, masyarakat sejahtera, keamanan terjamin dan kesatuan negara kokoh. [Farid Wadjdi]
sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/22/sekulerisme-mengokohkan-penjajahan/
Sabtu, 05 Juni 2010
Musuh Islam Berlabel Islam Yang Didanai Asia Foundation.txt
Dengan dana uang The Asia Fondation Islam Liberal menyusupi ormas Islam seperti NU, Muhammadiyyah,
Hidayatullah, YPI Al Azhar, dan sebagainya. Selain menyusup mereka juga membentuk organisasi seperti JIL
dan Paramadina. Dengan cara ini mereka merusak Islam dari dalam dengan paham pluralisme, tafsir tematik/
hermeunetika (mentafsirkan al Qur'an dengan pola pikir sekuler), kesetaraan gender, filsafat serta aliran sufi
yang bertentangan dengan Islam.
Musuh Islam Berlabel Islam
Inilah daftar lembaga beserta nama tokoh dan alamatnya yang meminta-minta (istilah Ulil Abshar Abdalla,
Koordinator JIL: mengajuÂkan proposal dana, lalu dalam bahasa pergaulan dipakai ungkapan partner dalam
kerjasama) kepada The Asia Foundation
Ghirah dan kecemburuan kaum Muslimin terhadap ajaran Islam yang agung, dewasa ini betul-betul mengÂhadapi
ujian berat. Serbuan propaganda kekafiran, kemaksiatan dan hujatan bahkan pelecehan terhadap Islam mengalir
deras tak terbendung. Secara historis, memanglah wajar, mengingat perÂseÂteruan antara haq dan batil
memang tidak pernah berakhir, hingga akhir zaman.
Namun, yang amat menggelisahkan adalah realitas bahwa banyak kalangan Muslim yang dengan setia menjadi
penonton dari pertunÂjukan kafir di depan kelopak matanya. Tidak sedikit pula kaum Muslimin yang secara
tegas membantu menghina dan melecehkan ajaran Islam di hadapan orang-orang kafir! Hinaan dan pelecehan itu
terkadang diaplikasikan dalam bentuk tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti melakukan
sebuah kekafiran, terkadang juga berupa ucapan yang secara sadar atau tidak sadar sebenarnya adalah
hujatan terhadap Islam!
Yang paling parah lagi, bila itu dilakukan oleh orang yang memakai label Islam. Salah satunya adalah majalah
Syir'ah yang didanai oleh The Asia Foundation (TAF).
Mendengar nama TAF, tentu tidak heran lagi telinga kita, pastilah lembaga yang didanai bersenyawa dengan
kelompok Liberalis berkedok Islam lainnya. Sebab, hampir semua LSM yang didanai oleh TAF, produknya
sama, yaitu menggerogoti akidah Islam. Kekacauan yang terbesar adalah penyebaran racun-racun pluralisme,
liberalisme dan inklusivisme yang diusung oleh JIL dengan Komunitas Utan Kayunya, Paramadina dengan Fiqih
Lintas Agamanya dan Musdah Mulia dengan Kompilasi Hukum Islamnya.
Majalah Syir'ah, namanya sangat bagus, berarti jalan yang terang, diambil dari Al-Qur`an surat Al-Ma`idah
48: Wa likullin ja'alna minkum syir'atan wa minhajan terjemah Indonesianya: Untuk tiap-tiap umat di antara
kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Motonya pun cukup bagus, Mengurai Fakta Menenggang Beda: Berangkat dari kesadaran akan perbedaan.
Perbedaan sebagai ciptaan Allah yang abadi. Bukan untuk bertikai, melainkan untuk berlomba-lomba untuk
berbuat kebajikan.
Tapi akhlaknya buruk tidak seindah motoÂnya. Misinya kotor tak seterang namaÂnya. Setiap edisi yang
diterbitkan tiap bulan, selalu ada racun yang ditebarkan kepada pembaca di negara Muslim terbesar di
dunia ini. Topik racunnya pun monoton, yakni mencitranegatifkan umat Islam, mencitrapositifkan Yahudi dan Nasrani, serta melegalisasi pemurtadan umat Islam.
Ternyata Syir'ah tidak mengurai fakta menenggang beda, tapi mengurai fitnah menenggang pemurtadan. MAG, MAI
MEREKA ADALAH SAUDARA SEPERSUSUAN Yang didanai The Asia Foundation (TAF)
Inilah daftar lembaga beserta nama tokoh dan alamatnya yang meminta-minta (istilah Ulil Abshar Abdalla,
Koordinator JIL: mengajuÂkan proposal dana, lalu dalam bahasa pergaulan dipakai ungkapan partner dalam
kerjasama) kepada The Asia Foundation:
1. Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Ulil Abshar Abdalla dan Nong
Mahmada, Jl. Utan Kayu 68-H Jakarta Timur.
2. Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Dr Djohan Effendi dan Ulil Abshar Abdalla, Jl.
Percetakan Negara No. C-553, Jakarta Pusat.
3. Paramadina (Penggencaran Pluralisme Agama/Menyamakan Semua Agama), Kautsar Azhari Noer, Jl
TB Simatupang Pondok Indah Plaza III F5/7 Jakarta.
4. Majalah Syir'ah, Alamsyah M Dja'far, Jl Asembaris Raya M Kavling 8 Kebon Baru Tebet, Jakarta Selatan.
5. Lembaga Buruh, Tani dan Nelayan (LBTN), PP Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, Jl. Menteng Raya 62
Jakarta Pusat.
6. Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Pramono U Tantowi dan Rizal, PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya
62 Jakarta Pusat.
7. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Munawar, Hendrik dan Denden (Retas), Kantor PP Muhammadiyah, Jl.
Menteng Raya 62 Jakarta Pusat.
8. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3-UMY), Said
Tuhuleley, Budi dan Asykuri Chamim, Gedung AR Fachruddin Kampus UMY, Jl. Lingkar Selatan Tamantirto
Kasihan, Yogyakarta.
9. Lembaga Penelitian Universitas MuhamÂmadiyah Surakarta (UMS), Gustin, Jl. A Yani, Pabelan,
Surakarta, Jawa Tengah.
10. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh, Afdhal Jihad, Jl KH A Dahlan, Banda Aceh.
11. Pemuda Muhammadiyah (PM) Aceh, A Malik Musa, Jl. KHA Dahlan, Banda Aceh.
12. Fatayat NU, Dra Maria Ulfah Anshor, Marhamah dan Iin, Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.
13. Lakpesdam NU, Masykur Maskub, Imdadun Rahmat dan Taswan, Jl. H. Ramli No 29A Menteng Dalam, Tebet,
Jakarta Selatan.
14. PUAN Amal Hayati (Urusan Gender), Sinta Nuriya (istri Gus Dur), Jl. Warung Silah No. 30 RT 02/05
Kompleks Masjid Al-Munawwarah, Ciganjur, Jakarta.
15. Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Masdar F Mas'udi, Jl. Cililitan Kecil III/12,
Kramat Jati, Jakarta Timur.
16. Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta, Najib, Tompeyan TR III/133 Yogyakarta.
17. Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA) Padang, Sudarto, Jl Purus I No. 8A Padang, Sumatera Barat.
18. Gender Team for Ministry of Religious Affairs (GT-MORA), Dra Siti Musdah Mulia, Departemen Agama RI,
Jl. Lapangan Banteng No 4-6 Jakarta Pusat.
19. Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Dra Siti Musdah Mulia, Jl Matraman Masjid I.A Jakarta Selatan.
20. Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Dr
Masykuri Abdillah dan Hakim Jamil, Jl Ir H Juanda 95
Ciputat.
21. Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Rosatria, Jl Ir H Juanda 95
Ciputat.
22. Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
(urusan gender), Dr Amsal Bachtiar, Jl Ir H Juanda 95
Ciputat.
23. Desantara, Drs Bisri Effendi, Jl. Raya Citayam 35 Depok.
24. DPP Korps Perempuan Majelis Dakwah Islam (MDI) (Bidang Garapan tentang Gender), Hj Juniwati T
Maschjun Sofwan dan Nilmayetti, Jl Anggrek Nelly Murni
11A, Slipi Jakarta Barat.
25. Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP), Syafii Anwar dan Syafiq Hasyim, Jl Hang Lekiu I No. 09
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
26. Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Nurcholish Madjid, Jl Gatot Subroto
IV/Kemiri NO 102 Banjarmasin Kalsel.
27. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS), Amiruddin, M JadulMaula, Fikri dan Luth, Sorowajan Baru, Jl Pura
No 1 Yogyakarta.
28. Lembaga Kajian Pengembangan Masyarakat dan Pesantren (LKPMP) Makassar, Azhar Arsyad, Jl Faisal
Raya No 22 Blok 22B Makassar.
29. Lembaga Studi Aksi untuk Demokrasi (LS-ADI), Anick, Jl Ir H Juanda Gg Swadaya Rt 01/08 Pisangan,
Ciputat.
30. Rahima (Urusan Gender), Syafiq Hasyim, Jl Pancoran Timur IIA No 10 Pasar Minggu Jakarta Selatan, dan
masih banyak lagi.
(Sumber: Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Hartono Ahmad Jaiz, Darul Falah Jakarta, Cet. I, Juli 2004,
hlm.158-164).
Sumber : Majalah Tabligh
Hidayatullah, YPI Al Azhar, dan sebagainya. Selain menyusup mereka juga membentuk organisasi seperti JIL
dan Paramadina. Dengan cara ini mereka merusak Islam dari dalam dengan paham pluralisme, tafsir tematik/
hermeunetika (mentafsirkan al Qur'an dengan pola pikir sekuler), kesetaraan gender, filsafat serta aliran sufi
yang bertentangan dengan Islam.
Musuh Islam Berlabel Islam
Inilah daftar lembaga beserta nama tokoh dan alamatnya yang meminta-minta (istilah Ulil Abshar Abdalla,
Koordinator JIL: mengajuÂkan proposal dana, lalu dalam bahasa pergaulan dipakai ungkapan partner dalam
kerjasama) kepada The Asia Foundation
Ghirah dan kecemburuan kaum Muslimin terhadap ajaran Islam yang agung, dewasa ini betul-betul mengÂhadapi
ujian berat. Serbuan propaganda kekafiran, kemaksiatan dan hujatan bahkan pelecehan terhadap Islam mengalir
deras tak terbendung. Secara historis, memanglah wajar, mengingat perÂseÂteruan antara haq dan batil
memang tidak pernah berakhir, hingga akhir zaman.
Namun, yang amat menggelisahkan adalah realitas bahwa banyak kalangan Muslim yang dengan setia menjadi
penonton dari pertunÂjukan kafir di depan kelopak matanya. Tidak sedikit pula kaum Muslimin yang secara
tegas membantu menghina dan melecehkan ajaran Islam di hadapan orang-orang kafir! Hinaan dan pelecehan itu
terkadang diaplikasikan dalam bentuk tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti melakukan
sebuah kekafiran, terkadang juga berupa ucapan yang secara sadar atau tidak sadar sebenarnya adalah
hujatan terhadap Islam!
Yang paling parah lagi, bila itu dilakukan oleh orang yang memakai label Islam. Salah satunya adalah majalah
Syir'ah yang didanai oleh The Asia Foundation (TAF).
Mendengar nama TAF, tentu tidak heran lagi telinga kita, pastilah lembaga yang didanai bersenyawa dengan
kelompok Liberalis berkedok Islam lainnya. Sebab, hampir semua LSM yang didanai oleh TAF, produknya
sama, yaitu menggerogoti akidah Islam. Kekacauan yang terbesar adalah penyebaran racun-racun pluralisme,
liberalisme dan inklusivisme yang diusung oleh JIL dengan Komunitas Utan Kayunya, Paramadina dengan Fiqih
Lintas Agamanya dan Musdah Mulia dengan Kompilasi Hukum Islamnya.
Majalah Syir'ah, namanya sangat bagus, berarti jalan yang terang, diambil dari Al-Qur`an surat Al-Ma`idah
48: Wa likullin ja'alna minkum syir'atan wa minhajan terjemah Indonesianya: Untuk tiap-tiap umat di antara
kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Motonya pun cukup bagus, Mengurai Fakta Menenggang Beda: Berangkat dari kesadaran akan perbedaan.
Perbedaan sebagai ciptaan Allah yang abadi. Bukan untuk bertikai, melainkan untuk berlomba-lomba untuk
berbuat kebajikan.
Tapi akhlaknya buruk tidak seindah motoÂnya. Misinya kotor tak seterang namaÂnya. Setiap edisi yang
diterbitkan tiap bulan, selalu ada racun yang ditebarkan kepada pembaca di negara Muslim terbesar di
dunia ini. Topik racunnya pun monoton, yakni mencitranegatifkan umat Islam, mencitrapositifkan Yahudi dan Nasrani, serta melegalisasi pemurtadan umat Islam.
Ternyata Syir'ah tidak mengurai fakta menenggang beda, tapi mengurai fitnah menenggang pemurtadan. MAG, MAI
MEREKA ADALAH SAUDARA SEPERSUSUAN Yang didanai The Asia Foundation (TAF)
Inilah daftar lembaga beserta nama tokoh dan alamatnya yang meminta-minta (istilah Ulil Abshar Abdalla,
Koordinator JIL: mengajuÂkan proposal dana, lalu dalam bahasa pergaulan dipakai ungkapan partner dalam
kerjasama) kepada The Asia Foundation:
1. Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Ulil Abshar Abdalla dan Nong
Mahmada, Jl. Utan Kayu 68-H Jakarta Timur.
2. Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Dr Djohan Effendi dan Ulil Abshar Abdalla, Jl.
Percetakan Negara No. C-553, Jakarta Pusat.
3. Paramadina (Penggencaran Pluralisme Agama/Menyamakan Semua Agama), Kautsar Azhari Noer, Jl
TB Simatupang Pondok Indah Plaza III F5/7 Jakarta.
4. Majalah Syir'ah, Alamsyah M Dja'far, Jl Asembaris Raya M Kavling 8 Kebon Baru Tebet, Jakarta Selatan.
5. Lembaga Buruh, Tani dan Nelayan (LBTN), PP Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, Jl. Menteng Raya 62
Jakarta Pusat.
6. Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Pramono U Tantowi dan Rizal, PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya
62 Jakarta Pusat.
7. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Munawar, Hendrik dan Denden (Retas), Kantor PP Muhammadiyah, Jl.
Menteng Raya 62 Jakarta Pusat.
8. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3-UMY), Said
Tuhuleley, Budi dan Asykuri Chamim, Gedung AR Fachruddin Kampus UMY, Jl. Lingkar Selatan Tamantirto
Kasihan, Yogyakarta.
9. Lembaga Penelitian Universitas MuhamÂmadiyah Surakarta (UMS), Gustin, Jl. A Yani, Pabelan,
Surakarta, Jawa Tengah.
10. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh, Afdhal Jihad, Jl KH A Dahlan, Banda Aceh.
11. Pemuda Muhammadiyah (PM) Aceh, A Malik Musa, Jl. KHA Dahlan, Banda Aceh.
12. Fatayat NU, Dra Maria Ulfah Anshor, Marhamah dan Iin, Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.
13. Lakpesdam NU, Masykur Maskub, Imdadun Rahmat dan Taswan, Jl. H. Ramli No 29A Menteng Dalam, Tebet,
Jakarta Selatan.
14. PUAN Amal Hayati (Urusan Gender), Sinta Nuriya (istri Gus Dur), Jl. Warung Silah No. 30 RT 02/05
Kompleks Masjid Al-Munawwarah, Ciganjur, Jakarta.
15. Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Masdar F Mas'udi, Jl. Cililitan Kecil III/12,
Kramat Jati, Jakarta Timur.
16. Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta, Najib, Tompeyan TR III/133 Yogyakarta.
17. Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA) Padang, Sudarto, Jl Purus I No. 8A Padang, Sumatera Barat.
18. Gender Team for Ministry of Religious Affairs (GT-MORA), Dra Siti Musdah Mulia, Departemen Agama RI,
Jl. Lapangan Banteng No 4-6 Jakarta Pusat.
19. Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Dra Siti Musdah Mulia, Jl Matraman Masjid I.A Jakarta Selatan.
20. Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Dr
Masykuri Abdillah dan Hakim Jamil, Jl Ir H Juanda 95
Ciputat.
21. Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Rosatria, Jl Ir H Juanda 95
Ciputat.
22. Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
(urusan gender), Dr Amsal Bachtiar, Jl Ir H Juanda 95
Ciputat.
23. Desantara, Drs Bisri Effendi, Jl. Raya Citayam 35 Depok.
24. DPP Korps Perempuan Majelis Dakwah Islam (MDI) (Bidang Garapan tentang Gender), Hj Juniwati T
Maschjun Sofwan dan Nilmayetti, Jl Anggrek Nelly Murni
11A, Slipi Jakarta Barat.
25. Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP), Syafii Anwar dan Syafiq Hasyim, Jl Hang Lekiu I No. 09
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
26. Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Nurcholish Madjid, Jl Gatot Subroto
IV/Kemiri NO 102 Banjarmasin Kalsel.
27. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS), Amiruddin, M JadulMaula, Fikri dan Luth, Sorowajan Baru, Jl Pura
No 1 Yogyakarta.
28. Lembaga Kajian Pengembangan Masyarakat dan Pesantren (LKPMP) Makassar, Azhar Arsyad, Jl Faisal
Raya No 22 Blok 22B Makassar.
29. Lembaga Studi Aksi untuk Demokrasi (LS-ADI), Anick, Jl Ir H Juanda Gg Swadaya Rt 01/08 Pisangan,
Ciputat.
30. Rahima (Urusan Gender), Syafiq Hasyim, Jl Pancoran Timur IIA No 10 Pasar Minggu Jakarta Selatan, dan
masih banyak lagi.
(Sumber: Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Hartono Ahmad Jaiz, Darul Falah Jakarta, Cet. I, Juli 2004,
hlm.158-164).
Sumber : Majalah Tabligh
Islam Agama yang Bersih dari Kemusyrikan - Mengesakan Allah
Assalamu'alaikum wr wb
Islam Agama yang Bersih dari Kemusyrikan - Mengesakan Allah
Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan tidak menyembah sembahan lainnya selain Allah.
Seorang Muslim wajib beriman atau mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Sebagaimana TV, Mobil, Kulkas, dan lain-lain yang tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa ada pembuatnya, begitu pula langit, bumi, bintang, matahari, manusia, dan lain-lain. Tentu ada yang membuatnya, yaitu Allah!
“Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” [Al Kahfi:37]
“Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mu’min.” [Al ‘Ankabuut:44]
Setelah mempercayai keberadaan Tuhan, ummat Islam wajib beriman bahwa Tuhan itu satu.
Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan tidak menyembah sembahan lainnya selain Allah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”.
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.” [Al Kahfi:110]
Nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim juga mengajarkan tauhid kepada ummatnya, yaitu agar hanya menyembah satu Tuhan, yaitu: Allah, dan tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” [An Nahl:120]
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [An Nahl:123]
Luqman yang saleh pun dalam Al Qur’an diceritakan menasehati agar anaknya tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” [Luqman:13]
Seharusnya setiap orang tua mencontoh Luqman untuk menanamkan ajaran Tauhid kepada setiap anaknya.
Dalam Islam, mengesakan Allah adalah rukun yang pertama. Jika seorang masuk Islam, dia harus menyatakan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya:
“Hadis Ibnu Umar r.a: Nabi s.a.w telah bersabda: Islam ditegakkan di atas lima perkara yaitu mengesakan Allah, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan Haji “ [HR Bukhori-Muslim]
Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [Al An’aam:79]
“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” [Al An’aam:1]
Jika ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah, misalnya berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sia-sia, karena berhala itu bukanlah Tuhan yang Maha Pencipta. Justru berhala itulah yang dibuat oleh manusia:
“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.” [Al A’raaf:191]
“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa`at?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah:76]
Menyembah Yesus atau Isa sebagai Tuhan adalah dosa yang amat besar. Tuhan adalah Pencipta alam semesta, sedang Yesus atau Isa bukanlah pencipta alam semesta. Yesus atau Isa adalah seorang manusia yang dilahirkan dari rahim ibunya, Siti Maryam:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” [Al Maa-idah:72]
Sesungguhnya, kafirlah orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu bisa beranak dan dilahirkan layaknya manusia, sehingga ada lebih dari 1 Tuhan seperti Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Bagaimana Allah bisa punya anak, padahal dia tidak punya istri? Adakah (na’udzubillah min dzalik!) mereka mengira bahwa Tuhan berzina dengan Maryam sehingga punya anak di luar nikah? Allah SWT membantah kebohongan itu:
“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” [Al An’aam:101]
Dalam surat Al Ikhlas ditegaskan:
“Katakanlah: Allah itu Satu
Allah tempat meminta
Dia tidak beranak dan tidak diperanakan
Dan tak ada satu pun yang setara dengannya” [Al Ikhlas 1-4]
Sesungguhnya syirik atau mempersekutukan Tuhan adalah dosa yang amat besar:
“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [Al Hajj:31]
“Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”.” [Ar Ruum:42]
Jelas sekali bukan ayat Al Qur’an di atas bagi orang-orang yang berpikir atau berakal bahwa syirik itu adalah perbuatan sesat dan dosa.
Sesungguhnya syirik atau mempersekutukan Tuhan itu adalah dosa yang tidak
terampuni. Ini adalah perkataan Allah SWT sendiri yang tertulis di dalam kitab suci Al Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An Nisaa’:48]
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:116]
Jika seseorang melakukan kemusyrikan, maka sia-sialah amalnya meski mereka banyak berbuat hal-hal yang dianggap oleh manusia “baik”:
“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al An’aam:88]
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Az Zumar:65]
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.” [At Taubah:17]
Sesungguhnya, Tauhid (Mengakui Tuhan itu ada dan satu, yaitu Allah SWT), adalah hal paling penting dan pertama-tama yang harus dipelajari oleh seorang Muslim. Nabi Muhammad SAW selama 13 tahun masa-masa pertama kenabiannya, gigih menyampaikan ajaran Tauhid kepada orang-orang kafir Quraisy, begitu pula setelahnya.
Saya melihat banyak orang yang terlalu fokus pada masalah fikih, tasauf, dan lain-lain, tapi kurang mengkaji masalah Tauhid. Padahal Tauhid ini adalah dasar dari agama Islam. Akibatnya, aqidah ummat Islam jadi lemah. Betapa banyak orang yang sholat, tapi tetap korupsi, betapa banyak orang yang haji tapi tetap berzinah, dan bahkan ada muslimah yang berjilbab, akhirnya nikah dengan orang kafir dan menjadi kafir pula. Banyak orang yang murtad karena kurang beres Tauhid-nya. Itulah jika kita terlalu sibuk pada hal sekunder, sehingga lupa pada hal yang primer: Tauhid!
http://media-islam.or.id/2007/09/06/tauhid-%E2%80%93-mengesakan-allah/
Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu
Islam Agama yang Bersih dari Kemusyrikan - Mengesakan Allah
Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan tidak menyembah sembahan lainnya selain Allah.
Seorang Muslim wajib beriman atau mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Sebagaimana TV, Mobil, Kulkas, dan lain-lain yang tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa ada pembuatnya, begitu pula langit, bumi, bintang, matahari, manusia, dan lain-lain. Tentu ada yang membuatnya, yaitu Allah!
“Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” [Al Kahfi:37]
“Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mu’min.” [Al ‘Ankabuut:44]
Setelah mempercayai keberadaan Tuhan, ummat Islam wajib beriman bahwa Tuhan itu satu.
Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan tidak menyembah sembahan lainnya selain Allah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”.
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.” [Al Kahfi:110]
Nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim juga mengajarkan tauhid kepada ummatnya, yaitu agar hanya menyembah satu Tuhan, yaitu: Allah, dan tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” [An Nahl:120]
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [An Nahl:123]
Luqman yang saleh pun dalam Al Qur’an diceritakan menasehati agar anaknya tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” [Luqman:13]
Seharusnya setiap orang tua mencontoh Luqman untuk menanamkan ajaran Tauhid kepada setiap anaknya.
Dalam Islam, mengesakan Allah adalah rukun yang pertama. Jika seorang masuk Islam, dia harus menyatakan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya:
“Hadis Ibnu Umar r.a: Nabi s.a.w telah bersabda: Islam ditegakkan di atas lima perkara yaitu mengesakan Allah, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan Haji “ [HR Bukhori-Muslim]
Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [Al An’aam:79]
“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” [Al An’aam:1]
Jika ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah, misalnya berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sia-sia, karena berhala itu bukanlah Tuhan yang Maha Pencipta. Justru berhala itulah yang dibuat oleh manusia:
“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.” [Al A’raaf:191]
“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa`at?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah:76]
Menyembah Yesus atau Isa sebagai Tuhan adalah dosa yang amat besar. Tuhan adalah Pencipta alam semesta, sedang Yesus atau Isa bukanlah pencipta alam semesta. Yesus atau Isa adalah seorang manusia yang dilahirkan dari rahim ibunya, Siti Maryam:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” [Al Maa-idah:72]
Sesungguhnya, kafirlah orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu bisa beranak dan dilahirkan layaknya manusia, sehingga ada lebih dari 1 Tuhan seperti Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Bagaimana Allah bisa punya anak, padahal dia tidak punya istri? Adakah (na’udzubillah min dzalik!) mereka mengira bahwa Tuhan berzina dengan Maryam sehingga punya anak di luar nikah? Allah SWT membantah kebohongan itu:
“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” [Al An’aam:101]
Dalam surat Al Ikhlas ditegaskan:
“Katakanlah: Allah itu Satu
Allah tempat meminta
Dia tidak beranak dan tidak diperanakan
Dan tak ada satu pun yang setara dengannya” [Al Ikhlas 1-4]
Sesungguhnya syirik atau mempersekutukan Tuhan adalah dosa yang amat besar:
“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [Al Hajj:31]
“Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”.” [Ar Ruum:42]
Jelas sekali bukan ayat Al Qur’an di atas bagi orang-orang yang berpikir atau berakal bahwa syirik itu adalah perbuatan sesat dan dosa.
Sesungguhnya syirik atau mempersekutukan Tuhan itu adalah dosa yang tidak
terampuni. Ini adalah perkataan Allah SWT sendiri yang tertulis di dalam kitab suci Al Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An Nisaa’:48]
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:116]
Jika seseorang melakukan kemusyrikan, maka sia-sialah amalnya meski mereka banyak berbuat hal-hal yang dianggap oleh manusia “baik”:
“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al An’aam:88]
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Az Zumar:65]
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.” [At Taubah:17]
Sesungguhnya, Tauhid (Mengakui Tuhan itu ada dan satu, yaitu Allah SWT), adalah hal paling penting dan pertama-tama yang harus dipelajari oleh seorang Muslim. Nabi Muhammad SAW selama 13 tahun masa-masa pertama kenabiannya, gigih menyampaikan ajaran Tauhid kepada orang-orang kafir Quraisy, begitu pula setelahnya.
Saya melihat banyak orang yang terlalu fokus pada masalah fikih, tasauf, dan lain-lain, tapi kurang mengkaji masalah Tauhid. Padahal Tauhid ini adalah dasar dari agama Islam. Akibatnya, aqidah ummat Islam jadi lemah. Betapa banyak orang yang sholat, tapi tetap korupsi, betapa banyak orang yang haji tapi tetap berzinah, dan bahkan ada muslimah yang berjilbab, akhirnya nikah dengan orang kafir dan menjadi kafir pula. Banyak orang yang murtad karena kurang beres Tauhid-nya. Itulah jika kita terlalu sibuk pada hal sekunder, sehingga lupa pada hal yang primer: Tauhid!
http://media-islam.or.id/2007/09/06/tauhid-%E2%80%93-mengesakan-allah/
Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu
Islam Agama yang Diridhai Allah SWT
Assalamu'alaikum wr wb,
Islam Agama yang Diridhai Allah SWT
Islam adalah agama orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan tidak menyembah tuhan selain Allah:
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [Ali Imran:64]
Sesungguhnya Islam sudah ada sejak zaman Nabi Adam dan Nabi Ibrahim:
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” [Al Hajj:78]
Sesungguhnya Ibrahim dan Nabi-nabi lainnya beragama Islam. Bukan orang yang musyrik:
“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” [Al Baqarah:135]
“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.“ [Al Baqarah:140]
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” [Al An’aam:161]
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [An Nahl:123]
Bahkan Ibrahim mewasiatkan keturunannya agar tidak mati kecuali dalam agama Islam:
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” [Al Baqarah:132]
Agama yang diridhai Allah hanya Islam:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [Ali Imran:19]
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An Nuur:55]
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” [Ali Maa-idah:3]
Tidak diterima agama selain Islam:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali Imran:85]
Hanya Islam agama yang bersih dari kemusyrikan. Islam hanya menyembah satu Tuhan yaitu Allah. Hanya mengabdi pada Allah. Segala kebaikan kepada makhluk lain tak lepas karena cinta kepada Allah:
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [Az Zumar:3]
Media Islam
http://media-islam.or.id
Islam Agama yang Diridhai Allah SWT
Islam adalah agama orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan tidak menyembah tuhan selain Allah:
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [Ali Imran:64]
Sesungguhnya Islam sudah ada sejak zaman Nabi Adam dan Nabi Ibrahim:
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” [Al Hajj:78]
Sesungguhnya Ibrahim dan Nabi-nabi lainnya beragama Islam. Bukan orang yang musyrik:
“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” [Al Baqarah:135]
“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.“ [Al Baqarah:140]
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” [Al An’aam:161]
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [An Nahl:123]
Bahkan Ibrahim mewasiatkan keturunannya agar tidak mati kecuali dalam agama Islam:
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” [Al Baqarah:132]
Agama yang diridhai Allah hanya Islam:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [Ali Imran:19]
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An Nuur:55]
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” [Ali Maa-idah:3]
Tidak diterima agama selain Islam:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali Imran:85]
Hanya Islam agama yang bersih dari kemusyrikan. Islam hanya menyembah satu Tuhan yaitu Allah. Hanya mengabdi pada Allah. Segala kebaikan kepada makhluk lain tak lepas karena cinta kepada Allah:
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [Az Zumar:3]
Media Islam
http://media-islam.or.id
Buih Itu Bernama Umat Islam
Buih Itu Bernama Umat Islam
Dalam laporannya terbaru, The Pew Forum on Religion and Public Life merilis bahwa jumlah populasi kaum muslimin dunia melonjak hampir 100 % dalam beberapa tahun terakhir ini. “Rata-rata pada setiap Negara bertambah dari semula 1 juta menjadi 1,8 juta penganut,” tulis laporan terbaru tentang riset yang dilakukan selama tiga tahun itu.
Angka pastinya, menurut laporan itu, jumlah kaum muslimin di seluruh dunia saat ini mencapai 1,57 miliar jiwa. "Kini, hampir satu dari empat penduduk dunia mempraktikkan ajaran Islam," tulis laporan tersebut dengan judul "Mapping the Global Muslim Population."
Melihat angka statistik di atas memang cukup fantastis. Kaum muslimin bisa berbesar hati. Mengapa tidak? Angka 1, 57 M bukanlah angka biasa melainkan luar biasa. Ini menunjukkan bahwa kekuatan kaum muslimin dunia sangat diperhitungkan oleh dunia Barat umumnya, dan khususnya kaum kuffar. Dan sekali lagi membuktikan bahwa Barat dan sekutunya terus memantau perkembangan dan populasi kaum muslimin belahan dunia setiap saat.
Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin dengan jumlah yang sedemikian besar? Sudahkah mereka menjadi bangsa yang disegani oleh musuh-musuhnya? Ataukah sebaliknya? Tulisan ini mencoba untuk menyelami betapa besarnya penderitaan yang dirasakan oleh kaum muslimin sekalipun mereka adalah bangsa yang besar.
Isyarat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam
Empat belas abad yang silam, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam telah mengabarkan kepada para shahabatnya tentang kondisi kaum muslimin sepeninggalnya nanti. Isyarat yang beliau sampaikan itu bisa kita rasakan hari ini kebenarannya.
Imam Abu Dawud –rahimahullah- dalam Kitab Sunannya meriwayatkan dari shahabat Tsauban –radhiyallahu 'anhu- ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam :
"Hampir saja tiba (masanya) umat-umat akan mengeroyok kalian sebagaimana orang orang yang lapar mengeroyok makanan di meja makan."Ada seseorang yang bertanya, "Apakah karena jumlah kami yang sedikit waktu itu wahai Rasulullah (sehingga mereka berani mengeroyok kami)? Rasulullah menjawab, "Bahkan kalian pada waktu itu sangat banyak. Akan tetapi kalian adalah bebuihan sebagai mana bebuihan di lautan. Sungguh Allah im akan mencabut dari dada-dada musuh kalian rasa takut (terhadap kalian), serta mencampakkan ke dalam hati kalian penyakit wahn.” Lantas ada yang bertanya "Wahai Rasulullah, apa penyakit wahn tersebut." Rasulullah bersabda, "Cinta dunia dan takut mati." (HR. Abu Dawud no. 4299, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, 11/684.)
Keadaan inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah empat belas abad yang lalu yaitu jumlah kaum muslimin yang besar tetapi lemah sebagaimana lemahnya bebuihan di lautan lepas, terombang-ambing tiada arah, tujuan, dan pegangan. Dipermainkan oleh angin dan ombak besar. Dipecah kecil-kecil dan kemudian selanjutnya dihempaskan ke permukaan karang yang keras dan tandus. Demikianlah secara logika bila digambarkan nasib bebuihan di lautan; lemah dan tertindas. Sekalipun jumlahnya sangat banyak.
lepas dari data-data statistik di atas, yang jelas jumlah kaum muslimin yang mencapai 1,5 M dunia secara kualitas masih menyedihkan. Negeri-negeri kaum muslimin secara umum adalah populasi dengan jumlah penduduk miskin yang tinggi; seperti nasib umat Islam di Afrika (Ethopia, Nigeria, Somalia), Asia (Pakistan, Bangladesh, India, termasuk Indonesia). Padahal Negeri-negeri kaum muslimin tersebut secara umum memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Bahkan tingkat kebodohan di dunia Islam masih tinggi.
Secara politik jumlah yang besar tersebut pun tidak membuat umat Islam menjadi negara
adi daya di dunia. Meskipun sudah merdeka secara formal, namun sebagian besar Negeri ‑ negeri kaum muslimin masih belum independen, masih dijajah, tertindas dan tunduk kepada kepentingan Negara-negara Imperialis (Barat). Sebagian besar penguasa Negeri-negeri kaum muslimin adalah penguasa dictator yang represif dan mengabdi (kalau tidak dikatakan menjilat) kepada ‘kepentingan' Barat.
Maka tidaklah mengherankan meskipun jumlahnya besar, kaum muslimin tidak mampu membebaskan dirinya atau membebaskan saudara-saudaranya yang ditindas di pelbagai kawasan dunia Islam seperti Chechnya, Irak, Afghanistan, Pakistan, Thailand Selatan, Philipina Selatan, Turkistan Timur (Xianjiang), Bosnia, Palestina, bahkan di Indonesia sekalipun. Umat Islam belum bisa berbuat banyak menghentikan kekejaman Israel di jalur Ghaza yang membunuh ribuan umat Islam dalam beberapa minggu.
Padahal jika dihitung jumlah penduduk, Israel hanya 8 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah (gabungan) kaum muslimin Iran (74 juta), lrak (30 juta), Suriah (20 juta), Saudi Arabia (25 juta), Yaman (23 juta ), Mesir (79 juta) dan populasi muslim hampir mencapai 251 juta. Belum lagi Indonesia yang diperkirakan mencapai (200 juta) jiwa umat Islam. Artinya kalaulah diambiil 10 % saja menjadi tentara, berarti ada 25 juta tentara yang bisa digerakkan untuk membebaskan Palestina. Tapi itu sama sekali tidak terjadi. Karena tidak ada yang memobilisasi tentara yang demikian banyak itu.
Apa yang telah digambarkan oleh hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam di atas sangatlah tepat. Seperti makanan yang dikerubungi oleh musuh-musuhnya yang buas. Padahal jumlah kaum muslimin sangat banyak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menggambarkan umat Islam bagaikan bebuihan di lautan, banyak tetapi lemah.
Siapa Yang Mesti Bertanggung Jawab?
Suatu hari pada pertengan bulan Syawal tahun 2 H, seorang wanita muslimah yang sedang berdagang di Pasar Qainuqa' diganggu oleh seorang pedagang Yahudi hingga tersingkap auratnya. Ketika wanita tersebut marah ia justru ditertawakan orang-orang Yahudi sepasar. Bersamaan dengan itu, seorang pemuda muslim yang melihat kejadian itu ikut marah, lalu ia menghardik si Yahudi yang usil tadi bahkan akhirnya ia membunuhnya. Orang-orang Yahudi di pasar tersebut murka dan ramai-ramai mengeroyok si pemuda serta membantainya.
Peristiwa tersebut menggemparkan Kota Madinah, dan sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Beliau pun mengumpulkan para shahabat untuk meneliti sebab musabab terbunuhnya seorang muslim di Pasar Yahudi Qainuqa'. Setelah melalui penyelidikan yang cermat dan mendalam, akhirnya Rasulullah menyimpulkan bahwa Yahudi Qainuqa' telah melanggar perjanjian antara mereka dengan kaum muslimin, dimana telah disepakati sejak kedatangan Rasulullah ke Madinah bahwasanya mereka dan kaum muslimin tidak boleh saling mengganggu atau membantu pihak lain yang mengganggu.
Selanjutnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam memakai baju perangnya memimpin kaum muslimin untuk memerangi Yahudi Qainuqa'. Selama 15 malam, wilayah Qainuqa' dikepung oleh kaum muslimin, ternyata mereka yang semula sombong dengan keberanian dan kegagahan, kini ketakutan dan tidak berani untuk melawan. Sehingg akhirnya mereka menyerah dan diusiir dari Madinah ke Khaibar tanpa pertumpahan darah. Sekali lagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menunjukkan kebesaran jiwanya dalam menghadapi Yahudi Qainuqa'. Namun demikian, hukum tetap ditegakkan terhadap pengkhianat perjanjian dengan tidak mengizinkan Yahudi Qainuqa' tinggal di sekitar Madinah lagi. Inilah ketegasan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam terhadap pengkhianatan.
Dari fakta sejarah di atas, ada satu pelajaran penting tentang Izzul Islam wal Muslimin (Kemuliaan Islam dan Muslimin). Betapa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam tidak membiarkan gangguan fisik dalam bentuk apa pun terhadap kaum muslimin. Mengganggu seorang wanita muslimah berarti mengganggu seluruh kaum muslimin. Melecehkan kehormatan seorang wanita muslimah berarti melecehkan kehormatan Islam dan kaum muslimin.
Sekarang coba kita saksikan, ribuan muslimah dilecehkan, kehormatannya diinjak-injak, auratnya dipermalukan, suami-suami mereka dibunuh tanpa alasan yang haq, rumahrumah mereka dibombardir, dirusak, dan karakter mereka dibunuh. Kita hanya bisa diam seribu bahasa, berpangku tangan tanpa tindakan, sekalipun hanya membela dengan lantunan doa. Malah sebagian besar kaum muslimin sibuk membahas politik, ekonomi, kesejahteraan diri dan keluarga mereka. Adapun terhadap saudara-saudara mereka, tidak ada 'sedikitpun' sikap pembelaan mereka, malah 'terkadang' justru menjatuhkan. Bahkan ironisnya ketika ada seseorang 'yang dibunuh' bukan karena mempertahankan diennya (keIslamannya), mereka bela mati-matian, dibentuk team pencari fakta, dan ditumpas sampai ke akar-akarnya. Namun, terbunuh karena mempertahankan agamanya, mereka tuduh sebagai teroris, penjahat, serta tuduhan keji lainnya. Kini sudah saatnya, thoifah manshuroh dimunculkan. Genderang perang salib baru telah ditabuh dan diumumkan secara blakbelakan oleh orang-orang kuffar. Saatnya kaum muslimin merapatkan barisan mereka, untuk mengambil bagian mereka dari 'kancah pertanggungjawaban' mereka di hadapan kaum muslimin terlebih kelak di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wallahu A’lam bish Shawab (Azhar)
Sumber :
Media Islam An-Najah No.05/VI/Maret/2010
Dalam laporannya terbaru, The Pew Forum on Religion and Public Life merilis bahwa jumlah populasi kaum muslimin dunia melonjak hampir 100 % dalam beberapa tahun terakhir ini. “Rata-rata pada setiap Negara bertambah dari semula 1 juta menjadi 1,8 juta penganut,” tulis laporan terbaru tentang riset yang dilakukan selama tiga tahun itu.
Angka pastinya, menurut laporan itu, jumlah kaum muslimin di seluruh dunia saat ini mencapai 1,57 miliar jiwa. "Kini, hampir satu dari empat penduduk dunia mempraktikkan ajaran Islam," tulis laporan tersebut dengan judul "Mapping the Global Muslim Population."
Melihat angka statistik di atas memang cukup fantastis. Kaum muslimin bisa berbesar hati. Mengapa tidak? Angka 1, 57 M bukanlah angka biasa melainkan luar biasa. Ini menunjukkan bahwa kekuatan kaum muslimin dunia sangat diperhitungkan oleh dunia Barat umumnya, dan khususnya kaum kuffar. Dan sekali lagi membuktikan bahwa Barat dan sekutunya terus memantau perkembangan dan populasi kaum muslimin belahan dunia setiap saat.
Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin dengan jumlah yang sedemikian besar? Sudahkah mereka menjadi bangsa yang disegani oleh musuh-musuhnya? Ataukah sebaliknya? Tulisan ini mencoba untuk menyelami betapa besarnya penderitaan yang dirasakan oleh kaum muslimin sekalipun mereka adalah bangsa yang besar.
Isyarat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam
Empat belas abad yang silam, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam telah mengabarkan kepada para shahabatnya tentang kondisi kaum muslimin sepeninggalnya nanti. Isyarat yang beliau sampaikan itu bisa kita rasakan hari ini kebenarannya.
Imam Abu Dawud –rahimahullah- dalam Kitab Sunannya meriwayatkan dari shahabat Tsauban –radhiyallahu 'anhu- ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam :
"Hampir saja tiba (masanya) umat-umat akan mengeroyok kalian sebagaimana orang orang yang lapar mengeroyok makanan di meja makan."Ada seseorang yang bertanya, "Apakah karena jumlah kami yang sedikit waktu itu wahai Rasulullah (sehingga mereka berani mengeroyok kami)? Rasulullah menjawab, "Bahkan kalian pada waktu itu sangat banyak. Akan tetapi kalian adalah bebuihan sebagai mana bebuihan di lautan. Sungguh Allah im akan mencabut dari dada-dada musuh kalian rasa takut (terhadap kalian), serta mencampakkan ke dalam hati kalian penyakit wahn.” Lantas ada yang bertanya "Wahai Rasulullah, apa penyakit wahn tersebut." Rasulullah bersabda, "Cinta dunia dan takut mati." (HR. Abu Dawud no. 4299, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, 11/684.)
Keadaan inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah empat belas abad yang lalu yaitu jumlah kaum muslimin yang besar tetapi lemah sebagaimana lemahnya bebuihan di lautan lepas, terombang-ambing tiada arah, tujuan, dan pegangan. Dipermainkan oleh angin dan ombak besar. Dipecah kecil-kecil dan kemudian selanjutnya dihempaskan ke permukaan karang yang keras dan tandus. Demikianlah secara logika bila digambarkan nasib bebuihan di lautan; lemah dan tertindas. Sekalipun jumlahnya sangat banyak.
lepas dari data-data statistik di atas, yang jelas jumlah kaum muslimin yang mencapai 1,5 M dunia secara kualitas masih menyedihkan. Negeri-negeri kaum muslimin secara umum adalah populasi dengan jumlah penduduk miskin yang tinggi; seperti nasib umat Islam di Afrika (Ethopia, Nigeria, Somalia), Asia (Pakistan, Bangladesh, India, termasuk Indonesia). Padahal Negeri-negeri kaum muslimin tersebut secara umum memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Bahkan tingkat kebodohan di dunia Islam masih tinggi.
Secara politik jumlah yang besar tersebut pun tidak membuat umat Islam menjadi negara
adi daya di dunia. Meskipun sudah merdeka secara formal, namun sebagian besar Negeri ‑ negeri kaum muslimin masih belum independen, masih dijajah, tertindas dan tunduk kepada kepentingan Negara-negara Imperialis (Barat). Sebagian besar penguasa Negeri-negeri kaum muslimin adalah penguasa dictator yang represif dan mengabdi (kalau tidak dikatakan menjilat) kepada ‘kepentingan' Barat.
Maka tidaklah mengherankan meskipun jumlahnya besar, kaum muslimin tidak mampu membebaskan dirinya atau membebaskan saudara-saudaranya yang ditindas di pelbagai kawasan dunia Islam seperti Chechnya, Irak, Afghanistan, Pakistan, Thailand Selatan, Philipina Selatan, Turkistan Timur (Xianjiang), Bosnia, Palestina, bahkan di Indonesia sekalipun. Umat Islam belum bisa berbuat banyak menghentikan kekejaman Israel di jalur Ghaza yang membunuh ribuan umat Islam dalam beberapa minggu.
Padahal jika dihitung jumlah penduduk, Israel hanya 8 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah (gabungan) kaum muslimin Iran (74 juta), lrak (30 juta), Suriah (20 juta), Saudi Arabia (25 juta), Yaman (23 juta ), Mesir (79 juta) dan populasi muslim hampir mencapai 251 juta. Belum lagi Indonesia yang diperkirakan mencapai (200 juta) jiwa umat Islam. Artinya kalaulah diambiil 10 % saja menjadi tentara, berarti ada 25 juta tentara yang bisa digerakkan untuk membebaskan Palestina. Tapi itu sama sekali tidak terjadi. Karena tidak ada yang memobilisasi tentara yang demikian banyak itu.
Apa yang telah digambarkan oleh hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam di atas sangatlah tepat. Seperti makanan yang dikerubungi oleh musuh-musuhnya yang buas. Padahal jumlah kaum muslimin sangat banyak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menggambarkan umat Islam bagaikan bebuihan di lautan, banyak tetapi lemah.
Siapa Yang Mesti Bertanggung Jawab?
Suatu hari pada pertengan bulan Syawal tahun 2 H, seorang wanita muslimah yang sedang berdagang di Pasar Qainuqa' diganggu oleh seorang pedagang Yahudi hingga tersingkap auratnya. Ketika wanita tersebut marah ia justru ditertawakan orang-orang Yahudi sepasar. Bersamaan dengan itu, seorang pemuda muslim yang melihat kejadian itu ikut marah, lalu ia menghardik si Yahudi yang usil tadi bahkan akhirnya ia membunuhnya. Orang-orang Yahudi di pasar tersebut murka dan ramai-ramai mengeroyok si pemuda serta membantainya.
Peristiwa tersebut menggemparkan Kota Madinah, dan sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Beliau pun mengumpulkan para shahabat untuk meneliti sebab musabab terbunuhnya seorang muslim di Pasar Yahudi Qainuqa'. Setelah melalui penyelidikan yang cermat dan mendalam, akhirnya Rasulullah menyimpulkan bahwa Yahudi Qainuqa' telah melanggar perjanjian antara mereka dengan kaum muslimin, dimana telah disepakati sejak kedatangan Rasulullah ke Madinah bahwasanya mereka dan kaum muslimin tidak boleh saling mengganggu atau membantu pihak lain yang mengganggu.
Selanjutnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam memakai baju perangnya memimpin kaum muslimin untuk memerangi Yahudi Qainuqa'. Selama 15 malam, wilayah Qainuqa' dikepung oleh kaum muslimin, ternyata mereka yang semula sombong dengan keberanian dan kegagahan, kini ketakutan dan tidak berani untuk melawan. Sehingg akhirnya mereka menyerah dan diusiir dari Madinah ke Khaibar tanpa pertumpahan darah. Sekali lagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menunjukkan kebesaran jiwanya dalam menghadapi Yahudi Qainuqa'. Namun demikian, hukum tetap ditegakkan terhadap pengkhianat perjanjian dengan tidak mengizinkan Yahudi Qainuqa' tinggal di sekitar Madinah lagi. Inilah ketegasan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam terhadap pengkhianatan.
Dari fakta sejarah di atas, ada satu pelajaran penting tentang Izzul Islam wal Muslimin (Kemuliaan Islam dan Muslimin). Betapa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam tidak membiarkan gangguan fisik dalam bentuk apa pun terhadap kaum muslimin. Mengganggu seorang wanita muslimah berarti mengganggu seluruh kaum muslimin. Melecehkan kehormatan seorang wanita muslimah berarti melecehkan kehormatan Islam dan kaum muslimin.
Sekarang coba kita saksikan, ribuan muslimah dilecehkan, kehormatannya diinjak-injak, auratnya dipermalukan, suami-suami mereka dibunuh tanpa alasan yang haq, rumahrumah mereka dibombardir, dirusak, dan karakter mereka dibunuh. Kita hanya bisa diam seribu bahasa, berpangku tangan tanpa tindakan, sekalipun hanya membela dengan lantunan doa. Malah sebagian besar kaum muslimin sibuk membahas politik, ekonomi, kesejahteraan diri dan keluarga mereka. Adapun terhadap saudara-saudara mereka, tidak ada 'sedikitpun' sikap pembelaan mereka, malah 'terkadang' justru menjatuhkan. Bahkan ironisnya ketika ada seseorang 'yang dibunuh' bukan karena mempertahankan diennya (keIslamannya), mereka bela mati-matian, dibentuk team pencari fakta, dan ditumpas sampai ke akar-akarnya. Namun, terbunuh karena mempertahankan agamanya, mereka tuduh sebagai teroris, penjahat, serta tuduhan keji lainnya. Kini sudah saatnya, thoifah manshuroh dimunculkan. Genderang perang salib baru telah ditabuh dan diumumkan secara blakbelakan oleh orang-orang kuffar. Saatnya kaum muslimin merapatkan barisan mereka, untuk mengambil bagian mereka dari 'kancah pertanggungjawaban' mereka di hadapan kaum muslimin terlebih kelak di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wallahu A’lam bish Shawab (Azhar)
Sumber :
Media Islam An-Najah No.05/VI/Maret/2010
Sikap Lemah Kepada Penjajah
Sikap Lemah Kepada Penjajah
Meskipun ditunda hingga Juni, rencana kehadiran Obama kemarin telah menunjukkan kepada kita bagaimana sikap lemah pemimpin negeri ini terhadap penjajah. Sikap yang membuat kita terus dijajah oleh negara bajingan seperti AS dan sekutunya. Padahal sangat jelas AS adalah muhariban fi’lan yang secara langsung menduduki , membunuh, menyiksa umat Islam dalam perang mereka di Irak, Pakistan dan Afghanistan. Amerika juga secara nyata telah mendukung entitas Zionis Israel yang menjajah dan membunuh kaum muslim di Palestina. Di Indonesia, AS menjadi pelaku perampokan kekayaan alam Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua.
Namun, kita menyaksikan bagaimana pemimpin negeri ini menyambut sang pembantai umat Islam sebagai tamu terhormat. Bahkan menyatakan ada yang menyatakan umat Islam masih membutuhkan Amerika karena negara Adi Daya. Pernyataan yang menyakitkan , bagaima seorang muslim menyatakan bahwa umat Islam membutuhkan pembunuh umat Islam dan perampok kekayaan alam negeri Islam ?
Hal ini mencerminkan sikap pengecut , lemah, dan ketergantungan pemimpin negeri ini kepada musuh-musuh kita. Padahal Allah SWT dengan sangat tegas telah melarang kita menjadikan musuh-musuh Allah menjadi wali, penolong, pemimpin dan sahabat umat Islam. Bukankah Allah SWT telah berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. [TQS. Ali ‘Imran (3): 118]
Allah swt juga telah melarang kita untuk cendrung kepada orang –orang dzalim yang akan menghantarkan kita pada siksa api neraka. Bayangkan , cendrung kepada orang yang dzolim saja sudah dilarang oleh Allah SWT , apalagi kemudian bersahabat dan menjadikan mereka sebagai tamu terhormat. Firman Allah SWT :
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.(QS al Huud : 113) .Dalam tafsir Jalalain dijelaskan cendrung kepada orang yang zalim itu berarti memiliki kecondongan hati kepada orang-orang yang dzolim dengan rasa cinta dan berbaik-baik dengan mereka atau ridho terhadap perbuatan mereka.
Sikap pengecut terutama para penguasa negeri Islam terhadap penjajah inilah yang membuat penjajahan terhadap umat Islam terus berlangsung. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang digambarkan oleh Rosulullah saw sebagai penyakit ‘ al wahn’ yang menjangkiti umat Islam , yakni penyakit cinta dunia dan takut mati. Inilah yang membuat umat Islam, meskipun jumlah banyak , tapi lemah, bagaikan buih dilautan.
Penyakit al wahn ini juga yang membuat seorang muslim kemudian menggadaikan idealismenya demi jabatannya dalam sistem kufur yang rapuh dan busuk. Menganggap menerima Obama tidak masalah. Padahal pemerintah AS yang sekarang ini dipimpin oleh Obama telah membunuh jutaan umat Islam di berbagai kawasan dunia. Sementara Rosulullah saw sendiri menegaskan tentang pentingnya nyawa seorang muslim. Sampai-sampai Rosulullah bersabda : Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan bagi Allah dibanding dengan terbunuhnya seorang muslim.”
“al Wahn” ini pulalah yang telah membuat seorang muslim tidak merasa berdosa menerima Obama. Padahal Obama telah menjadi pembela setia Israel , bahkan berjanji untuk dengan segala cara memujudkan mimpi Israel. “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin kemanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” kata Obama dalam sebuah acara yang disponsori oleh Kedutaan Besar Israel di Washington untuk menghormati hari jadi negara Israel yang ke-60.
Satu hal yang kita lupakan kemuliaan kita bukanlah tergantung kepada orang-orang kafir , apalagi penjajah umat Islam. Di dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.(QS Faathir: 10) Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan tentang ayat ini : barang siapa yang menginginkan al ‘izzah ( kemuliaan, kedudukan, kemenangan) di dunia dan di akhirat , maka dia harus terikat dengan pada ketaatan kepada Allah SWT.Dikarenakan Allah-lah Penguasa di dunia dan di akhirat.
Sangat jelas kemuliaaan akan kita raih kalau kita bersandar kepada Allah SWT dengan mentaati perintah-Nya, dengan cara itu kita bisa lepas dari penjajahan. Penjajahan terjadi karena kita tidak taat kepada syariah-Nya. Kita terpecah belah, tidak bersatu padahal itu adalah perintah Allah SWT untuk bersatu dengan dasar aqidah Islam tanpa tanpa melihat bangsa, warna kulit, ras, atau geografinya.
Penjajahan ekonomi terjadi karena kita menggunakan prinsip-prinsip kapitalis seperti ribawi dalam perekonomian kita yang dengan keras dilarang Allah SWT. Mata uang kita rentan menghadapi goncangan, akibat kita masih menginduk kepada dollar. Padahal dengan dinar(emas) dan dirham (perak) – mata uang yang berdasarkan syariah- akan lebih menjamin stabilitas mata uang.
Demikian juga, eksploitasi terhadap kekayaan alam kita terjadi, karena kita melanggar syariat Islam yang mengatakan barang tambang yang jumlahnya melimpah adalah merupakan pemilikan umum (al milkiyah al ‘ammah) , merupakan milik rakyat yang tidak boleh diberikan kepada individu , apalagi swasta asing. Pemilikan umum harus dikelola oleh negara dengan baik dan hasilnya digunakan untuk kemashlahatan rakyat.
Kita juga masih dijajah karena kita masih tunduk pada penguasa-penguasa yang menjadi kaki tangan asing,yang dengan rela menjual negaranya , bahkan membiarkan rakyatnya terbunuh, untuk menyenangkan tuan-tuan besarnya - penjajah kapitalis. Penguasa-penguasa antek seperti ini terpilih karena kita menggunakan sistem demokrasi yang menjadi alat penjajahan negara-negara Imprialis untuk mendudukkan agen-agen mereka.
Belum cukupkah kita mengalami kesulitan dan kehinaan dengan kehidupan kita sekarang ? Kehidupan yang tidak mendapat keberkahan Islam, tidak mendapat keberkahan hidup dibawah naungan Khilafah Islam yang menerapkan syariah Islam ? Atau kita tetap diam, sementara kita , anak dan cucu kita telah menjadi korban konspirasi yang makin meningkat melalui tangan-tangan kaum imperialis dan antek-antek mereka? Belum tibakah waktunya bagi kita untuk bergerak dan merubah realita buruk ini dengan jalan melengserkan para penguasa komprador dan menegakkan pemerintahan Khilafah? (Farid Wadjdi)
sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/21/sikap-lemah-kepada-penjajah
Meskipun ditunda hingga Juni, rencana kehadiran Obama kemarin telah menunjukkan kepada kita bagaimana sikap lemah pemimpin negeri ini terhadap penjajah. Sikap yang membuat kita terus dijajah oleh negara bajingan seperti AS dan sekutunya. Padahal sangat jelas AS adalah muhariban fi’lan yang secara langsung menduduki , membunuh, menyiksa umat Islam dalam perang mereka di Irak, Pakistan dan Afghanistan. Amerika juga secara nyata telah mendukung entitas Zionis Israel yang menjajah dan membunuh kaum muslim di Palestina. Di Indonesia, AS menjadi pelaku perampokan kekayaan alam Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua.
Namun, kita menyaksikan bagaimana pemimpin negeri ini menyambut sang pembantai umat Islam sebagai tamu terhormat. Bahkan menyatakan ada yang menyatakan umat Islam masih membutuhkan Amerika karena negara Adi Daya. Pernyataan yang menyakitkan , bagaima seorang muslim menyatakan bahwa umat Islam membutuhkan pembunuh umat Islam dan perampok kekayaan alam negeri Islam ?
Hal ini mencerminkan sikap pengecut , lemah, dan ketergantungan pemimpin negeri ini kepada musuh-musuh kita. Padahal Allah SWT dengan sangat tegas telah melarang kita menjadikan musuh-musuh Allah menjadi wali, penolong, pemimpin dan sahabat umat Islam. Bukankah Allah SWT telah berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. [TQS. Ali ‘Imran (3): 118]
Allah swt juga telah melarang kita untuk cendrung kepada orang –orang dzalim yang akan menghantarkan kita pada siksa api neraka. Bayangkan , cendrung kepada orang yang dzolim saja sudah dilarang oleh Allah SWT , apalagi kemudian bersahabat dan menjadikan mereka sebagai tamu terhormat. Firman Allah SWT :
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.(QS al Huud : 113) .Dalam tafsir Jalalain dijelaskan cendrung kepada orang yang zalim itu berarti memiliki kecondongan hati kepada orang-orang yang dzolim dengan rasa cinta dan berbaik-baik dengan mereka atau ridho terhadap perbuatan mereka.
Sikap pengecut terutama para penguasa negeri Islam terhadap penjajah inilah yang membuat penjajahan terhadap umat Islam terus berlangsung. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang digambarkan oleh Rosulullah saw sebagai penyakit ‘ al wahn’ yang menjangkiti umat Islam , yakni penyakit cinta dunia dan takut mati. Inilah yang membuat umat Islam, meskipun jumlah banyak , tapi lemah, bagaikan buih dilautan.
Penyakit al wahn ini juga yang membuat seorang muslim kemudian menggadaikan idealismenya demi jabatannya dalam sistem kufur yang rapuh dan busuk. Menganggap menerima Obama tidak masalah. Padahal pemerintah AS yang sekarang ini dipimpin oleh Obama telah membunuh jutaan umat Islam di berbagai kawasan dunia. Sementara Rosulullah saw sendiri menegaskan tentang pentingnya nyawa seorang muslim. Sampai-sampai Rosulullah bersabda : Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan bagi Allah dibanding dengan terbunuhnya seorang muslim.”
“al Wahn” ini pulalah yang telah membuat seorang muslim tidak merasa berdosa menerima Obama. Padahal Obama telah menjadi pembela setia Israel , bahkan berjanji untuk dengan segala cara memujudkan mimpi Israel. “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin kemanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” kata Obama dalam sebuah acara yang disponsori oleh Kedutaan Besar Israel di Washington untuk menghormati hari jadi negara Israel yang ke-60.
Satu hal yang kita lupakan kemuliaan kita bukanlah tergantung kepada orang-orang kafir , apalagi penjajah umat Islam. Di dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.(QS Faathir: 10) Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan tentang ayat ini : barang siapa yang menginginkan al ‘izzah ( kemuliaan, kedudukan, kemenangan) di dunia dan di akhirat , maka dia harus terikat dengan pada ketaatan kepada Allah SWT.Dikarenakan Allah-lah Penguasa di dunia dan di akhirat.
Sangat jelas kemuliaaan akan kita raih kalau kita bersandar kepada Allah SWT dengan mentaati perintah-Nya, dengan cara itu kita bisa lepas dari penjajahan. Penjajahan terjadi karena kita tidak taat kepada syariah-Nya. Kita terpecah belah, tidak bersatu padahal itu adalah perintah Allah SWT untuk bersatu dengan dasar aqidah Islam tanpa tanpa melihat bangsa, warna kulit, ras, atau geografinya.
Penjajahan ekonomi terjadi karena kita menggunakan prinsip-prinsip kapitalis seperti ribawi dalam perekonomian kita yang dengan keras dilarang Allah SWT. Mata uang kita rentan menghadapi goncangan, akibat kita masih menginduk kepada dollar. Padahal dengan dinar(emas) dan dirham (perak) – mata uang yang berdasarkan syariah- akan lebih menjamin stabilitas mata uang.
Demikian juga, eksploitasi terhadap kekayaan alam kita terjadi, karena kita melanggar syariat Islam yang mengatakan barang tambang yang jumlahnya melimpah adalah merupakan pemilikan umum (al milkiyah al ‘ammah) , merupakan milik rakyat yang tidak boleh diberikan kepada individu , apalagi swasta asing. Pemilikan umum harus dikelola oleh negara dengan baik dan hasilnya digunakan untuk kemashlahatan rakyat.
Kita juga masih dijajah karena kita masih tunduk pada penguasa-penguasa yang menjadi kaki tangan asing,yang dengan rela menjual negaranya , bahkan membiarkan rakyatnya terbunuh, untuk menyenangkan tuan-tuan besarnya - penjajah kapitalis. Penguasa-penguasa antek seperti ini terpilih karena kita menggunakan sistem demokrasi yang menjadi alat penjajahan negara-negara Imprialis untuk mendudukkan agen-agen mereka.
Belum cukupkah kita mengalami kesulitan dan kehinaan dengan kehidupan kita sekarang ? Kehidupan yang tidak mendapat keberkahan Islam, tidak mendapat keberkahan hidup dibawah naungan Khilafah Islam yang menerapkan syariah Islam ? Atau kita tetap diam, sementara kita , anak dan cucu kita telah menjadi korban konspirasi yang makin meningkat melalui tangan-tangan kaum imperialis dan antek-antek mereka? Belum tibakah waktunya bagi kita untuk bergerak dan merubah realita buruk ini dengan jalan melengserkan para penguasa komprador dan menegakkan pemerintahan Khilafah? (Farid Wadjdi)
sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/21/sikap-lemah-kepada-penjajah
RIDDAH
RIDDAH
Oleh: Muhammad Rahmat Kurnia |
Riddah. Itulah kata yang terkait dengan tanda kekafiran yang ada dalam diri seorang Muslim. Riddah menurut bahasa berarti kembali ke jalan tempat ia sebelumnya datang. Sedangkan, menurut istilah syara, riddah bermakna kembalinya seorang Muslim dari Islam kepada kekufuran (ruju' al-muslim 'an al-islam ila al-kufri). Karenanya, berbicara masalah tanda kekafiran sebenarnya sedang berbicara tentang tanda riddah (Syarh Kitab at-Tawhid, Abdullah bin Muhammad al-Ghaniman, Jilid 130, hal. 7). Makna ini dapat dipahami di antaranya dari Alquran surat al-Baqarah:217, al-Maidah:4, dan an-Nahl:109.
Allah SWT memberitakan tentang adanya orang yang keluar kepada kekufuran setelah sebelumnya beriman (TQS. Muhammad:25, at-Tawbah: 65-66 dan 74). Bahkan, sepeninggal Rasulullah SAW ada yang kembali kepada kekufuran dengan menolak kewajiban mengeluarkan zakat, atau mengingkari kenabian Muhammad SAW dengan dalih Nabi tidak mungkin mati. Mereka adalah orang-orang yang belum menghunjam keimanan dalam dadanya. Para sahabat pun bersikap tegas terhadap mereka hingga mereka kembali kepada Islam. Melihat hal ini bukan hal aneh apabila ada di antara umat Islam yang memiliki tanda-tanda riddah dalam dirinya. Yang penting, siapa pun perlu memahaminya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Na'udzu billah min dzalik.
Dalam kitab Mafahim Aqidah Fil Islam, ad-Dimyati menyebutkan bahwa tanda-tanda kekufuran dapat terjadi dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan (i'tiqad). Hanya saja, terkait dengan i'tiqad tidak dapat diketahui secara lahiriah kecuali bila ia menunjukkannya dalam ucapan atau perbuatan. Berdasarkan hal ini, tidak mungkin kita menghakimi bahwa ia benar-benar telah kufur dalam i'tiqad kecuali apabila benar-benar secara lahir telah tampak kekufurannya.
Banyak tanda-tanda kekufuran itu. Di antaranya, pertama, mendustakan ajaran Islam baik ajaran yang terdapat dalam Alquran maupun yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah SAW (Ta'liqat 'ala syarhi lum'atu al-I'tiqad, As-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi, Juz 1, hal. 23). Hal ini diantaranya ditegaskan dalam surat al-Insyiqaq ayat 21-22. Termasuk di dalamnya ragu terhadap akidah Islam, serta ragu terhadap perkara yang qath'i (pasti). Misalnya mengatakan Allah SWT mempunyai sekutu, Alquran itu bukan kalamullah, hukum Allah itu tidak ada, dll. Termasuk juga di dalamnya ingkar terhadap perkara-perkara yang diatur Islam seperti ingkar terhadap shalat dengan mengatakan bahwa shalat itu sekadar masalah social acceptance (penerimaan sosial), bukan kewajiban. Juga, mengingkari kewajiban zakat, puasa, haji, kewajiban jihad, keharaman khamr, judi, zina dan sebagainya.
Kedua, menjadikan manusia sebagai pembuat hukum. Hukum digali bukan dari hukum Allah yang ada dalam ajaran Islam, melainkan digali dari pikiran dan logika manusia itu sendiri. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhukum kepada thaghut padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya“ (TQS. An-Nisaa:60). Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya menyebutkan ”Ayat ini diturunkan saat kaum munafik tidak mau berhukum kepada Rasulullah melainkan kepada penguasa jahiliyah (hukkam al-jahiliyah), yakni Ka'ab al-Asyraf. Ayat ini secara umum merupakan pengingkaran dari Allah SWT terhadap keimanan seseorang yang berhukum pada selain apa yang diturunkan dalam Alquran dan as-Sunnah” (Tafsir Alquran al-'Azhim, Juz 2, hal. 88). Hal senada disebutkan juga dalam surat Lukman:21, an-Nur:51, dan an-Nisa:65.
Ketiga, membenci sesuatu yang ada dalam ajaran Islam. ”Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Alalah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (yaitu Al-Qur'an) lalu Allah menghapus pahala amal-amal mereka.” (TQS. Muhammad 8-9). Makna 'benci kepada apa yang diturunkan Allah' adalah 'mereka tidak menghendakinya dan tidak menyukainya' (Tafsir Alquran al-'Azhim, Juz 7, hal. 310). Imam Ath-Thabari menegaskan, 'Mereka membenci kitab Kami yang telah Kami turunkan kepada Nabi Kami Muhammad SAW, anti terhadapnya, seraya mendustakannya, dan mengatakan ini sihir yang nyata' (Jami' al-Bayan fi Ta'wil Alquran, Juz 22, hal. 162). Sesungguhnya membenci Rasulullah atau apa yang berasal dari Allah dan shahih dari Rasulullah termasuk tanda riddah yang dapat mengeluarkannya dari Islam (Al-Mufashol fi Ahkam al-Hijrah, Ali Ibn Nayif asy-Syuhud, Juz 4, hal. 106). Benci terhadap jilbab sebagai ajaran Islam, kriminalisasi poligami sebagai penolakan hukum yang dibolehkan Islam, kriminalisasi janggut, pernyataan 'Islam adalah ideologi setan (evil ideology)', benci terhadap syariat Islam termasuk menolak peraturan daerah yang dianggap berasal dari syariat Islam, kalau syariat Islam diterapkan maka yang pertama kali menjadi korban adalah perempuan, hukum Islam diskriminatif, hukum rajam/potong tangan itu kejam, kembali kepada syariat Islam berarti kembali ke abad 2 H, dll termasuk tanda-tanda yang dapat menjerumuskan pelakunya kedalam kekufuran.
Keempat, iman kepada sebagian ajaran Islam dan kufur terhadap sebagian lainnya. Misalnya, paham sekulerisme. Paham ini mengakui ajaran Islam dalam masalah ritual seperti shalat, zakat, haji, puasa, dll tetapi menolak hukum Islam mengatur masalah sosial, politik, ekonomi, dan persoalan publik lain. Lalu, untuk mengisi kekosongan hukum dalam masalah publik dibuatlah hukum lain yang bukan berasal dari Islam. ”Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan RasulNya dan bermaksud meperbedakan antara Allah dan RasulNya dengan mengatakan, “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain) serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kufur). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan” (TQS. An-Nisaa:150-151). Imam Ath-Thabari menuliskan, 'Mereka mengatakan ”kami mengimani ini tapi mengingkari yang itu”. Lalu, mereka menjadikan jalan menuju kesesatan yang mereka buat-buat dan bid'ah yang mereka ada-adakan. Namun demikian, mereka tetap mengaku-aku beriman. Padahal, Allah menegaskan Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya' (Jami' al-Bayan fi Ta'wil Alquran, Juz 9, hal. 353).
Kelima, menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (TQS. Ali 'Imran: 28; an-Nisa: 139, 144; al-Maidah: 51, 57, 81). Di antara penampakan perwalian terhadap kaum kafir adalah menjadikan mereka sebagai pemberi bantuan dan pertolongan atas kaum Muslim, serta pujian kaum Muslim kepada kaum kafir. Ini bertentangan dengan Islam serta termasuk dalam salah satu sebab terjadinya riddah (al-Irsyad Ila Shahih al-I'tiqad, hal. 351). Kedudukan sebagian orang yang berada pada pihak negara-negara kafir dalam menghadapi kaum Muslimin serta membantu mereka dalam melawan kaum Muslim menjadikan pelakunya sebagai bagian dari kaum kafir itu sendiri. Hal ini bentuk kekufuran yang bertentangan dengan millah Islam (Al-Mufashol fi Ahkam al-Hijrah, Ali Ibn Nayif asy-Syuhud, Juz 5, hal. 145).
Keenam, menyerukan paham-paham yang bertentangan dengan Islam. Misalnya, menyerukan sekulerisme, pluralisme, liberalisme, demokrasi, HAM ala Barat, kesukuan, wathoniyah (nasionalisme, kebangsaan), dll. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak termasuk golonganku oang yang mengarah pada ashobiyah (golongan) dan tidak termasuk golonganku orang yang berperang karena ashobiyah dan tidak termasuk golonganku orang yang mati karena ashobiyah" (HR. Dawud).
Masih banyak tanda-tanda yang dapat menjerumuskan seseorang kepada kekufuran. Hal terpenting adalah siapapun umat Muhammad SAW berkewajiban menghindari dan membuang jauh-jauh tanda-tanda tersebut. Semoga kita terselamatkan dari hal berbahaya tersebut.[] sumber mediaumat.com
Wassalamualaykum wr wb
Oleh: Muhammad Rahmat Kurnia |
Riddah. Itulah kata yang terkait dengan tanda kekafiran yang ada dalam diri seorang Muslim. Riddah menurut bahasa berarti kembali ke jalan tempat ia sebelumnya datang. Sedangkan, menurut istilah syara, riddah bermakna kembalinya seorang Muslim dari Islam kepada kekufuran (ruju' al-muslim 'an al-islam ila al-kufri). Karenanya, berbicara masalah tanda kekafiran sebenarnya sedang berbicara tentang tanda riddah (Syarh Kitab at-Tawhid, Abdullah bin Muhammad al-Ghaniman, Jilid 130, hal. 7). Makna ini dapat dipahami di antaranya dari Alquran surat al-Baqarah:217, al-Maidah:4, dan an-Nahl:109.
Allah SWT memberitakan tentang adanya orang yang keluar kepada kekufuran setelah sebelumnya beriman (TQS. Muhammad:25, at-Tawbah: 65-66 dan 74). Bahkan, sepeninggal Rasulullah SAW ada yang kembali kepada kekufuran dengan menolak kewajiban mengeluarkan zakat, atau mengingkari kenabian Muhammad SAW dengan dalih Nabi tidak mungkin mati. Mereka adalah orang-orang yang belum menghunjam keimanan dalam dadanya. Para sahabat pun bersikap tegas terhadap mereka hingga mereka kembali kepada Islam. Melihat hal ini bukan hal aneh apabila ada di antara umat Islam yang memiliki tanda-tanda riddah dalam dirinya. Yang penting, siapa pun perlu memahaminya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Na'udzu billah min dzalik.
Dalam kitab Mafahim Aqidah Fil Islam, ad-Dimyati menyebutkan bahwa tanda-tanda kekufuran dapat terjadi dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan (i'tiqad). Hanya saja, terkait dengan i'tiqad tidak dapat diketahui secara lahiriah kecuali bila ia menunjukkannya dalam ucapan atau perbuatan. Berdasarkan hal ini, tidak mungkin kita menghakimi bahwa ia benar-benar telah kufur dalam i'tiqad kecuali apabila benar-benar secara lahir telah tampak kekufurannya.
Banyak tanda-tanda kekufuran itu. Di antaranya, pertama, mendustakan ajaran Islam baik ajaran yang terdapat dalam Alquran maupun yang dijelaskan dalam sunnah Rasulullah SAW (Ta'liqat 'ala syarhi lum'atu al-I'tiqad, As-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi, Juz 1, hal. 23). Hal ini diantaranya ditegaskan dalam surat al-Insyiqaq ayat 21-22. Termasuk di dalamnya ragu terhadap akidah Islam, serta ragu terhadap perkara yang qath'i (pasti). Misalnya mengatakan Allah SWT mempunyai sekutu, Alquran itu bukan kalamullah, hukum Allah itu tidak ada, dll. Termasuk juga di dalamnya ingkar terhadap perkara-perkara yang diatur Islam seperti ingkar terhadap shalat dengan mengatakan bahwa shalat itu sekadar masalah social acceptance (penerimaan sosial), bukan kewajiban. Juga, mengingkari kewajiban zakat, puasa, haji, kewajiban jihad, keharaman khamr, judi, zina dan sebagainya.
Kedua, menjadikan manusia sebagai pembuat hukum. Hukum digali bukan dari hukum Allah yang ada dalam ajaran Islam, melainkan digali dari pikiran dan logika manusia itu sendiri. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhukum kepada thaghut padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya“ (TQS. An-Nisaa:60). Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya menyebutkan ”Ayat ini diturunkan saat kaum munafik tidak mau berhukum kepada Rasulullah melainkan kepada penguasa jahiliyah (hukkam al-jahiliyah), yakni Ka'ab al-Asyraf. Ayat ini secara umum merupakan pengingkaran dari Allah SWT terhadap keimanan seseorang yang berhukum pada selain apa yang diturunkan dalam Alquran dan as-Sunnah” (Tafsir Alquran al-'Azhim, Juz 2, hal. 88). Hal senada disebutkan juga dalam surat Lukman:21, an-Nur:51, dan an-Nisa:65.
Ketiga, membenci sesuatu yang ada dalam ajaran Islam. ”Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Alalah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (yaitu Al-Qur'an) lalu Allah menghapus pahala amal-amal mereka.” (TQS. Muhammad 8-9). Makna 'benci kepada apa yang diturunkan Allah' adalah 'mereka tidak menghendakinya dan tidak menyukainya' (Tafsir Alquran al-'Azhim, Juz 7, hal. 310). Imam Ath-Thabari menegaskan, 'Mereka membenci kitab Kami yang telah Kami turunkan kepada Nabi Kami Muhammad SAW, anti terhadapnya, seraya mendustakannya, dan mengatakan ini sihir yang nyata' (Jami' al-Bayan fi Ta'wil Alquran, Juz 22, hal. 162). Sesungguhnya membenci Rasulullah atau apa yang berasal dari Allah dan shahih dari Rasulullah termasuk tanda riddah yang dapat mengeluarkannya dari Islam (Al-Mufashol fi Ahkam al-Hijrah, Ali Ibn Nayif asy-Syuhud, Juz 4, hal. 106). Benci terhadap jilbab sebagai ajaran Islam, kriminalisasi poligami sebagai penolakan hukum yang dibolehkan Islam, kriminalisasi janggut, pernyataan 'Islam adalah ideologi setan (evil ideology)', benci terhadap syariat Islam termasuk menolak peraturan daerah yang dianggap berasal dari syariat Islam, kalau syariat Islam diterapkan maka yang pertama kali menjadi korban adalah perempuan, hukum Islam diskriminatif, hukum rajam/potong tangan itu kejam, kembali kepada syariat Islam berarti kembali ke abad 2 H, dll termasuk tanda-tanda yang dapat menjerumuskan pelakunya kedalam kekufuran.
Keempat, iman kepada sebagian ajaran Islam dan kufur terhadap sebagian lainnya. Misalnya, paham sekulerisme. Paham ini mengakui ajaran Islam dalam masalah ritual seperti shalat, zakat, haji, puasa, dll tetapi menolak hukum Islam mengatur masalah sosial, politik, ekonomi, dan persoalan publik lain. Lalu, untuk mengisi kekosongan hukum dalam masalah publik dibuatlah hukum lain yang bukan berasal dari Islam. ”Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan RasulNya dan bermaksud meperbedakan antara Allah dan RasulNya dengan mengatakan, “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain) serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kufur). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan” (TQS. An-Nisaa:150-151). Imam Ath-Thabari menuliskan, 'Mereka mengatakan ”kami mengimani ini tapi mengingkari yang itu”. Lalu, mereka menjadikan jalan menuju kesesatan yang mereka buat-buat dan bid'ah yang mereka ada-adakan. Namun demikian, mereka tetap mengaku-aku beriman. Padahal, Allah menegaskan Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya' (Jami' al-Bayan fi Ta'wil Alquran, Juz 9, hal. 353).
Kelima, menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (TQS. Ali 'Imran: 28; an-Nisa: 139, 144; al-Maidah: 51, 57, 81). Di antara penampakan perwalian terhadap kaum kafir adalah menjadikan mereka sebagai pemberi bantuan dan pertolongan atas kaum Muslim, serta pujian kaum Muslim kepada kaum kafir. Ini bertentangan dengan Islam serta termasuk dalam salah satu sebab terjadinya riddah (al-Irsyad Ila Shahih al-I'tiqad, hal. 351). Kedudukan sebagian orang yang berada pada pihak negara-negara kafir dalam menghadapi kaum Muslimin serta membantu mereka dalam melawan kaum Muslim menjadikan pelakunya sebagai bagian dari kaum kafir itu sendiri. Hal ini bentuk kekufuran yang bertentangan dengan millah Islam (Al-Mufashol fi Ahkam al-Hijrah, Ali Ibn Nayif asy-Syuhud, Juz 5, hal. 145).
Keenam, menyerukan paham-paham yang bertentangan dengan Islam. Misalnya, menyerukan sekulerisme, pluralisme, liberalisme, demokrasi, HAM ala Barat, kesukuan, wathoniyah (nasionalisme, kebangsaan), dll. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak termasuk golonganku oang yang mengarah pada ashobiyah (golongan) dan tidak termasuk golonganku orang yang berperang karena ashobiyah dan tidak termasuk golonganku orang yang mati karena ashobiyah" (HR. Dawud).
Masih banyak tanda-tanda yang dapat menjerumuskan seseorang kepada kekufuran. Hal terpenting adalah siapapun umat Muhammad SAW berkewajiban menghindari dan membuang jauh-jauh tanda-tanda tersebut. Semoga kita terselamatkan dari hal berbahaya tersebut.[] sumber mediaumat.com
Wassalamualaykum wr wb
Langganan:
Postingan (Atom)
Pengikut
Arsip Blog
-
▼
2011
(57)
-
▼
Januari
(57)
- Allahu Akbar! Tentara Daulah Islam Irak Terlihat M...
- Waspadai Iblis Si Perusak Amal
- Syariat yang Tidak Adil, Islam Atau Kristen?
- Kesesatan Paham Murji’ah Dalam Contoh Kehidupan Se...
- Jilbab, Lambang Kebebasan Hakiki
- Dalam Pertarungan Antara Amerika dan Cina di Korea...
- Jihad: Kewajiban yang Hilang
- Mengaku Tak Menembaki Abu Tholut, Densus Berdusta!!
- Para Pengkhianat Islam: Mustafa Kemal Pasha
- Toleransi Islam vs Toleransi Barat
- Buya Syafii Maarif, Mengapa Mengajak Berguru kepad...
- Human Rights Watch Menyerang Syariah Islam !
- Haji Malcolm X dan Persatuan Umat
- Syariah Islam Ancaman Buat Amerika Serikat ?
- Gelombang Perubahan Menuju Khilafah Tidak Terbendung
- HAM: Alat Propaganda dan Penjajahan Barat
- HARAMNYA MUSLIM TERLIBAT NATAL
- Survey: Mayoritas Muslim Dunia Inginkan Peran Isla...
- Survey Roy Morgan Research : 52 Persen Rakyat Indo...
- Idul Adha Kristiani: Yesus Disembelih Menebus Dosa...
- Dalam Memerangi Dakwah Islam, Otoritas Menyita Kit...
- Sekularisasi Agama, Liberalisme, Kapitalisme Ekono...
- WikiLeaks: AS=Penjajah, Para Penguasa Muslim Pelay...
- Berapa Hak Waris Seorang Isteri?
- Hak Warisan Pria dan Wanita Dua Banding Satu, Adil...
- Laki-laki dan Haramnya Emas
- Proyek Deradikalisasi : Upaya Menjinakkan Umat Islam
- Ruu Intelijen 2010: Bentuk Tirani Baru?
- Kita Bisa Menjadi Negara Adi Daya !
- Makanan Haram Menghalangi Terkabulnya Doa
- Mental Syirik
- Apakah Puasa Sehari Tanggal 11 Muharram Disunnahkan?
- Introspeksi Anak Salah Asuh dan Salah Gaul
- Awas! Makna Jihad, Khilafah dan Thaghut Akan Direv...
- Mau Surga atau Neraka, Kenalilah dengan Siapa Engk...
- Soal Jawab: Hubungan AS dengan Cina
- Umat Islam : Umat yang Adil Bukan Moderat !
- Haram Hukumnya Mengucapkan Selamat Natal
- Perbedaan Mandi Janabat Wanita dengan Laki-laki
- Densusleaks, Bocornya SMS Gorries Mere
- KH Murhali Barda: Saya Hanya Ingin Tegakkan Syaria...
- Refleksi Akhir Tahun 2010
- Menggagas Sistem Pro Ibu
- Bocoran Situs Wikileaks Menegaskan Keantekan Para ...
- Muslimah dalam Keterasingan
- Profesor Amerika Ramalkan Dolar Hancur
- Menggugurkan Janin Yang Divonis Cacat Fisik
- Liberalisasi Energi di Balik Pencabutan Subsidi
- Pernak-Pernik Seputar Wudhu
- Selamatkan Indonesia Dengan Syariah Menuju Indones...
- Utang, ‘Bom Waktu’ Amerika
- Uang Panas Kuras Anggaran Negara RI
- Warga Dunia Serbu Koin Perak
- [mediaumat] Arim Nasim: Century dan KS Perampokan ...
- 10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru Masehi
- Negara-negara Skandinavia Berusaha Larang Hizbut T...
- Yesus Adalah Seorang Muslim
-
▼
Januari
(57)
